Saham Syariah Disebut Lebih Tahan Banting di Tengah Tekanan Pasar

Saham Syariah Disebut Lebih Tahan Banting di Tengah Tekanan Pasar

Ekonomi | sindonews | Minggu, 1 November 2026 - 19:44
share

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai instrumen saham berbasis syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat saat pasar saham domestik sedang mengalami tekanan. Ketahanan tersebut ditopang oleh karakteristik portofolio yang terbebas dari sektor perbankan konvensional serta ketiadaan transaksi berbasis margin.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa ketiadaan emiten perbankan konvensional dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) membuat saham syariah relatif minim dari dampak koreksi tajam yang kerap melanda sektor perbankan saat kondisi pasar tertekan.

“Kalau kita lihat memang demikian, Pak, ya baik dari sisi produknya ya maupun dari sisi investornya, daya tahannya harusnya lebih baik yang di syariah,” kata Jeffrey dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Sabtu (31/10/2026) malam.

Baca Juga: Tips MotionTrade: Kenalan dengan 5 Indeks Saham Syariah

Jeffrey menambahkan, faktor lain yang memperkuat daya tahan pasar syariah adalah profil transaksi investornya. Karena bertransaksi sesuai prinsip syariah, investor tidak memanfaatkan fasilitas pinjaman berbasis bunga seperti transaksi margin. Hal ini meminimalkan risiko eksekusi margin call maupun penjualan paksa (forced sell) saat harga saham bergejolak. “Investor syariah tentu akan bertransaksi saham tanpa riba, apalagi margin, ya jadi tentu tidak ada risiko margin call atau force sell,” jelasnya.

Penilaian terhadap ketahanan saham syariah ini mengemuka di tengah tekanan pasar saham nasional. Merujuk data bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 5.266,13 per 26 Oktober 2026, atau terkoreksi 39,80 sejak awal tahun (year-to-date).

Baca Juga: Tertinggi Sepanjang Sejarah, Aset Keuangan Syariah Indonesia Tembus Rp3.131 Triliun

Meski IHSG melemah, kapitalisasi pasar instrumen syariah tercatat tetap jumbo. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp5.658,68 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar Jakarta Islamic Index (JII) berada di posisi Rp1.891,89 triliun, dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70) mencatatkan nilai Rp2.681,94 triliun.

Dari sisi ragam pilihan investasi, OJK menetapkan sebanyak 622 saham masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) Periode I 2026, di luar tambahan tiga saham dari penetapan DES insidentil. Meski memiliki fundamental karakteristik yang lebih stabil, BEI menggarisbawahi bahwa investasi saham syariah tidak sepenuhnya bebas dari risiko pasar.

Pergerakan harga saham syariah tetap berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global, kondisi makroekonomi, serta kinerja fundamental masing-masing perusahaan.

Topik Menarik