7 Dalil tentang Fitnah, dari Ancaman Siksa Kubur hingga Pahala Membela Korban

7 Dalil tentang Fitnah, dari Ancaman Siksa Kubur hingga Pahala Membela Korban

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 19 Oktober 2026 - 11:18
share

Islam memberikan perhatian serius terhadap persoalan fitnah. Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad mengajarkan umat Islam agar menjaga lisan, berhati-hati dalam menyampaikan berita, serta tidak ikut menyebarkan keburukan orang lain.

Sebaliknya, Islam juga memberikan tuntunan tentang keutamaan membela kehormatan saudara sesama muslim dan menjauhi berbagai bentuk fitnah. Berikut dalil atau petunjuk Al Quran dan hadistentang fitnah yang penting diketahui umat Islam :

Tujuh dalil Al-Qur'an dan Hadis tentang Fitnah

1. Surat Al-Qalam Ayat 10–11: Larangan Mengikuti Penyebar Fitnah

Allah SWT memperingatkan umat Islam agar tidak mengikuti orang yang gemar berdusta, menghina, mencela, dan menyebarkan adu domba.

Firman Allah SWT:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ۝ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Latin: Wa laa tuti' kulla hallaa fim mahiin, hammaazin masyaa'im binamiim.

Artinya: "Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah." (QS. Al-Qalam: 10–11)

Baca juga:3 Ancaman Berat bagi Pelaku Fitnah Menurut Islam, Jangan Disepelekan

Ayat ini mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh mudah terpengaruh oleh perkataan orang yang gemar mengadu domba. Informasi yang disampaikan dengan meyakinkan belum tentu benar, terlebih jika bertujuan menjatuhkan kehormatan orang lain.

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak langsung mempercayai ataupun meneruskan kabar yang berpotensi menimbulkan permusuhan.

2. Surat Az-Zumar Ayat 32: Berdusta Termasuk Kezaliman

Islam mengecam perbuatan berdusta dan mengingkari kebenaran. Salah satu bentuknya adalah membuat tuduhan palsu yang merugikan orang lain.

Allah SWT berfirman:فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

Latin: Faman azlamu mimman kazaba 'alallaahi wa kazzaba bis-sidqi idz jaa'ah, alaisa fii jahannama matswal lil-kaafiriin.

Artinya: "Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir?" (QS. Az-Zumar: 32)

Ayat tersebut secara langsung membahas kebohongan terhadap Allah dan pendustaan terhadap kebenaran yang datang dari-Nya. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini juga mengingatkan tentang beratnya dosa berdusta, meskipun tidak setiap bentuk fitnah dapat disamakan begitu saja dengan konteks khusus ayat tersebut.

Menyebarkan informasi palsu dengan sengaja merupakan tindakan yang dapat menzalimi orang lain. Karena itu, umat Islam harus membiasakan diri berkata jujur dan tidak mengarang cerita demi menjatuhkan seseorang.

3. Surat An-Nur Ayat 4: Ancaman bagi Penuduh Zina Tanpa Bukti

Salah satu bentuk tuduhan paling serius dalam Islam adalah menuduh seseorang melakukan zina tanpa bukti yang disyaratkan oleh syariat.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Latin: Walladziina yarmuunal-muhshanaati tsumma lam ya'tuu bi-arba'ati syuhadaa'a fajliduuhum tsamaaniina jaldatan wa laa taqbaluulahum syahaadatan abadaa, wa ulaa'ika humul-faasiquun.

Artinya: "Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur: 4)

Dalam syariat Islam, tuduhan zina tanpa bukti yang dipersyaratkan termasuk qadzaf. Ayat ini menjelaskan beratnya konsekuensi tuduhan tersebut, sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan manusia.

Ketentuan hukuman dalam ayat tersebut merupakan bagian dari hukum syariat yang memiliki persyaratan dan kewenangan penerapan tersendiri. Ayat ini bukan pembenaran bagi seseorang untuk menghukum orang lain secara sepihak.Pelajaran yang dapat diambil ialah bahwa tuduhan yang menyangkut kehormatan seseorang tidak boleh dilontarkan sembarangan. Kebenaran harus dijaga, sementara kehormatan sesama manusia tidak boleh dirusak dengan perkataan tanpa dasar.

4. Hadis tentang Siksa Kubur bagi Pelaku Adu Domba

Rasulullah memberikan peringatan keras terhadap perbuatan namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain untuk merusak hubungan atau menimbulkan permusuhan.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda ketika melewati dua kuburan:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Artinya: "Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Keduanya disiksa bukan karena perkara yang dianggap besar (sulit dihindari oleh manusia). Salah seorang di antara keduanya dahulu suka menyebarkan adu domba, sedangkan yang lainnya tidak menjaga diri dari air kencingnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa adu domba bukan perkara sepele. Perbuatan tersebut dapat menimbulkan kebencian, menghancurkan hubungan keluarga, dan memicu pertengkaran berkepanjangan.

