Kemenag Dorong Kemandirian Pangan Pesantren lewat Gerakan Santri Menanam Sorgum
Kementerian Agama (Kemenag) mendorong kemandirian pangan di pondok pesantren. Dengan begitu kebutuhan gizi para santri akan terpenuhi dengan baik.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said, menegaskan, pesantren tidak hanya dituntut unggul dalam pendidikan dan dakwah. Pesantren juga harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan para santrinya.
“Arah kebijakan Ditjen Pesantren jelas pesantren yang mandiri dan santri yang terlindungi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Pesantren yang mandiri pangan akan lebih kuat menjaga kualitas pengasuhan, dan santri yang tercukupi gizinya akan lebih siap menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya,” ujarnya, Rabu (12/10/2026).
Baca juga: Kemenag Perkuat Perlindungan Anak, Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Instrumen Tekan Bullying
Basnang menambahkan, pesantren memiliki modal sosial dan tradisi panjang dalam mengelola kehidupan secara swadaya. “Sejak dulu pesantren tumbuh dari kemandirian, dari sawah, kebun, dan kerja keras para santri dan kiai. Tugas kita hari ini adalah menghidupkan kembali tradisi itu dengan pendekatan yang lebih modern dan berkelanjutan, serta menghubungkannya dengan penguatan ekonomi pesantren,” katanya.Arah kebijakan tersebut diterjemahkan Direktorat Pemberdayaan Pesantren melalui dukungan terhadap Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum. Gerakan ini resmi diluncurkan di Pesantren Al-Hikam II, Depok, Jawa Barat, Selasa, 20 Oktober 2026. Gerakan ini diinisiasi Koperasi Pondok Pesantren Indonesia, Institut Hasyim Muzadi Depok, dan Sorgum Sejahtera Foundation.
Lihat video:Nikah Gratis Plus Dikasih Modal Usaha! Kemenag Gelar Nikah Fest 2026
Tujuannya mendorong santri dan pesantren berperan aktif membangun kemandirian pangan melalui budidaya, pemanfaatan, dan pengembangan sorgum. Gerakan ini mengusung semangat “Santri Menanam Apa yang Dimakan, Menuju Kemandirian Pangan yang Halal dan Thayyib.”Direktur Pemberdayaan Pesantren Ditjen Pesantren Kemenag, Yusi Damayanti hadir dalam peluncuran tersebut. Yusi menyebut kemandirian pangan sebagai fondasi kemandirian pesantren secara utuh.
“Pesantren yang mampu menanam dan mengolah pangannya sendiri adalah pesantren yang berdaulat. Kemandirian pangan bukan sekadar urusan dapur. Ia adalah fondasi kemandirian lembaga, dan pada akhirnya fondasi bagi masa depan santri,” ujarnya.Yusi juga menekankan keterkaitan langsung antara pangan mandiri dan perlindungan anak. Menurutnya, pesantren yang berdaulat pangan memiliki kendali lebih besar atas kualitas asupan santri yang diasuhnya setiap hari.
“Ketika pangan di pesantren mandiri, anak-anak kita sekaligus terlindungi. Mereka tidak bergantung pada pasokan yang naik-turun, gizinya lebih terjamin, dan pengasuhan berjalan lebih utuh. Merawat gizi santri adalah bagian dari merawat dan melindungi anak,” tegas Yusi.
Selain soal gizi, Yusi mengajak santri memaknai gerakan menanam sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam. Sorgum dikenal tahan kekeringan dan mampu tumbuh di lahan marginal, sehingga dinilai cocok dikembangkan di lingkungan pesantren.
“Menanam adalah ibadah, dan merawat alam adalah amanah. Santri diajarkan menjadi khalifah di muka bumi, dan itu dimulai dari tanah yang ia olah sendiri. Sorgum mengajarkan kita bahwa lahan yang dianggap kurang subur pun bisa memberi kehidupan bila dirawat dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.
Yusi juga mengaitkan gerakan ini dengan nilai halal dan thayyib yang menjadi ruh pendidikan pesantren. “Halal menyangkut cara dan sumbernya, thayyib menyangkut kualitas dan manfaatnya bagi tubuh. Ketika santri menanam apa yang ia makan, ia tahu persis dari mana makanannya berasal. Di situlah halal dan thayyib menemukan wujud nyatanya,” jelasnya.Yusi menyatakan Ditjen Pesantren siap mendorong sinergi agar gerakan ini berkelanjutan dan terhubung dengan penguatan ekonomi pesantren.
“Kami ingin gerakan ini tidak berhenti pada seremoni. Dari kebun, berlanjut ke dapur pesantren, lalu ke koperasi. Dengan begitu, sorgum tidak hanya menyehatkan santri, tetapi juga menggerakkan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya,” pungkasnya.
Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum diharapkan menjadi ruang temu dan kolaborasi antara pesantren, santri, dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem pangan yang produktif, berkelanjutan, dan bermanfaat nyata bagi generasi mendatang.










