Presiden Mesir Fattah El-Sisi Bakal Kunjungi Indonesia dan Bertemu Prabowo
Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto setelah melakukan lawatan ke Korea Selatan dan Malaysia.
Dikutip dari laman resmi Kepresidenan Mesir, kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian lawatan Presiden El-Sisi ke sejumlah negara Asia. El-Sisi bertolak ke Korea Selatan pada Selasa (6/10/2026) dan berada di sana hingga Jumat (9/10/2026). Selanjutnya, El-Sisi akan berkunjung ke Malaysia dan Indonesia.
Baca juga: Kunjungi Mesir, Prabowo: Kunjungan Kenegaraan Pertama Presiden RI Sejak 2013
“Lawatan tersebut akan diawali dengan kunjungan kenegaraan ke Republik Korea. Di sana, Presiden El-Sisi akan menggelar pembicaraan dengan Presiden Korea Lee Jae Myung,” ungkap Juru Bicara Kepresidenan sekaligus Duta Besar Mohamed El-Shennawy dalam keterangannya, dikutip Jumat (9/10/2026).
Selama kunjungan tersebut, El-Shennawy mengatakan bahwa Presiden El-Sisi juga akan berpartisipasi dalam pertemuan meja bundar bersama para CEO dan perwakilan perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan.Mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga Meninggal Dunia, Dimakamkan Sore Ini di Karawang
El-Shennawy menyebutkan rangkaian lawatan tersebut juga mencakup kunjungan kenegaraan ke Malaysia dan kunjungan ke Indonesia. Namun, pengumuman tersebut belum merinci tanggal kedatangan El-Sisi di Indonesia maupun agenda pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Tiba di Kairo, Prabowo Hadiri KTT Sharm El-Sheikh untuk Perdamaian Gaza
“Lawatan tersebut juga mencakup kunjungan kenegaraan ke Malaysia dan kunjungan ke Republik Indonesia,” ujar El-Shennawy.
Sebelumnya, El-Sisi dan Prabowo terakhir bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada 12 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, El-Shennawy mengatakan bahwa kedua pemimpin membahas berbagai aspek hubungan bilateral Mesir dan Indonesia, terutama setelah penandatanganan perjanjian kemitraan strategis antara kedua negara pada April 2025.“Keduanya juga bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan internasional, termasuk konflik Iran. Mereka menekankan pentingnya mengutamakan jalur diplomasi untuk mencapai penyelesaian damai serta menjaga kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional,” kata El-Shennawy.
Terkait isu Palestina, El-Shennawy mengatakan bahwa kedua pemimpin menegaskan pentingnya penyelesaian yang adil berdasarkan solusi dua negara, sesuai resolusi internasional. Penyelesaian tersebut mencakup pembentukan negara Palestina dengan perbatasan 4 Juni 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
“Kedua presiden juga menolak pemindahan paksa warga Palestina dari tanah mereka. Mereka menekankan perlunya pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza, kelancaran masuknya bantuan kemanusiaan, serta penghentian tindakan terhadap warga Palestina di Tepi Barat,” tutup keterangan El-Shennawy.








