Siapa Roestam Effendi? Tokoh Asal Padang yang Pernah Jadi Anggota Parlemen Belanda

Siapa Roestam Effendi? Tokoh Asal Padang yang Pernah Jadi Anggota Parlemen Belanda

Nasional | sindonews | Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:34
share

NAMA Roestam Effendi mungkin tidak sepopuler Soekarno, Mohammad Hatta, atau Sutan Sjahrir dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, tokoh kelahiran Padang, Sumatera Barat, ini memiliki perjalanan yang tidak biasa.

Dia pernah menjadi anggota parlemen Belanda ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan. Roestam tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi anggota Tweede Kamer, majelis rendah parlemen Belanda.

Dia terpilih pada 1933 melalui Partai Komunis Belanda dan menjalankan tugas sebagai anggota parlemen hingga 1946. Keputusannya terjun ke politik di negeri penjajah bukan sekadar langkah untuk membangun karier pribadi. Roestam menggunakan kedudukannya untuk menyuarakan nasib rakyat Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme Belanda.

Profil Roestam Effendi

1. Lahir di Padang dan Tumbuh sebagai Pendidik

Roestam Effendi lahir di Padang pada 13 Mei 1903. Sejak muda, dia menunjukkan ketertarikan terhadap pendidikan, sastra, dan pergerakan politik.

Dia menempuh pendidikan di Kweekschool atau Sekolah Raja di Bukittinggi, kemudian melanjutkan pendidikan guru di Bandung. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Roestam sempat mengajar dan menjadi kepala sekolah di Perguruan Adabiah, Padang.

Selain mengajar, dia aktif dalam kehidupan masyarakat dan pernah menjadi anggota dewan kotapraja Padang. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal persoalan sosial dan politik yang dihadapi masyarakat pada masa kolonial.Roestam juga aktif dalam Jong Sumatranenbond, organisasi pemuda yang berperan dalam perkembangan kesadaran kebangsaan. Dari lingkungan pendidikan, kebudayaan, dan pergerakan inilah minat politiknya semakin berkembang.

2. Menulis Sastra sebagai Bentuk Perlawanan

Sebelum dikenal sebagai politikus, Roestam merupakan penyair dan penulis drama yang berperan dalam perkembangan sastra Indonesia modern.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Bebasari, drama bersajak yang terbit pada 1926. Karya tersebut memuat simbol perjuangan melawan penindasan dan kerap dipandang sebagai gambaran hasrat masyarakat untuk memperoleh kemerdekaan.

Naskah Bebasari semula disiapkan untuk pementasan di Padang. Namun, pementasannya tidak terlaksana setelah mendapat larangan dari pihak sekolah. Isi karya itu dinilai mengandung sindiran terhadap pemerintah kolonial.

Roestam juga menerbitkan kumpulan puisi Percikan Permenungan pada 1925. Melalui karya-karya tersebut, dia berusaha menyampaikan gagasan tentang kebebasan dan nasib bangsanya.

Seiring waktu, Roestam merasa perjuangan melalui sastra saja tidak cukup. Dia kemudian memilih jalur politik untuk memperjuangkan kemerdekaan secara lebih langsung.

3. Merantau ke Belanda dan Bergabung dengan Gerakan Politik

Pada 1926, Roestam meninggalkan Indonesia dan berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Di negara tersebut, dia menempuh pendidikan lanjutan sekaligus semakin aktif dalam pergerakan politik.Roestam bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air. Dia kemudian terlibat dalam gerakan antikolonial dan antiimperialisme.

Pada awal 1930-an, Roestam bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Pilihan politik ini membawanya memasuki lingkungan politik Belanda yang ketika itu masih memiliki wilayah jajahan, termasuk Hindia Belanda.

Bagi Roestam, tinggal di Belanda bukan berarti meninggalkan persoalan bangsanya. Justru dari negeri tersebut, dia menemukan ruang untuk menyuarakan tuntutan kemerdekaan Indonesia melalui lembaga politik yang berada di pusat kekuasaan kolonial.

4. Menjadi Anggota Parlemen Belanda pada 1933

Karier politik Roestam mencapai tonggak penting pada 1933. Dia terpilih sebagai anggota Tweede Kamer melalui Partai Komunis Belanda, menjadikannya orang Indonesia pertama yang menduduki kursi di lembaga tersebut.