Di era digital, perilaku ini dapat terjadi ketika seseorang sengaja menyebarkan percakapan pribadi, memelintir perkataan, atau meneruskan informasi untuk mengadu domba dua pihak.

Karena itu, seorang muslim perlu mempertimbangkan akibat dari setiap informasi yang disampaikan. Tidak semua hal yang didengar harus diteruskan kepada orang lain.

5. Hadis tentang Pahala Membela Kehormatan Orang yang Difitnah

Islam tidak hanya melarang umatnya menyebarkan fitnah, tetapi juga mendorong mereka untuk membela kehormatan orang yang menjadi korban tuduhan.

Rasulullah bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ، رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Latin: Man radda 'an 'irdhi akhiihi, raddallaahu 'an wajhihin-naara yaumal-qiyaamah.Artinya: "Barang siapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya pada hari Kiamat." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Hadis ini memberikan motivasi bagi umat Islam untuk tidak tinggal diam ketika menyaksikan kehormatan seseorang dirusak dengan tuduhan atau perkataan yang tidak benar.

Membela korban fitnah dapat dilakukan dengan meluruskan informasi yang keliru, menyampaikan fakta secara bijaksana, serta tidak ikut memperluas penyebaran kabar yang merugikan.

Namun, pembelaan tersebut tetap harus dilakukan secara adil. Seseorang hendaknya tidak membalas fitnah dengan fitnah lain atau menyebarkan tuduhan baru tanpa bukti.

6. Hadis tentang Kebahagiaan Orang yang Dijauhkan dari Fitnah

Menjauhi fitnah merupakan salah satu bentuk keselamatan yang patut disyukuri. Rasulullah mengingatkan bahwa terhindar dari berbagai fitnah merupakan nikmat besar, sementara orang yang diuji dan mampu bersabar juga memperoleh keutamaan.

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad, Rasulullah bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ، إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ، إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ، وَلَمَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

Artinya: "Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah." Beliau mengulanginya tiga kali. "Dan sungguh beruntung orang yang diuji lalu bersabar." (HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim perlu memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari berbagai fitnah yang dapat merusak agama dan kehidupannya.

Apabila menghadapi ujian, ia juga dituntut bersabar dan tidak bertindak gegabah. Kesabaran tersebut bukan berarti membiarkan kezaliman, melainkan tetap menjaga diri agar tidak membalas keburukan dengan perbuatan yang dilarang agama.

7. Hadis tentang Fitnah Dajjal sebagai Ujian Besar Menjelang Kiamat

Di antara fitnah besar yang disebutkan dalam hadis adalah fitnah Dajjal. Rasulullah mengingatkan umatnya agar waspada terhadap ujian yang dibawanya.

Beliau bersabda:مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

Artinya: "Tidak ada makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya Kiamat yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal." (HR. Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan besarnya fitnah Dajjal dalam rangkaian peristiwa menjelang Kiamat. Peringatan ini menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa menjaga keimanan dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Fitnah dalam konteks ini tidak terbatas pada kabar bohong atau adu domba, tetapi mencakup ujian besar terhadap keimanan yang diterangkan dalam hadis-hadis tentang akhir zaman.

Karena itu, seorang muslim perlu memperkuat pemahaman agama, menjaga amal ibadah, dan tidak mudah terperdaya oleh sesuatu yang bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Menjaga Lisan dan Memeriksa Informasi

Berbagai dalil di atas menunjukkan bahwa Islam memandang serius perbuatan fitnah. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh korban, melainkan juga dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat.

Karena itu, umat Islam perlu membiasakan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Allah SWT mengingatkan dalam Surat Al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman meneliti berita yang diterima supaya tidak merugikan orang lain karena kecerobohan.

Rasulullah juga bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pesan ini relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menggunakan media sosial. Sebelum membagikan sebuah kabar, seseorang perlu memastikan sumbernya, memahami konteksnya, dan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

Menjaga diri dari fitnah bukan sekadar menghindari dosa, tetapi juga bagian dari ikhtiar merawat persaudaraan, melindungi kehormatan sesama, dan menciptakan kehidupan yang lebih damai.

Baca juga:Fitnah Tak Selalu Berarti Tuduhan Bohong, Ini Penjelasannya dalam Islam

Topik Menarik