Kemenpar Gelar Prambanan Shiva Festival 2027, Strategi Gaet Wisatawan Asing
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mendorong optimalisasi Candi Prambanan agar tidak sekadar berdiri sebagai situs sejarah pasif, melainkan bertransformasi menjadi monumen hidup serta ruang edukasi dan spiritual yang inklusif bagi masyarakat luas. Langkah strategis ini salah satunya diwujudkan melalui peluncuran Prambanan Shiva Festival 2027.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan bahwa Candi Prambanan memiliki rekam jejak sejarah dan spiritualitas yang amat panjang. Sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak 1991, Candi Prambanan dinilai memiliki keagungan arsitektur serta nilai-nilai spiritual yang perlu terus dirawat.
“Prambanan adalah salah satu situs warisan dunia UNESCO yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sejak 1991. Dan Prambanan ini menyimpan kekayaan sejarah, keagungan arsitektur, serta nilai spiritual yang terus hidup dan dirawat hingga hari ini,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa saat meluncurkan Prambanan Shiva Festival 2027 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga : Gandrung Sewu 2026, 1.300 Penari Siap Meriahkan Malam Banyuwangi
Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa pemerintah berupaya menghidupkan kembali roh spiritualitas di kawasan candi tanpa menjadikannya eksklusif. Menurutnya, pelibatan publik secara lebih luas penting dilakukan agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat mengapresiasi dan menjaga keberadaan situs kebanggaan nasional tersebut.“Kita tidak ingin Prambanan ini menjadi hanya sekadar sebagai monumen, tetapi dia harus menjadi monumen yang hidup, yang bisa menjadi ruang edukasi dan juga ruang spiritual. Prambanan tentu sudah melewati perjalanan yang panjang. Ia pernah runtuh, kemudian terlupakan berabad-abad, lalu dipugar batu demi batu dengan kesabaran yang luar biasa. Dan kini, kita bersama-sama bisa menyaksikan Prambanan kembali hidup sebagai tempat suci,” papar dia.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keterbukaan dan inklusivitas dalam penyelenggaraan berbagai ritual maupun festival kebudayaan di Prambanan. Seperti Tawur Agung dan Shivaratri/Siwaratri.
Baca Juga : Kemenpar Dorong Wisata Berbasis Pengalaman, Wisatawan Diajak Jelajahi Indonesia Lebih Dalam
“Dalam rangka menghidupkan nilai spiritual di Prambanan ini, ada banyak sekali rangkaian keumatan Hindu yang dilakukan di sana. Mulai dari Tawur Agung, yang ini juga sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir dan menjadi ruang berkumpul bagi umat Hindu di wilayah Prambanan. Kemudian juga perayaan Siwaratri, ini juga sudah kita lakukan dalam beberapa tahun terakhir,” tutur Ni Luh Puspa.
Berbagai hal tersebut patut diperluas dan menjadi ruang inklusif. Ia menegaskan bahwa tujuan inklusifitas itu bukanlah untuk mengobral atau menjual melainkan guna memperkenalkan adat dan budaya kepada semua orang agar membentuk kesadaran bersama dalam mencintai dan menjaga Prambanan.“an sekarang kita ingin memperluasnya, karena tentu saja kita tidak ingin ini terlalu eksklusif. Kita ingin ini menjadi ruang yang lebih inklusif, bukan karena kita ingin mengobral, tetapi karena kita ingin semua orang tahu, semua orang mengerti, semua orang memahami, sehingga semua orang mencintai dan semua orang akhirnya turut merawat ruang atau tempat yang begitu indah, begitu agung, Candi Prambanan,” jelas dia.
Berbagai hal di atas salah satunya diupayakan melalui Pengembangan Prambanan Shiva Festival 2027 yang juga dinilai sangat sejalan dengan tren pariwisata global maupun domestik. Mengutip data Global Wellness Economy Monitor 2025, minat wisatawan terhadap pengalaman yang mendekatkan mereka pada budaya lokal, alam, serta perjalanan ziarah dan spiritual retreat terus meningkat. Di samping itu, hasil survei Indonesia Tourism Outlook 2026–2027 menempatkan event tourism sebagai tren utama perjalanan wisata di Tanah Air.
Momen ini juga didukung oleh pergerakan wisatawan yang terus tumbuh positif. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencatatkan angka 842,15 juta kunjungan atau tumbuh 4,29 persen. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen. India menjadi salah satu pasar utama yang sangat potensial, di mana lonjakan kunjungan tercatat dari 606.439 wisatawan pada 2023 menjadi 734.490 pada 2025.
Guna menangkap peluang tersebut, Kemenpar menjadikan Prambanan Shiva Festival 2027 sebagai bentuk diversifikasi produk acara pariwisata. Festival bertema “The Holy Month of Shiva for Spiritual, Peace and Harmony” ini dijadwalkan berlangsung mulai 6 Januari hingga 7 Maret 2027, merangkum dua agenda keagamaan dan kebudayaan besar, yakni Shivaratri pada Januari dan Mahashivaratri pada Maret 2027.
Sebagai langkah nyata memperluas jangkauan wisatawan luar negeri, Kemenpar berkolaborasi aktif dengan Kementerian Luar Negeri serta Kedutaan Besar India di Indonesia untuk mengemas dan mempromosikan paket perjalanan wisata festival ini ke pasar internasional.
“Promosi melalui pemasaran ke India sudah dilakukan, kemudian ke Paris, dan bulan depan akan kami bawa ke WTM London. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan Kedutaan Besar India agar jangkauan promosi terkait Prambanan Shiva Festival ini bisa jauh lebih luas,” pungkas Ni Luh Puspa.










