Kapolri Jenderal Suyudi Geser 6 Direktur Reserse di Polda, Terbanyak Polda Metro Jaya

Kapolri Jenderal Suyudi Geser 6 Direktur Reserse di Polda, Terbanyak Polda Metro Jaya

Nasional | sindonews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:20
share

Pemimpin zalim menjadi salah satu persoalan serius yang terus muncul dalam perjalanan sejarah umat manusia. Sejak masa Khulafaurrasyidin hingga era modern, selalu ada penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan, bertindak otoriter, bahkan melakukan korupsi yang pada akhirnya merugikan masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kekuasaan. Seorang pemimpin merupakan amanahyang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, kekuasaan semestinya dijalankan dengan keadilan, kejujuran, akhlak yang baik, serta keberpihakan kepada kepentingan umat dan rakyat.

Menjadi pemimpin memang bukan perkara mudah. Berbagai ujian, godaan dan kepentingan akan selalu menyertai sebuah kekuasaan. Namun, seorang pemimpin yang memiliki moral dan akhlak yang kuat seharusnya mampu menjaga dirinya dari tindakan yang merugikan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Islam bahkan memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia. Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 42:اِنَّمَا السَّبِيۡلُ عَلَى الَّذِيۡنَ يَظۡلِمُوۡنَ النَّاسَ وَ يَبۡغُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ

Artinya: "Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih."

Baca juga:Kenapa Pemimpin Bisa Menjadi Zalim? Ini 8 Penyebabnya dalam Islam

Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kezaliman terhadap manusia bukan perkara ringan. Terlebih jika dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan dan kewenangan sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Pemimpin Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Rasulullah menjelaskan bahwa setiap orang pada dasarnya merupakan pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang berada di bawah kepemimpinannya.

Dalam sebuah hadis disebutkan:"Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, tidak memberikan perhatian kepada mereka dan terhadap kemiskinan mereka, Allah akan menutupi dirinya, tanpa memenuhi kebutuhannya, tidak memberikan perhatian kepadanya dan terhadap kemiskinannya."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam.

Pesan hadis ini sangat jelas. Seorang pemimpin tidak boleh menjauh dari persoalan rakyatnya. Kekuasaan justru menuntut seseorang untuk semakin peka terhadap kebutuhan masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi sulit.

Karena itu, dikenal pula ungkapan "Sayyid al-Qawm khaadimuhu", yang bermakna bahwa pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya.

Makna tersebut menegaskan bahwa jabatan bukanlah sarana untuk mengutamakan kepentingan pribadi. Kebijakan seorang pemimpin semestinya diarahkan untuk memberikan kemaslahatan dan melindungi kepentingan masyarakat.

Ancaman bagi Pemimpin yang Mengkhianati Amanat

Ketika kekuasaan tidak lagi digunakan untuk menegakkan keadilan, tetapi justru menjadi alat untuk menindas, mengambil hak orang lain, atau memperkaya diri sendiri, maka amanah kepemimpinan telah disalahgunakan.Dalam Islam, pengkhianatan terhadap amanah merupakan perkara serius. Terlebih apabila kezaliman tersebut dilakukan oleh seseorang yang memiliki kewenangan untuk menentukan nasib banyak orang.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kaba'ir memasukkan kezaliman hakim sebagai salah satu dosa besar. Di antaranya adalah ketika seorang hakim memutuskan perkara tanpa memenuhi rasa keadilan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an.

Keadilan menjadi prinsip utama dalam menjalankan kekuasaan. Seorang penguasa maupun hakim tidak boleh menjadikan jabatan sebagai alat untuk memenangkan kepentingan pribadi, kelompok atau pihak yang memiliki kekuatan dan pengaruh.

Suap dan Korupsi Juga Dikecam Keras

Ancaman Islam terhadap penyalahgunaan kekuasaan juga mencakup praktik suap dan korupsi. Suap dapat merusak keadilan karena keputusan tidak lagi ditentukan berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan keuntungan yang diterima oleh pihak tertentu.

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya dalam memutuskan suatu perkara."(Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).Karena itu, seorang pemimpin dituntut menjaga integritasnya. Kekuasaan yang diperoleh merupakan amanah, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi.

Pemimpin yang adil akan berusaha melindungi hak masyarakat, sedangkan pemimpin yang zalim justru menjadikan kekuasaan sebagai jalan untuk menindas dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Islam mengingatkan bahwa kekuasaan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan. Semakin besar kewenangan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT

Baca juga:3 Kisah Sahabat Nabi SAW tentang Menjaga Lisan, Teladan agar Tak Sembarangan Bicara

Topik Menarik