Virus Yamagata Penyebab Influenza Tak Lagi Ditemukan sejak 2020, Kok Bisa?
JAKARTA, iNews.id – Dunia kesehatan global mencatat sejarah baru dalam penanganan penyakit menular. Salah satu garis keturunan virus influenza yang telah bersirkulasi selama puluhan tahun, yaitu virus influenza B/Yamagata, secara resmi dinyatakan tidak lagi terdeteksi secara alami di dunia sejak Maret 2020.
Fenomena langka ini membawa perubahan besar pada peta kesehatan dunia, terutama dalam strategi vaksinasi tahunan. Ya, karena fakta ini vaksin influenza yang kini direkomendasikan ialah vaksin influenza trivalen.
Seperti apa penjelasan lengkap mengenai informasi ini? Simak beritanya hanya di artikel ini.
Penyebab Virus Yamagata Punah
Hilangnya virus Yamagata diyakini sebagai 'efek samping' positif dari pandemi Covid-19. Protokol kesehatan yang ketat secara global, seperti penggunaan masker, pembatasan perjalanan, dan jaga jarak fisik, ternyata tidak hanya menghambat penyebaran SARS-CoV2, tetapi juga berhasil memutus rantai penularan virus Yamagata hingga ke titik kepunahan.
Berbeda dengan influenza tipe A yang memiliki inang pada hewan (seperti burung atau babi), virus influenza tipe B hanya menyerang manusia. Karakteristik inilah yang membuatnya sangat rentan terhadap intervensi perilaku manusia.
Ketika mobilitas manusia terhenti total pada 2020, virus Yamagata kehilangan inang untuk terus bereplikasi. Ini yang membuat virus tidak lagi ditemukan hingga sekarang.
Rekomendasi WHO: Kembali ke Vaksin Influenza Trivalen
Menanggapi hilangnya virus ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi terbaru bagi produsen farmasi untuk beralih dari vaksin kuadrivalen (4 strain) kembali ke vaksin trivalen (3 strain).
Ahli Alergi dan Imunologi Prof. Iris Rengganis menjelaskan, langkah ini diambil berdasarkan hasil pemantauan rutin WHO terhadap pergerakan virus influenza di seluruh dunia.
"WHO secara rutin melakukan pemantauan, dan sejak 2020 virus Yamagata tidak lagi ditemukan. Jadi, vaksin influenza trivalen dinilai lebih efektif di situasi sekarang," ujar Prof. Iris dalam diskusi kesehatan di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Vaksin trivalen terbaru ini dirancang untuk melawan tiga jenis virus yang masih aktif bersirkulasi di alam, yaitu:
- Influenza A (H1N1)
- Influenza A (H3N2)
- Influenza B (Victoria)
Status Transisi di Indonesia dan Global
Meskipun penggunaan vaksin trivalen tergolong baru bagi masyarakat Indonesia, beberapa negara maju telah lebih dulu menerapkannya. Amerika Serikat telah beralih sejak musim flu 2024-2025, disusul oleh negara-negara Eropa pada 2025-2026. Di Asia Tenggara, Thailand juga telah mengadopsi kebijakan serupa.
"Penggunaan vaksin trivalen di Indonesia saat ini masih dalam status transisi," tambah Prof. Iris.
"Artinya, kalau diberikan vaksin kuadrivalen, ya, tidak masalah. Tapi, kalau diberikan vaksin trivalen, itu lebih efektif sesuai dengan kondisi sekarang," tambah Prof Iris.
Sementara itu, pertanyaan besar yang muncul adalah risiko bagi manusia jika virus Yamagata tiba-tiba kembali muncul sementara komponen pelindungnya sudah dihapus dari vaksin.
Menjawab kekhawatiran tersebut, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI dr. Sukamto, Sp.PD-KAI menekankan pentingnya sistem GISRS (Global Influenza Surveillance and Response System). Sistem surveilans global ini bekerja aktif 24 jam setiap hari untuk memantau perubahan genetik virus flu di seluruh dunia.
"Kalau ada perubahan epidemiologi, rekomendasi vaksin bisa langsung direvisi. Sistemnya dinamis, tidak kaku," tegas dr. Sukamto.
"Dan dari sisi produsen vaksin, kami pun siap dengan perubahan tersebut. Kalau memang ada strain baru, ya, kami perbaiki demi menjaga kesehatan masyarakat," ungkap Vidi Agiorno selaku Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma.
Risiko Laboratorium Tetap Diwaspadai
Meskipun sudah tidak ada di alam, para ilmuwan mengingatkan bahwa virus Yamagata masih tersimpan di berbagai laboratorium penelitian. Selain itu, penggunaan vaksin flu jenis Live Attenuated Influenza Vaccine (LAIV) yang masih mengandung virus hidup yang dilemahkan di beberapa wilayah dunia juga terus diawasi ketat agar tidak memicu reintroduksi virus ke lingkungan.
Punahnya virus Yamagata menjadi bukti nyata bahwa intervensi kesehatan masyarakat yang terintegrasi dapat mengubah sejarah evolusi patogen secara permanen. Dunia kini memasuki era baru perlindungan influenza yang lebih efisien dan tepat sasaran.







