Banjir Bandang di Padang, Ini Respons Cepat PLN

Banjir Bandang di Padang, Ini Respons Cepat PLN

Nasional | sindonews | Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:47
share

Banjir bandang melanda sejumlah wilayah Padang pada Sabtu (10/10/2026). Menurut keterangan PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat, hujan lebat sejak sekitar pukul 16.00 WIB turut berdampak pada infrastruktur kelistrikan. Di Lubuk Minturun dan Guo, masyarakat menghadapi dua persoalan yang berjalan bersamaan: memenuhi kebutuhan hidup di tengah keadaan darurat dan memulihkan layanan yang menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Pada hari-hari seperti itu, pemulihan tidak pertama-tama terasa sebagai istilah kebencanaan atau laporan capaian. Ia hadir dalam pertanyaan sederhana: apa yang bisa dimakan hari ini, bagaimana mendapatkan air bersih, apakah pakaian yang tersisa masih layak digunakan, dan kapan rumah cukup aman untuk kembali menjalani kegiatan sehari-hari.

Salah satu respons pada masa awal datang melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sumatera Barat. Dalam keterangan tertanggal 11 Oktober, PLN menyebut telah menyalurkan 150 porsi makanan siap saji bagi warga terdampak di Guo, Kuranji. Jumlah itu merujuk khusus pada penyaluran awal, bukan keseluruhan bantuan yang kemudian menyusul.

“Ketika banjir datang dan membuat masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan, tentu ada banyak hal yang menjadi kekhawatiran, mulai dari kondisi rumah hingga kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena itu, kami ingin hadir dan membantu masyarakat. Bantuan makanan siap saji ini merupakan langkah awal yang kami harapkan dapat sedikit meringankan beban warga,” ujar General Manager PLN UID Sumatera Barat Ririn Rachmawardini, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/10/2026).

Dalam keadaan normal, menyiapkan makanan mungkin pekerjaan rutin yang nyaris tak terpikirkan. Ketika tempat tinggal diterjang banjir dan aktivitas keluarga terganggu, satu porsi makanan siap santap membantu mengurangi satu beban yang harus diurus hari itu. Bantuan tidak menggantikan rumah yang rusak atau sumber nafkah yang hilang, tetapi dapat memberi ruang bagi keluarga untuk memusatkan tenaga pada hal-hal yang paling mendesak.Pada Minggu (11/10/2026), Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Padang juga menyalurkan bantuan berupa nasi bungkus, mi instan, dan minuman hangat di Lubuk Minturun dan Guo. Bantuan itu diperuntukkan bagi warga terdampak serta petugas gabungan yang bekerja dalam penanganan pascabencana. Manager PLN UP3 Padang Rudi Hamiri dan Ketua YBM PLN UP3 Padang Doni Eka Putra bersama jajaran turun langsung ke lokasi bencana.

Ada dua kebutuhan yang bertemu di sini. Keluarga terdampak memerlukan makanan ketika kehidupan sehari-hari belum pulih; para petugas yang membantu penanganan bencana pun membutuhkan dukungan agar pekerjaan di lapangan dapat berlanjut. Ririn juga mengingatkan bahwa bencana membawa kesulitan bagi warga sekaligus menuntut kerja panjang dari petugas gabungan.

“Kami memahami bahwa banjir bandang ini membawa kesedihan dan kesulitan bagi masyarakat yang terdampak. Semoga bantuan yang kami hadirkan dapat sedikit meringankan beban warga dan menjadi penyemangat bahwa masih banyak pihak yang peduli dan ingin membantu,” ujar Ririn.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada petugas gabungan yang bekerja dalam kondisi tidak mudah.TJSL PLN UID Sumatera Barat dan bantuan YBM PLN UP3 Padang merupakan dua jalur penyaluran yang berbeda. Keduanya sama-sama hadir di tengah kebutuhan darurat, tetapi tidak perlu disatukan seolah-olah satu program dengan satu angka penerima. Yang lebih penting bagi cerita warga ialah bahwa kebutuhan awal mendapat perhatian ketika aktivitas rumah tangga masih jauh dari keadaan biasa.

