Kiamat Gawai China di AS! Trump Siap Cekik Total Huawei, ZTE, hingga Router Wi-Fi
Gelombang perseteruan teknologi antara dua raksasa ekonomi dunia tak kunjung mereda. Pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat (AS) kini menyiapkan manuver paling radikal: memboikot penuh seluruh impor peralatan telekomunikasi dan pengawasan video buatan pabrikan raksasa China.
Pada Jumat, 3 April 2026, Komisi Komunikasi Federal (FCC) secara resmi mengusulkan aturan pelarangan impor berkelanjutan terhadap perangkat dari perusahaan China yang bahkan telah mengantongi izin penjualan sebelum tahun 2022. Langkah sapu bersih ini menyasar daftar hitam "Covered List" sejak 2021 yang dihuni oleh Huawei, ZTE, Hytera, Hikvision, dan Dahua—perusahaan-perusahaan yang dituding sebagai ancaman keamanan nasional AS.
Pada November 2022, regulator AS hanya memblokir persetujuan model baru dari kelima perusahaan tersebut. Kini, perangkat model lama yang sebelumnya bebas keluar-masuk AS akan diharamkan. "Melarang kelanjutan impor dan pemasaran peralatan yang sebelumnya disahkan... diperlukan untuk melindungi keamanan nasional dengan memitigasi risiko pada sektor komunikasi AS," tegas FCC dalam pernyataan resminya.
Aturan ketat ini dipastikan akan memutus urat nadi distribusi produk elektronik China di AS. Gempuran regulasi ini tak datang tiba-tiba. Desember tahun lalu, FCC memblokir impor semua model drone baru China, disusul pelarangan impor model baru router konsumen (alat penghubung Wi-Fi) buatan China pekan lalu. Hikvision sempat melawan balik lewat gugatan hukum pada Desember, menuding FCC "berusaha untuk secara retrospektif membatasi otorisasi hukum tanpa dasar hukum atau pembuktian yang memadai." Namun, pengadilan banding AS menolak gugatan tersebut pada Februari 2025. FCC berjanji warga AS masih bisa menggunakan perangkat yang sudah terlanjur dibeli, namun penutupan keran impor akan segera dieksekusi begitu aturan diketuk palu guna menghindari lonjakan impor dadakan.
Pukulan AS nyatanya tidak hanya menyasar produk jadi (end-user), tetapi memukul langsung ke hulu peradaban digital: industri pembuatan cip (chipmaking). Laporan Reuters mengungkap sebuah kelompok politisi lintas partai di AS merancang draf "MATCH Act". Targetnya sangat spesifik: mencekik SMIC, Hua Hong, Huawei, CXMT, dan YMTC (produsen cip papan atas China) agar tak bisa memperoleh apalagi menyervis alat manufaktur cip canggih yang tak mampu mereka buat sendiri.
Sasaran antara dari undang-undang ini adalah ASML, raksasa teknologi asal Belanda pembuat mesin litografi DUV (Deep Ultraviolet)—mesin seharga triliunan rupiah yang mutlak dibutuhkan untuk mencetak sirkuit cip mikroskopis. Meski pemerintah Belanda (di bawah tekanan AS) telah melarang ASML mengekspor mesin paling mutakhirnya ke China, mereka masih bisa menjual lini DUV lama ke sana. Draf MATCH Act akan menghentikan celah ini, sekaligus memastikan perusahaan sekutu AS menghadapi pembatasan yang sama dengan pesaing di AS.
Bagi ASML, ini adalah bencana komersial. China adalah pasar terbesar mereka pada 2025, menyumbang 33 persen penjualan global. Akibat rentetan sanksi ini, angka tersebut diproyeksikan anjlok menjadi 20 persen tahun ini. Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington, Hikvision, hingga pihak ASML memilih bungkam menolak memberikan komentar.



