Xizhe Disebut-sebut sebagai Elon Musk Masa Depan dari China

Xizhe Disebut-sebut sebagai Elon Musk Masa Depan dari China

Teknologi | sindonews | Minggu, 27 September 2026 - 12:14
share

Di usia yang baru menginjak 13 tahun, Yang Xizhe telah memiliki lebih dari 500.000 pengikut di media sosial Tiongkok, memenangkan kompetisi pemrograman, serta menciptakan inovasi kecerdasan buatan (AI) untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Remaja asal Hangzhou, Provinsi Zhejiang, ini bahkan dijuluki oleh sejumlah influencer teknologi Tiongkok sebagai sosok jenius muda dan 'Elon Musk masa depan'.

Namun, terlepas dari julukan tersebut, Xizhe—yang memiliki tinggi badan 1,9 meter—lebih memilih untuk memandang dirinya sebagai bagian dari generasi 'AI *native*', yakni generasi yang tumbuh bersama teknologi kecerdasan buatan.

Baginya, AI menjadi semakin penting bagi generasinya, layaknya udara dan air.

Namanya mulai mencuri perhatian pada bulan Februari tahun lalu setelah sebuah video yang memperlihatkan metodenya menggunakan AI untuk menghafal kosakata bahasa Inggris berhasil meraih 20 juta penayangan.

Xizhe mengunggah gambar daftar kata ke aplikasi Doubao, lalu meminta *chatbot* tersebut untuk menyusun cerita menarik dan latihan personal berdasarkan kata-kata yang perlu ia pelajari.Metode ini tidak hanya menarik perhatian para orang tua, tetapi juga kalangan pendidik. Seorang guru kabarnya berencana menerapkan pendekatan Xizhe di kelasnya saat semester baru dimulai.

Ketertarikan Xizhe terhadap dunia pemrograman sebenarnya bermula saat ia masih duduk di kelas dua sekolah dasar.

Setelah memainkan gim video *The Legend of Zelda*, ia merasa tertarik dengan gagasan untuk menciptakan gimnya sendiri

Mengikuti saran ayahnya, ia mulai belajar secara mandiri menggunakan platform pemrograman visual Scratch sebelum beralih ke C++ dan kemudian mendalami metode pemrograman berbasis AI.

Menariknya, kedua orang tuanya tidak memiliki latar belakang formal di bidang teknologi. Kendati demikian, mereka terus mengikuti perkembangan AI demi memahami dan mendukung minat putra mereka.Tahun ini, ia melangkah lebih jauh dengan berpartisipasi dalam beberapa ajang *hackathon*.

Salah satu karyanya adalah sistem penglihatan berbasis AI yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra saat merias wajah. Proyek tersebut berhasil meraih juara pertama dalam ajang Moonshot 48 Hackathon.

Ia kemudian bergabung dengan timnya dalam kompetisi HackMIT China 2026 untuk mengembangkan wadah makanan pintar yang memanfaatkan teknologi penglihatan AI serta sensor guna memberikan rekomendasi pola makan berdasarkan profil pengguna dan jenis makanannya.

Pada bulan April, Xizhe memimpin sebuah tim yang beranggotakan anak-anak dengan usia rata-rata hanya 13 tahun dalam kompetisi RedNote.

Mereka mengembangkan perangkat berbasis AI untuk membantu para pembuat konten menganalisis dan mengoptimalkan karya mereka.Inovasi tersebut tidak hanya memenangkan penghargaan khusus, tetapi juga menarik minat sebuah perusahaan yang mengajukan penawaran pembelian senilai 100.000 yuan.

Di tengah kesibukannya mendalami AI, Xizhe menetapkan aturan bagi dirinya sendiri untuk memastikan pendidikannya tidak terbengkalai.

Ia bertekad untuk mempertahankan prestasi akademik di atas rata-rata sembari meluangkan waktu tiga jam setiap harinya untuk pemrograman.

Ia juga tidak ingin terlena oleh julukan "jenius muda" ataupun perbandingan dengan sosok Elon Musk.

Kabarnya, ia dan keluarganya menanggapi pujian-pujian semacam itu dengan sikap yang wajar dan rendah hati.

Kelak, ia bercita-cita menjadi seorang pemrogram atau peneliti AI.

Ambisinya sederhana namun memiliki makna yang mendalam. "Jika memungkinkan, saya berharap dapat membawa perubahan bagi dunia, meskipun hanya perubahan kecil," ujarnya.

Topik Menarik