Rupiah Diguncang MSCI, Akankah BI Kerek Suku Bunga Hari Ini?

Rupiah Diguncang MSCI, Akankah BI Kerek Suku Bunga Hari Ini?

Ekonomi | sindonews | Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:08
share

Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026, meskipun rupiah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan arus keluar modal asing. Di tengah gejolak pasar keuangan, bank sentral diproyeksikan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar ketimbang menaikkan suku bunga yang berisiko menekan daya beli masyarakat.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75 pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," ujar Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga:Pukulan Telak MSCI, Rupiah Babak Belur Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Riefky menilai BI menghadapi dilema dalam menentukan arah kebijakan moneter karena harus menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertimbangkan tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga berpotensi menahan pelemahan rupiah, tetapi juga dapat membebani daya beli dan permintaan domestik.

Berdasarkan catatan LPEM FEB UI, inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,28 secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37, serta kelompok transportasi. Pelemahan rupiah yang berlanjut juga berisiko meningkatkan biaya impor dan bahan baku produksi sehingga menambah tekanan inflasi.

Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), serta menyempitnya selisih imbal hasil (yield spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik aset domestik bagi investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan.

Rupiah tercatat melemah 8,3 sejak awal tahun hingga pertengahan Oktober 2026. Pada 14 Oktober 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.895 per dolar AS, terdepresiasi 1,22 dibandingkan posisi Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026.

Baca Juga:MSCI Ancam Turunkan Kasta Pasar Saham RI ke Standalone, Ini Dampaknya

Dari sisi aliran modal, pasar keuangan domestik membukukan arus keluar bersih sebesar USD50 juta pada periode pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026. Meskipun pasar SBN mencatat arus masuk USD690 juta, pasar saham mengalami arus keluar USD730 juta, yang semakin menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.

Tekanan pasar saham juga meningkat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengkaji potensi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Proses konsultasi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final pada 30 Juni 2027. Menurut Riefky, BI perlu berhati-hati dalam menyeimbangkan risiko pelemahan rupiah dan kenaikan inflasi dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Topik Menarik