Pemilihannya terjadi dalam situasi politik yang tidak sederhana. Sejumlah kandidat Indonesia yang berada di posisi lebih tinggi dalam daftar pencalonan ditahan atau mengundurkan diri sehingga Roestam memperoleh kesempatan untuk masuk parlemen.

Di Tweede Kamer, Roestam terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan, termasuk urusan kolonial, keuangan, pertahanan, dan transportasi. Dia menggunakan kedudukannya untuk membawa persoalan Hindia Belanda ke dalam perdebatan politik di Belanda.Kehadirannya juga memiliki arti simbolis. Seorang tokoh yang berasal dari wilayah jajahan berhasil memasuki lembaga perwakilan negara yang menjajah tanah kelahirannya.

Meski demikian, Roestam tidak memandang keanggotaannya sebagai tujuan akhir. Dia menilai perjuangan kemerdekaan pada akhirnya harus ditentukan oleh rakyat Indonesia sendiri.

5. Menyerukan Indonesia Merdeka di Negeri Penjajah

Salah satu hal yang paling dikenang dari Roestam adalah keberaniannya menyuarakan kemerdekaan Indonesia di tengah lingkungan politik Belanda.

Dalam pelantikannya sebagai anggota parlemen pada 4 Juli 1933, sejumlah anggota parlemen menolak berdiri saat dirinya diambil sumpah. Roestam bersama sejumlah anggota lainnya kemudian menyerukan Indonesia Merdeka, sebuah ungkapan yang menegaskan tuntutan pembebasan Tanah Air dari kolonialisme.

Di parlemen, dia dikenal sebagai salah satu suara kritis terhadap kebijakan kolonial. Roestam memanfaatkan forum resmi untuk mengangkat persoalan Indonesia, termasuk ketimpangan hubungan antara pemerintah kolonial dan penduduk pribumi.

Aktivitas politiknya juga tidak lepas dari risiko. Pada Juli 1933, dia dijatuhi hukuman penjara satu bulan dalam perkara penghasutan di Tiel, Belanda. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kiprahnya berlangsung di tengah ketegangan politik dan pengawasan terhadap gerakan antikolonial.Bagi Roestam, parlemen bukan hanya tempat membahas kebijakan negara, tetapi juga ruang untuk memperdengarkan tuntutan kemerdekaan Indonesia.

6. Mengakhiri Karier Parlemen dan Kembali ke Indonesia

Perjalanan Roestam di parlemen Belanda berakhir pada 1946. Dia mengundurkan diri setelah dikeluarkan dari Partai Komunis Belanda, yang saat itu telah berganti nama menjadi Partai Komunis Belanda atau CPN.

Perbedaan sikap dan persoalan internal partai menjadi bagian dari latar belakang berakhirnya karier politiknya. Setelah meninggalkan parlemen, Roestam menjalani kehidupan di luar lembaga legislatif dan kemudian kembali ke Indonesia.

Dia meninggal dunia di Jakarta pada 24 Mei 1979 dalam usia 76 tahun. Meski namanya tidak selalu muncul dalam pembahasan utama tentang tokoh kemerdekaan, pengalaman Roestam Effendi memperlihatkan jalur perjuangan yang berbeda: menggunakan sastra, organisasi pergerakan, dan parlemen negara kolonial untuk menyampaikan tuntutan kebebasan bangsanya.

Jejak Perjuangan dari Padang ke Belanda

Kisah Roestam memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak berlangsung melalui satu jalur saja. Selain perlawanan di Tanah Air, terdapat pula tokoh yang membawa tuntutan kemerdekaan ke pusat politik negara penjajah.

Dari seorang pendidik dan sastrawan di Padang, Roestam berkembang menjadi politikus yang duduk di parlemen Belanda. Kedudukannya memberinya kesempatan untuk mengangkat persoalan kolonialisme langsung di hadapan para pembuat kebijakan negara tersebut.

Pengalaman Roestam menjadi bagian penting dari sejarah hubungan Indonesia dan Belanda sekaligus menunjukkan bagaimana seorang perantau dapat menggunakan ruang politik di negara lain untuk memperjuangkan perubahan di tanah kelahirannya.

Topik Menarik