Potensi Investasi Data Center Rp360 T Terancam Melayang, Akankah Indonesia Ulangi Blunder 1980-an?
Indonesia saat ini berdiri di persimpangan jalan sejarah ekonomi digital. Di tengah gelombang arus modal asing setara Rp360 triliun yang berebut masuk untuk membangun infrastruktur Data Center dan Artificial Intelligence (AI), iklim investasi nasional justru dihantam ancaman ganjalan dari kebijakan pemerintah daerah (pemda).
Langkah sepihak penghentian proyek data center di Jawa Barat memicu alarm keras dari para ekonom. Banyak pihak khawatir Indonesia akan kembali "terperosok ke lubang yang sama" seperti tragedi lepasnya industri semikonduktor pada tahun 1980-an ke tangan Malaysia.
Ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini menegaskan, bahwa keputusan sepihak Gubernur Jawa Barat menghentikan pembangunan data center dengan alasan lingkungan dan pasokan air merupakan pukulan telak bagi kepastian hukum dan iklim investasi Indonesia.
Baca Juga: 65 Persen Warga AS Tolak Data Center, Trump: Kalau Menolak, Siap-siap Miskin
"Sama seperti yang terjadi sekarang di Jawa Barat di mana investasi sudah dilaksanakan tetapi secara sepihak dihentikan, ini merupakan pukulan telak terhadap investor. Kita bisa menjadi pandir seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama," ujar Didik J. Rachbini.
Kilas balik ke era 1980-an menjadi catatan kelam yang nyata. Raksasa semikonduktor dunia seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto yang sempat mendirikan fasilitas perakitan chip di Jakarta dan Bandung akhirnya hengkang ke Penang, Malaysia pada tahun 1985.
Penyebabnya adalah perselisihan kebijakan mengenai otomatisasi produksi-di mana pemerintah saat itu membatasi teknologi canggih demi memaksakan penyerapan tenaga kerja manual. Dampaknya, Malaysia kini menguasai 13 pangsa pasar global untuk pengujian dan pengemasan chip dunia, sementara Indonesia gigit jari.
Di tengah dinamika Jawa Barat, Kawasan Batam justru siap melesat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan tingkat pertumbuhan daerah mencapai 7. Batam sukses mengambil peluang emas dari keputusan Singapura yang membatasi pembangunan data center baru akibat keterbatasan lahan dan energi.
Rencana investasi data center di Batam diperkirakan menyentuh USD15 hingga 20 miliar untuk menopang target kapasitas nasional sebesar 1,3 Gigawatt."Pemerintah harus dengan segera mengantisipasi ganjalan dari pemerintah daerah, yang merusak iklim investasi. Pada sisi program di lapangan mulai dulu dari pemerintah daerah yang ramah investasi. Batam bisa menjadi hub data center utama kawasan karena Singapura mulai membatasi pembangunan baru karena keterbatasan lahan dan energi," terang Didik.
Batam bisa mengambil peluang itu, dengan didukung tiga faktor utama, dimana Indonesia merupakan pusat ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan 200 juta lebih pengguna internet. Investor raksana teknologi yang sudah ikut masuk telah mengumumkan investasi USD1,7 miliar untuk perluasan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia, sementara AWS berkomitmen USD5 miliar.
Baca Juga: Data Center jadi Fondasi Penting di Tengah Pertumbuhan Digitalisasi
Firmus bahkan membangun kampus data center di Batam dengan target 170.000 akselerator Al. Kapasitas data center nasional diproyeksikan melampaui 2.000 MW pada 2030, dengan permintaan tumbuh 16,8 per tahun menurut proyeksi Bank Dunia.
Indonesia dasarnya memiliki fondasi kuat sebagai pasar ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan lebih dari 200 juta pengguna internet. Saat ini telah beroperasi sedikitnya 182 data center -terutama di Jakarta (94 unit) dan Batam (16 unit)- yang membuktikan bahwa secara operasional Indonesia sangat siap mengelola teknologi tinggi.
Namun, untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi nasional keluar dari stagnasi 5, pemerintah pusat harus segera menertibkan kebijakan pemerintah daerah yang merusak iklim investasi. Kepastian hukum dan keramahan regulasi menjadi syarat mutlak agar kepercayaan investor yang bernilai ratusan triliun Rupiah ini tidak melayang ke negara tetangga.










