Karhutla dan Konservasi Tanaman

Karhutla dan Konservasi Tanaman

Nasional | sindonews | Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:44
share

Usep SetiawanPeneliti Sosial Perkumpulan Lingkar Pembaruan Desa dan Agraria (KARSA) Yogyakarta

TIGA bulan lebih, Kalimantan dan sejumlah daerah lain, diselimuti asap putih kekuning-kuningan akibat kebakaran hutan dan lahan. Konon asap sudah terkirim hingga ke negara tetangga. Pagi, siang, sore, dan malam, udara di luar cenderung pekat. Kian hari asap semakin tebal.

Asap Karhutla telah melewati ambang batas yang mengganggu pandangan dan pernapasan yang sumbernya perlu segera diselesaikan. Bayi, anak kecil, dan lansia menjadi pihak paling rentan terkena dampak karena menghirup udara tercemar asap yang tak dikehendaki bersama. Mereka harus dilindungi dan diselamatkan. Kalimantan dan lainnya menunggu hujan. Jika hujan turun, asap dan api akan berkurang signifikan, bahkan hilang.

Penulis pernah seminggu di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, turut merasakan dampak Karhutla. Fenomena Karhutla penting dikaitkan dengan inisiasi kerja bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil guna menyiapkan gerakan konservasi tanaman untuk mencegah Karhutla dari hulu. Penting dibahas isu-isu strategis seputar konservasi tanaman.

Konservasi Tanaman

Secara teoritik, semangat konservasi bisa mencegah kebakaran sejak dini. Korelasi antara konservasi tanaman dengan Karhutla bersifat timbal balik dan saling mempengaruhi. Konservasi tanaman merupakan tameng tangguh pencegah Karhutla. Karhutla merupakan ancaman destruktif yang bisa menghancurkan materi konservasi. UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya harus efektif dirujuk.

Konservasi tanaman sejatinya mitigasi Karhutla. Pelestarian dan penanaman kembali vegetasi tertentu punya peran krusial dalam menekan risiko kebakaran. Menjaga kelembapan mikro-ekosistem, di mana kawasan dengan tutupan pohon yang rapat dan tajuk yang padat menciptakan lingkungan bawah tajuk yang lembap. Kelembapan yang tinggi mempersulit api menyala atau merembet. Makin lebat hutan, makin jauh potensi kebakaran.Demikian halnya perbaikan lahan gambut yakni konservasi di kawasan gambut yang dilakukan melalui pembasahan ulang dan penanaman vegetasi asli rawa gambut yang ramah air. Langkah ini dapat mencegah gambut menjadi kering, yang merupakan pemicu utama kebakaran bawah permukaan yang sulit dipadamkan. Gambut penting dikelola dengan baik.

Secara teknis, pembuatan sekat bakar alami untuk pemilihan jenis tanaman konservasi yang memiliki kadar air tinggi pada daunnya atau tidak mudah terbakar dapat difungsikan sebagai sabuk hijau atau sekat bakar untuk melokalisasi rambatan api. Mengingat Karhutla berdampak destruktif terhadap konservasi tanaman sekaligus jadi faktor utama kegagalan program konservasi maka penanganannya perlu lebih holistik.

Kemusnahan keanekaragaman hayati tanaman akibat kebakaran dapat menghancurkan tanaman langka, endemik, atau tanaman obat yang dilindungi. Tanaman sensitif seperti anggrek hutan bisa musnah karena suhu ekstrem.

Karhutla juga merusak struktur tanah karena menghanguskan lapisan organik tanah (humus) dan mematikan mikro-organisme tanah yang penting bagi tanaman. Akibatnya, lahan pasca-kebakaran menjadi kritis, penyimpanan air menurun, dan sulit ditanami kembali tanpa intervensi pemulihan yang masif. Karhutla memicu kegagalan pemulihan alam secara alami. Setelah kebakaran, hutan butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk pulih kembali.

Langkah Solutif

Pengembangan agroforestri dan sistem pertanian terintegrasi adalah solusi strategis untuk mengatasi Karhutla dalam jangka panjang. Pendekatan partisipatif menjadi fondasi agroforestri yang terintegrasi. Kita perlu mendorong masyarakat untuk menanam tanaman pelindung, tanaman lokal, dan tanamanbernilai ekonomi. Kombinasi tanaman kayu dengan tanaman pangan bisa bermanfaat ganda yakni untuk lingkungan dan ekonomi masyarakat.

Solusi jangka pendek dan menengah adalah mendorong pemerintah bertanggung jawab atas upaya mengatasi dampak Karhutla di berbagai daerah. Presiden dan para menteri serta kepala lembaga dan daerah perlu mengerahkan seluruh kekuatan dan sumber daya yang dimiliki di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Jangan saling lempar tanggung jawab. Kesungguhan pemerintah mengatasi Karhutla menjadi indikator penting akuntabilitas pemerintah.

Bagi pengusaha yang terbukti nakal dengan memanfaatkan kemarau untuk membakar hutan dan lahan dalam membuka atau memperluas areal perkebunannya harus dihukum tegas. Informasi yang dihimpun aparat penegak hukum atas indikasi sejumlah perusahaan yang dengan sengaja membakar hutan atau lahan, jangan berhenti di tahap identifikasi. Perlu ditindaklanjuti dengan langkah eksekusi hukum yang cepat, berat, dan adil supaya ada efek jera. Kepada masyarakat yang terbukti lalai karena melakukan pembakaran hutan dan lahan, pemerintah perlu mengingatkan mereka. Edukasi dan tindakan preventif berupa sosialisasi dan pengembangan partisipasi bagi warga untuk mencegah pembakaran lebih lanjut, jauh lebih penting daripada tindakan represif. Hindari pengkambing-hitaman warga. Libatkan warga dalam mengatasi dan mencegah Karhutla dengan mengoptimalkan keragaman budaya yang bersumber dari petani lokal dan masyarakat adat.

Kearifan budaya lokal yang hidup pada komunitas masyarakat adat di Kalimantan dan lainnya harus jadi cermin tempat kita belajar mengendalikan laju kerusakan hutan dan lahan sebagai musabab Karhutla. Budaya masyarakat sebagai laboratorium alamiah bagi pengelolaan tanah dan kekayaan alam yang bijaksana sebagai titipan dari generasi mendatang. Angkat kearifan lokal untuk menghentikan Karhutla.

Topik Menarik