IMF: Tanpa AI, Perdagangan Global Hanya Tumbuh Loyo 4,6 Persen
Di tengah kepungan krisis energi dan bayang-bayang resesi global, lonjakan investasi serta perdagangan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tampil sebagai juru selamat pertumbuhan ekonomi dunia. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), Silvana Tenreyro mengungkapkan, bahwa tanpa 'booster' teknologi AI, laju perdagangan global dipastikan akan berjalan jauh lebih lambat.
Dalam perhelatan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bangkok pada Selasa (13/10/2026), Tenreyro membeberkan bahwa gelombang permintaan teknologi AI telah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, dengan China dan India sebagai penerima manfaat terbesar.
Tanpa AI, Perdagangan Global Tumbuh Loyo
Data penelitian terbaru, IMF mencatat bahwa sepanjang periode 2023 hingga 2025, nilai perdagangan sektor teknologi AI melonjak sangat fantastis sebesar 29. Lonjakan sektor canggih inilah yang mendongkrak total pertumbuhan perdagangan global hingga mencapai 8,3.Baca Juga: Booming AI Selamatkan Ekonomi, Rahasia Dapur Pabrik Asia Menggeliat di Tengah Perang
"Tanpa ditopang oleh perdagangan AI, pertumbuhan perdagangan global secara keseluruhan hanya akan mencapai 4,6," tegas Silvana Tenreyro, mantan profesor London School of Economics yang baru menjabat di IMF Agustus lalu.Namun, IMF memberikan peringatan keras mengenai potensi kemacetan (chokepoints). Rantai pasok teknologi AI saat ini dinilai sangat terkonsentrasi, hanya pada beberapa negara dan segmen industri tertentu, sehingga rentan memicu krisis baru jika terjadi gangguan geopolitik atau distribusi logistik.
Gelembung AI Berpotensi Pecah, Awas Skenario Mencekam
Meski ledakan AI mendorong pertumbuhan ekonomi, IMF memperingatkan bahwa skenario utama (baseline forecast) mengasumsikan bahwa lonjakan investasi ini akan mereda (dissipate) seiring berjalannya waktu. Ada bahaya terselubung jika ekspektasi profitabilitas AI tidak sebanding dengan realita di lapangan.Baca Juga: IMF Wanti-wanti, AI, Krisis Energi dan Lonjakan Utang Ancam Ekonomi GlobalTenreyro menjabarkan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi pada peta ekonomi global. Pada skenario ideal jika booming AI berlangsung lama dan benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas nyata, maka tekanan inflasi global dapat ditekan secara alami.
Sementara untuk skenario bahaya, apabila investasi AI terus membengkak tetapi gagal mendongkrak produktivitas secara signifikan. Maka manfaat pertumbuhan ekonomi akan mengecil sementara tingkat inflasi justru akan membumbung lebih tinggi.
Di sisi skenario pasar, ketika investor mulai meragukan margin keuntungan AI, akan terjadi koreksi tajam (downward adjustment) pada permintaan pasar.
"Pada dasarnya, yang kita lihat nanti adalah pembalikan (unwind) dari ledakan yang terjadi saat ini," tambah Tenreyro, sembari mengonfirmasi bahwa IMF tengah memperbarui riset mendalam terkait dampak otomatisasi AI terhadap pasar tenaga kerja.
IMF menyoroti bahwa koreksi nilai pasar dan ancaman AI terhadap keamanan siber juga bisa mempengaruhi pertumbuhan dan menambah risiko stabilitas keuangan.
Tenreyro mengatakan bahwa perkiraan dasar IMF mengasumsikan bahwa ledakan AI akan memudar seiring waktu, tetapi skenario lain menunjukkan bahwa keuntungan produktivitas nyata dari ledakan AI yang berkepanjangan bisa membatasi dampak inflasinya.