Sementara bantuan pangan disalurkan, pekerjaan lain berlangsung pada jaringan listrik yang rusak. Banjir mengakibatkan sejumlah tiang roboh atau miring dan merusak jaringan tegangan rendah di wilayah kerja UP3 Padang, terutama Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tabing dan ULP Kuranji. Petugas harus lebih dahulu memastikan titik kerusakan, kondisi akses, serta kemungkinan bahaya sebelum melakukan perbaikan.Menurut keterangan PLN tertanggal 11 Oktober, pekerjaan pengamanan dan penormalan jaringan dilakukan bertahap, antara lain di Pasar Lalang dan Lumin Park. PLN juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mendukung akses menuju titik terdampak. Perbaikan setelah banjir bukan sekadar menyambung sesuatu yang putus; tanah, genangan, bangunan yang rusak, dan lingkungan sekitar jaringan turut menentukan kapan pekerjaan aman dilakukan.

Di tengah pekerjaan perbaikan itu, Ririn menekankan arti pemulihan pasokan bagi warga. “Kami memahami betapa pentingnya listrik dalam proses tersebut. Karena itu, petugas PLN terus berupaya menangani jaringan yang terdampak agar pasokan listrik dapat kembali dinikmati masyarakat dengan aman,” katanya.

Listrik mempunyai tempat yang dekat dengan keseharian: penerangan, pengisian perangkat komunikasi, hingga berbagai keperluan rumah tangga. Tetapi ketika air baru saja menerjang permukiman, keinginan agar pasokan segera pulih harus berhadapan dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar, yakni keselamatan.

PLN melaporkan sebagian besar pelanggan terdampak telah kembali mendapatkan pasokan listrik dalam perkembangan penanganan yang dirilis pada 11 Oktober. Namun, ketika laporan itu disusun, dua rumah pelanggan di wilayah Tabing yang mengalami kerusakan berat masih diisolasi aliran listriknya untuk mencegah bahaya. Isolasi tersebut bersifat sementara sampai kondisi bangunan dan instalasi memungkinkan penanganan lebih lanjut.

“Bagi kami, memastikan listrik kembali menyala harus berjalan seiring dengan memastikan keselamatan masyarakat. Pada rumah yang mengalami kerusakan berat, pasokan listrik sementara kami amankan untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan penghuni,” jelas Ririn.Pernyataan itu menegaskan batas penting dari pekerjaan pemulihan: ada kalanya sambungan yang belum dinyalakan justru merupakan keputusan yang melindungi penghuni rumah. Warga juga diimbau untuk tidak menyentuh instalasi yang terendam, kabel terkelupas, ataupun jaringan yang rusak.

Kondisi berpotensi berbahaya dapat dilaporkan melalui PLN Mobile agar ditangani petugas. Di tengah keinginan untuk cepat kembali hidup normal, kehati-hatian seperti ini sama pentingnya dengan kecepatan perbaikan.

Hari-hari setelah banjir menunjukkan bahwa bantuan darurat tidak berhenti pada urusan makan. Pada Senin, 12 Oktober, PLN UID Sumatera Barat kembali menyalurkan bantuan TJSL bagi warga di Guo Kuranji dan Lubuk Minturun. Kali ini, menurut pers rilis tertanggal 13 Oktober, bantuan berupa sembako, pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak, serta air bersih.

Perubahan jenis bantuan itu menggambarkan lapisan kebutuhan pascabencana yang tidak selalu tampak sekaligus. Bahan pangan membantu menopang kebutuhan keluarga untuk hari-hari berikutnya. Pakaian menjadi persoalan ketika barang sehari-hari rusak atau sulit digunakan. Air bersih diperlukan untuk berbagai urusan rumah tangga yang tidak dapat ditunda.

Topik Menarik