BNN-Komisi III DPR Ajak Mahasiswa Baru Universitas Arya Wangsa Subang Jauhi Narkoba
Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Komisi III DPR mengajak mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa (UAW) Subang menjauhi penyalahgunaan narkoba. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkotika yang semakin beragam.
Ajakan tersebut disampaikan dalam acara Sarasehan Penguatan Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba di Universitas Arya Wangsa (UAW), Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan anggota Komisi III DPR RI Jazilul Fawaid dan Kepala BNN Kabupaten Karawang Fathur Rohman.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKB Jazilul Fawaid mengapresiasi langkah BNN bersama Polri yang dinilai terus konsisten melakukan pemberantasan narkoba sekaligus memperkuat edukasi pencegahan di tengah masyarakat.
Gus Jazil, sapaan akrabnya, menyambut baik kehadiran BNN yang secara langsung memberikan edukasi kepada mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa. Menurutnya, kalangan mahasiswa merupakan kelompok strategis yang harus dilindungi dari ancaman narkotika.
"Saya senang hari ini BNN bisa hadir langsung melakukan sosialisasi pencegahan narkoba di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa. Langkah pencegahan ini jauh lebih penting karena lebih mudah daripada kalau sudah terlanjur memakai. Proses rehabilitasinya sulitnya luar biasa," kata Gus Jazil.Pendiri Universitas Arya Wangsa tersebut menegaskan, pemberantasan narkoba membutuhkan komitmen bersama antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Karena itu, dia meminta BNN dan Polri terus meningkatkan langkah-langkah strategis untuk memutus mata rantai peredaran narkoba di Indonesia.
"Kami Komisi III DPR RI akan mendukung secara penuh upaya BNN dan Polri dalam memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia," tuturnya.
Sementara itu, Kepala BNN Kabupaten Karawang Fathur Rohman mengatakan, Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis sekaligus rentan menjadi jalur masuk peredaran narkoba internasional. Menurutnya, letak Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta berdekatan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, menjadikan Indonesia memiliki tantangan besar dalam menghadapi jaringan peredaran narkotika.
"Indonesia secara posisi tidak aman kalau soal potensi narkoba. Kita berada di jalur strategis masuknya narkoba. Beberapa kali terjadi penyitaan narkoba dengan jumlah mencapai lebih dari satu ton," kata Fathur.
Dia menjelaskan, peredaran narkoba di Indonesia tidak hanya melibatkan jenis narkotika konvensional, tetapi juga berbagai jenis narkoba baru yang semakin berbahaya. Bahkan, saat ini terdapat sekitar 107 jenis narkotika yang beredar dan menjadi perhatian aparat penegak hukum.Fathur mencontohkan ganja sintetis yang memiliki efek jauh lebih kuat dibandingkan ganja biasa. Menurutnya, daya rusak ganja sintetis bisa mencapai 20 hingga 30 kali lipat dibandingkan ganja konvensional."Pengedar narkoba itu yang ada dalam pikirannya hanya uang. Mereka memproduksi narkoba dengan tujuan membuat penggunanya kecanduan sehingga terus membeli lagi. Ini sangat berbahaya bagi masa depan generasi muda," ujarnya.
Dia mengingatkan, narkoba bukan persoalan sederhana karena dampaknya tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi juga mental, kehidupan sosial, dan keharmonisan keluarga. Karena itu, Fathur meminta seluruh mahasiswa Universitas Arya Wangsa tidak pernah mencoba narkoba, sekalipun hanya sekali. Menurutnya, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika seseorang sudah mengalami ketergantungan.
"Jangan sampai ada mahasiswa Universitas Arya Wangsa yang terkena narkoba. Cara paling efektif adalah memiliki kesadaran untuk tidak pernah mencoba. Sekali mencoba, risikonya bisa menjadi ketergantungan sepanjang hidup," tegasnya.
Di tempat yang sama, Rektor Universitas Arya Wangsa (UAW) Andik Kuswanto menegaskan komitmen kampus untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih dari narkoba.
Menurutnya, perkembangan era digital membuat informasi dan berbagai modus peredaran narkoba semakin mudah menjangkau masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Karena itu, mahasiswa harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengenali jenis narkoba dan memahami dampak buruk penyalahgunaannya."Di era digital, penyalahgunaan dan peredaran narkoba semakin mudah terjadi. Karena itu, mahasiswa harus mengenali apa itu narkoba, jenis-jenisnya, serta berbagai modus peredarannya," ujar Andik.
Dia menegaskan, pihak kampus tidak ingin ada mahasiswa Universitas Arya Wangsa yang terlibat dalam penyalahgunaan maupun peredaran narkotika. Sebab, persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap individu, tetapi juga keluarga, institusi pendidikan, dan masa depan bangsa.
"Saya tidak mau ada mahasiswa Universitas Arya Wangsa yang coba-coba menggunakan atau mengedarkan narkoba. Kalau sampai ada, kami akan tindak tegas," tegasnya.
Melalui kegiatan sarasehan tersebut, UAW berharap mahasiswa baru tidak hanya memiliki kesiapan akademik, tetapi juga kesadaran dan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai ancaman sosial, khususnya bahaya narkoba.Sinergi antara BNN, DPR RI, kepolisian, dan perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat gerakan pencegahan narkoba sekaligus mewujudkan lingkungan kampus yang sehat, aman, dan bebas narkotika.










