Pasokan Teluk Meningkat, Harga Minyak Dunia Jatuh di Bawah USD100 per Barel
Harga minyak mentah dunia melanjutkan penurunan pada Rabu, tertekan meningkatnya pasokan dari kawasan Teluk setelah Arab Saudi kembali mengoperasikan jalur pipa strategis. Optimisme terhadap peluang penyelesaian diplomatik konflik AS-Iran turut membebani harga minyak acuan global.
"Harga minyak terus melemah seiring pasar menilai kembali prospek pasokan global yang dinilai lebih konstruktif dibandingkan beberapa pekan lalu," kata Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer dalam keterangannya kepada Reuters, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga:Selat Hormuz Sepi Bak Kuburan, Kapal yang Melintas Tinggal 2 Tanker
Pada Rabu pukul 11.45 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun USD1,09 atau 1,1 menjadi USD98,16 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 melemah USD1,50 atau 1,67 menjadi USD89,01 per barel.
Kedua kontrak tersebut telah turun selama enam sesi berturut-turut dan berada di posisi terendah dalam dua pekan terakhir. Harga Brent bahkan ditutup di bawah USD100 per barel pada Selasa untuk pertama kalinya sejak 8 September 2026.
Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah Arab Saudi pada Selasa kembali mengoperasikan Jalur Pipa East-West menuju Laut Merah. Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan pengoperasian kembali jalur pipa itu menandai pemulihan aliran minyak di kawasan setelah serangan drone pada 11 September memaksa Saudi menutup jalur tersebut.
Jalur pipa tersebut dapat mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4 pasokan global, menuju pelabuhan Yanbu sehingga mengurangi ketergantungan pengiriman melalui Selat Hormuz. Saudi juga menawarkan tambahan pasokan kepada kilang-kilang Asia yang dapat diambil dari lokasi di luar Selat Hormuz.
Dari sisi pasokan lainnya, Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan negaranya mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari dan berharap dapat meningkatkan ekspor melalui Turki hingga lebih dari 600.000 barel per hari. Sementara itu, data sementara Vortexa dan Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Irak pada Agustus masing-masing mencapai 2,3 juta dan 2,17 juta barel per hari, meningkat dari Juli meski masih di bawah level sebelum perang pada Februari.
Baca Juga:Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih 2, Terseret Harapan Diplomasi AS-Iran
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan diplomasi AS-Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan produktif dengan mediator Iran, sementara Tim Waterer menilai pertemuan delegasi kedua negara di New York memberikan harapan bagi pedagang terhadap kemungkinan perundingan; di sisi lain, data industri menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,8 juta barel dalam sepekan hingga 18 September, berlawanan dengan perkiraan analis yang disurvei Reuters.









