Jangan Marah Bila Doa Belum Dikabulkan, Kenali Dulu 10 Penyebabnya Ini!
Mengapa doayang terus dipanjatkan belum juga dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta'ala? Kondisi tersebut seharusnya tidak membuat seorang mukmin berputus asa, apalagi berburuk sangka atau marahkepada Allah.
Al-Qur'an secara tegas memerintahkan manusia untuk berdoa dan menjanjikan pengabulan atas permohonan hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS Ghafir: 60).
Ayat ini menegaskan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah sekaligus bukti ketundukan seorang hamba kepada Allah. Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, meskipun permohonannya belum terwujud.
Namun, ada nasihat menarik dari ulama besar bernama Syekh Ibrahim bin Adham rahimahullah yang patut menjadi bahan introspeksi. Dalam kitab Arba'in an-Nawawiyah, dikisahkan bahwa suatu ketika sejumlah orang berkumpul bersama Ibrahim bin Adham, ulama sufi kelahiran Khurasan yang wafat pada 160 Hijriah.Baca juga:Marah dalam Islam, Kapan Dibolehkan dan Kapan Menjadi Dosa?
Salah seorang di antara mereka bertanya, "Wahai Abu Ishaq, mengapa doa-doa kami tidak dikabulkan Allah?"
Ibrahim bin Adham kemudian menjawab bahwa hal tersebut disebabkan hati manusia telah mati karena sepuluh perkara.
10 Perkara yang Membuat Hati Mati
Berikut sepuluh nasihat Ibrahim bin Adham yang mengingatkan manusia agar tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga memperbaiki kualitas keimanan dan amal perbuatannya.1. Mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Manusia mengakui keberadaan Allah, tetapi tidak menjalankan perintah dan kewajiban yang telah ditetapkan-Nya.
2. Mengaku mencintai Rasulullah, tetapi meninggalkan sunahnya. Kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam semestinya dibuktikan dengan mengikuti tuntunan dan ajarannya.
3. Membaca Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkan kandungannya. Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk hidup yang harus dipahami dan diterapkan.
4. Menikmati berbagai karunia Allah, tetapi tidak bersyukur. Nikmat kesehatan, harta, keluarga, dan kehidupan sering kali diterima begitu saja tanpa diiringi rasa syukur.5. Mengakui setan sebagai musuh, tetapi justru mengikuti godaannya. Manusia mengetahui bahwa setan menyesatkan, tetapi masih terjerumus dalam kemaksiatan dan perbuatan dosa.
6. Meyakini keberadaan surga, tetapi tidak melakukan amalan yang mengantarkan ke sana. Harapan memperoleh surga harus dibarengi dengan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh.
7. Meyakini keberadaan neraka, tetapi tidak berusaha menjauhinya. Ancaman azab seharusnya membuat manusia semakin berhati-hati dalam bertindak dan meninggalkan larangan Allah.
8. Meyakini kematian, tetapi tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Padahal, kehidupan dunia hanyalah sementara dan setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya.
9. Sibuk mencari dan menghitung aib orang lain, tetapi melupakan kekurangan diri sendiri. Kebiasaan mencela sesama membuat seseorang lalai melakukan introspeksi dan memperbaiki akhlaknya.
10. Menguburkan orang-orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya. Kematian orang lain semestinya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia juga memiliki batas.
Hati yang Hidup Akan Mendekatkan Diri kepada Allah
Sepuluh nasihat Ibrahim bin Adham tersebut mengajak setiap muslim untuk memeriksa kembali kondisi hatinya. Jangan sampai lisan terus memanjatkan doa, tetapi perilaku sehari-hari justru jauh dari ketaatan kepada Allah.Al-Qur'an juga mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh perbuatan buruk yang dihiasi sehingga tampak baik di matanya.Allah Ta'ala berfirman:
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
"Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik (sama dengan orang yang tidak tertipu)? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS Fatir: 8).
Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa membersihkan hati dan memperbanyak mengingat Allah. Sebagaimana firman-Nya:
Sinopsis Ternyata Ini Cinta Eps 54: Prisil Hamil Anak Dewa, Marco Siap Ungkap Perasaan ke Luna
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd: 28).
Selain memperbanyak zikir, ketakwaan juga menjadi jalan bagi seorang hamba untuk memperoleh kemudahan dalam urusannya. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (QS At-Talaq: 4).
Nasihat Ibrahim bin Adham ini menjadi pengingat bahwa doa semestinya berjalan beriringan dengan ikhtiar, ketaatan, dan perbaikan diri. Ketika doa belum terwujud, seorang muslim tidak sepatutnya berputus asa. Teruslah berdoa, memperbaiki amal, dan meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui waktu serta cara terbaik untuk memberikan sesuatu kepada hamba-Nya."Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya." (QS. Ath-Thalaaq: 4)
Baca juga:Marah pada Allah SWT karena Doa Belum Terkabul? Baca Nasihat Ulama Besar Ini










