Ada Inflasi di Balik Etalase?

Ada Inflasi di Balik Etalase?

Berita Utama | sindonews | Jum'at, 16 Oktober 2026 - 07:01
share

Adhitya WardhonoPeneliti dan pengajar ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan FEB-Universitas Jember

HARGA barang di etalase toko sering menjadi ukuran paling sederhana untuk menilai keadaan ekonomi. Selama harga barang tidak banyak berubah, kita merasa inflasi masih terkendali. Pemerintah pun bisa sedikit lega. Namun, pedagang membaca keadaan dari sisi lain. Harga dari pemasok bisa naik meski label harga di rak masih sama. Selisihnya harus ditanggung seseorang.

Bayangkan pemilik warung yang menerima kenaikan harga barang dari distributor. Mereka tahu pelanggan mudah berpindah ketika harga dinaikkan. Pilihannya menjadi sulit. Maka, harga jual dipertahankan, sementara keuntungan tiap barang menyusut. Bagi pembeli, keadaan terlihat biasa. Bagi pedagang, hitungannya sudah berubah.

Gambaran itu menarik ketika membaca angka inflasi terbaru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi konsumen September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Angka ini masih dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Tetapi jaraknya dengan batas atas sasaran, 3,5 persen, tinggal sedikit.

Dua Wajah Harga

Pada bulan yang sama, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) justru meningkat 6,76 persen secara tahunan. Bahkan, kenaikan harga pada kelompok bangunan dan konstruksi mencapai 9,63. Pergerakan harga di tingkat perdagangan besar terlihat lebih cepat dibandingkan harga yang dibayar konsumen.

Baca Juga: Angka Inflasi YoY 3,28 Persen, Mendagri Dorong Pemda Perkuat Langkah PengendalianKedua indikator tersebut memang mengukur kelompok barang dan tahapan transaksi yang berbeda. Indeks harga konsumen mengukur belanja rumah tangga, sedangkan IHPB mencakup transaksi di tingkat perdagangan besar. Susunan komoditasnya berbeda. Selisih kedua angka itu juga belum membuktikan bahwa keuntungan seluruh pelaku usaha sedang tergerus.

Namun, mengabaikan pergerakan harga di hulu sama kelirunya. Angka inflasi konsumen yang masuk sasaran tidak otomatis memberi kabar bahwa biaya usaha sedang baik-baik saja. Terlebih ketika komoditas energi yang menopang distribusi ikut mengalami kenaikan harga.

Keuntungan Menjadi Bantalan

Dalam wacana ekonomi, proses penerusan kenaikan biaya ke harga jual dikenal sebagai cost pass-through. Ketika biaya meningkat, pelaku usaha akan menentukan seberapa besar kenaikan tersebut bisa dibebankan kepada konsumen. Keputusannya sangat bergantung pada kondisi permintaan dan tingkat persaingan pasar. Jika harga dinaikkan terlalu cepat, barang bisa lebih sulit terjual. Mereka mungkin memilih menyerap sebagian tekanan melalui margin keuntungan.

Perusahaan besar mungkin memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya melalui keuntungan yang selama ini diperoleh. Sebaliknya, usaha kecil dengan margin terbatas menghadapi pilihan yang lebih sempit. Terlebih ketika daya beli pelanggan belum cukup kuat untuk menerima kenaikan harga.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, dampaknya bisa merembet ke aktivitas usaha. Pedagang mulai mengurangi persediaan atau menunda penambahan pekerja. Produsen pun bisa menahan ekspansi karena keuntungan semakin sulit dipertahankan. Harga di pasar mungkin belum banyak berubah, tetapi kemampuan dunia usaha untuk tumbuh mulai tertekan.

Persoalannya, tekanan semacam ini tidak selalu terlihat dalam pembacaan inflasi bulanan. Angka inflasi yang rendah mudah dianggap sebagai tanda bahwa seluruh biaya ekonomi sedang terkendali. Padahal, stabilitas harga konsumen bisa berlangsung bersamaan dengan tekanan pada keuntungan perusahaan.Tentu, kondisi tersebut belum berarti Indonesia sedang menghadapi lonjakan inflasi yang tinggi dan tidak terkendali. Aktivitas manufaktur bahkan menunjukkan kondisi perbaikan. Indeks PMI Manufaktur meningkat menjadi 52,4 pada September 2026, sementara laju kenaikan harga input mulai melambat. Karena itu, yang patut diuji adalah sektor mana yang paling tertekan, alih-alih menyimpulkan seluruh industri sedang kesulitan.

Masalahnya, perdebatan inflasi kerap cepat selesai ketika angka resmi masih dalam sasaran. Seolah-olah tugas kebijakan sudah tuntas begitu harga di tingkat konsumen terkendali dengan baik. Padahal, IHK dirancang mengukur perubahan harga yang dibayar konsumen, bukan kesehatan margin usaha. Menganggap satu indikator mampu menjelaskan seluruh tekanan harga bisa membuat kebijakan terlambat membaca persoalan yang ada.

Maka dari itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu mencermati sumber tekanan harga lebih jauh. Apalagi kenaikan harga perdagangan besar berkaitan dengan sejumlah komoditas energi, termasuk solar industri dan elpiji nonsubsidi. Perubahan harga pada komoditas tersebut bisa memengaruhi biaya distribusi dan produksi.

Jangan Salah Memberi Obat

Bank Indonesia sendiri mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 pada September 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Kebijakan tersebut bisa dimengerti ketika ketidakpastian global masih tinggi. Nilai tukar yang stabil membantu mengurangi tekanan harga impor. Namun, pengendalian inflasi melalui suku bunga memiliki keterbatasan ketika persoalan utamanya berasal dari kenaikan biaya produksi.

Suku bunga yang tinggi bisa menahan permintaan, tetapi tidak serta langsung menurunkan ongkos energi atau memperbaiki distribusi barang. Bahkan, biaya pembiayaan yang mahal berpotensi menambah tekanan bagi pelaku usaha yang membutuhkan modal kerja. Karena itu, respons kebijakan perlu mempertimbangkan asal tekanan inflasi agar upaya menjaga stabilitas harga tidak membebani kegiatan produksi secara berlebihan.

Pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar pada efisiensi distribusi dan ketersediaan pasokan energi. Sementara itu, pemantauan inflasi perlu dilengkapi dengan perkembangan biaya usaha dan harga di tingkat produsen. Dengan informasi yang lebih lengkap, risiko kenaikan harga dapat dikenali lebih awal sebelum menjalar ke konsumen.

Sebab, harga barang yang terlihat tenang di etalase belum tentu mencerminkan keadaan yang sama di belakangnya. Stabilitas harga yang sehat seharusnya lahir dari biaya ekonomi yang semakin efisien. Jika hanya melihat harga yang dibayar konsumen, kita bisa terlambat menyadari tekanan inflasi yang sedang tumbuh di sepanjang rantai produksi.

Topik Menarik