3 Miliar Barel Minyak Lenyap dari Pasar Energi, Awas! Harga Brent Bisa Tembus USD200 per Barel

3 Miliar Barel Minyak Lenyap dari Pasar Energi, Awas! Harga Brent Bisa Tembus USD200 per Barel

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:07
share

Guncangan hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya (unprecedented shock) sedang melumpuhkan pasar energi global. Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco, Amin Nasser melontarkan, peringatan mencekam bahwa krisis Perang AS-Israel melawan Iran telah melenyapkan kumulatif pasokan hingga 3 miliar barel minyak mentah dari pasar dunia.

Dalam wawancara khusus bersama Al Arabiya Business yang ditayangkan Kamis, Nasser membeberkan bahwa kehancuran pasokan selama hampir delapan bulan ini setara dengan satu bulan penuh konsumsi minyak bumi seluruh planet Bumi.

Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya perang pada Februari lalu sempat mengerek harga minyak hingga 50. Meski pemulihan ekspor Teluk telah mencapai kisaran 80 dari level pra-perang, gelombang serangan baru terhadap armada kapal dan fasilitas energi oleh kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb (Laut Merah) terus menjaga pasar dalam kondisi panik.

Baca Juga: IMF Sebut Barat Makin Rentan Ambruk Dihantam Krisis Energi & Jeratan Utang

Nasser mengungkapkan, bahwa harga minyak mentah acuan Brent yang kini menembus USD112 per barel sebenarnya masih "terselamatkan" oleh tiga benteng darurat. Pertama yakni Pipa East-West Aramco, pipa raksasa milik Saudi yang memintas (bypass) Selat Hormuz langsung ke Laut Merah.

Lalu adanya pelepasan cadangan darurat, dimana pengucuran stok minyak cadangan strategi dilakukan oleh negara-negara maju. Terakhir atau yang ketiga ditolong oleh pemangkasan impor China, membuat penurunan drastis pemesanan minyak via laut oleh Beijing.

"Jika bukan karena pemicu penahan tersebut, di mana stok awal dunia saja sudah di bawah rata-rata 5 tahun saat perang pecah, harga minyak dipastikan sudah melonjak jauh melampaui USD200 per barel," pangkas Nasser.

Baca Juga: Selat Hormuz Mencekam, Iran Serang 6 Kapal Tanker dalam Sehari

Poin paling mengerikan dari analisis Bos Aramco tersebut adalah situasi setelah perang berakhir. Nasser menegaskan bahwa penghentian konflik tidak akan serta-merta meredakan harga BBM.Begitu situasi normal, pasar akan dihantam gelombang permintaan baru (demand surge) sebesar 3 juta barel per hari. Dua juta barel per hari untuk memenuhi lonjakan konsumsi yang sempat tertahan.

Sedangkan satu juta barel per hari khusus digunakan negara-negara dunia untuk mengisi ulang (replenish) cadangan strategis mereka yang sudah ludes tergerus krisis.

Kepanikan pasar makin tereskalasi setelah laporan diplomatik pada Rabu mengonfirmasi bahwa Washington mulai menarik pasukannya secara diam-diam dari pangkalan militer di Yordania, Qatar, dan Kuwait. Diplomat AS dan keluarga mereka di Arab Saudi juga mulai dievakuasi.

Pola evakuasi darurat ini identik dengan langkah pencegahan yang diambil AS tepat sebelum melancarkan gempuran udara bersama Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Langkah nekat ini diambil usai Presiden Donald Trump menolak proposal Teheran untuk membuka Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan blokade pelabuhan dan sanksi minyak. Dengan negosiasi yang menemui jalan buntu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan ancaman terbuka untuk melancarkan serangan solo ke Iran, membuat pasar energi global bersiap menghadapi skenario terburuk menuju akhir tahun 2026.

Topik Menarik