Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Ekonomi | sindonews | Senin, 12 Oktober 2026 - 16:09
share

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 14 poin atau 0,08 menjadi Rp17.913 per dolar AS di tengah tekanan sentimen geopolitik global dan prospek kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan isu klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta data ekonomi domestik.

“Trump juga secara tak terduga mengumumkan pada hari Minggu bahwa Ukraina dan Rusia telah menyepakati gencatan senjata terkait energi; namun, pemimpin Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia tidak memberikan komentar,” tulis analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Senin (12/10/2026).

Baca Juga:Rupiah Rawan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen Defisit APBN Jadi Pemicu

Ibrahim mengatakan sentimen eksternal turut dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, termasuk laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Perkembangan tersebut berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.

Selain faktor geopolitik, pasar mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila data ekonomi mendukung langkah tersebut. Investor pada pekan ini juga menantikan rilis data inflasi konsumen dan produsen AS, data penjualan ritel, serta pernyataan pejabat The Fed yang dapat memengaruhi arah dolar AS.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada perkembangan evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia, termasuk risiko pembekuan perlakuan tertentu hingga kemungkinan penurunan status menjadi frontier market. Menurut Ibrahim, penyelesaian persoalan secara cepat dapat mengakhiri perlakuan khusus dalam sekitar satu tahun, sedangkan proses yang berlarut-larut berpotensi memperpanjang pembekuan atau meningkatkan risiko penurunan klasifikasi.Di sisi lain, data Bank Indonesia menunjukkan kinerja penjualan eceran masih tumbuh. Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 mencapai 226,5 atau tumbuh 1,3 secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,1 pada Juli 2026. Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan eceran tumbuh 0,8 setelah terkontraksi 0,1 pada bulan sebelumnya.

Baca Juga:Rupiah Rawan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Sentimen Defisit APBN Jadi Pemicu

Pertumbuhan penjualan eceran pada Agustus terutama ditopang kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang tumbuh 3,8 secara bulanan serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 1,7. BI juga memperkirakan IPR September 2026 tumbuh 1,4 secara tahunan menjadi 221,3, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.910-Rp17.960 per dolar AS. Sementara itu, sepanjang pekan ini rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.780-Rp18.060 per dolar AS.

Topik Menarik