Selat Hormuz Sepi Bak Kuburan, Kapal yang Melintas Tinggal 2 Tanker

Selat Hormuz Sepi Bak Kuburan, Kapal yang Melintas Tinggal 2 Tanker

Ekonomi | sindonews | Rabu, 23 September 2026 - 07:43
share

Lalu lintas kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun drastis hanya tinggal dua kapal pada Senin (21/9), dari 10 kapal sehari sebelumnya berdasarkan data awal pelayaran yang dihimpun Kpler. Penurunan tersebut membuktikan masih tingginya tekanan terhadap jalur perdagangan strategis yang menjadi salah satu pintu utama pengiriman energi dunia.

"Tanggung jawab atas kedua insiden tersebut masih belum terkonfirmasi dan tidak ada satu pun dari kedua kapal yang tercatat dalam daftar 'non-compliant' yang dipublikasikan otoritas Iran," kata perusahaan intelijen dan pelacakan pelayaran Marisks Intelligence dalam laporannya dikutip dari Reuters, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Iran Siap Buka Lagi Selat Hormuz dalam 7 Hari Jika AS Kurangi Tekanan Militer dan Cabut Blokade

Data Kpler menunjukkan dua kapal yang melintas tersebut terdiri atas kapal Supramax berbendera Panama yang mengangkut mineral dan kapal curah berbendera Liberia. Data itu tidak mencakup kapal yang mungkin melintasi Selat Hormuz dengan mematikan sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS) untuk menghindari deteksi.

Sebelum konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz rata-rata dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar per hari, termasuk kapal tanker, pengangkut gas, kapal curah, dan kapal kontainer. Jalur tersebut juga menjadi salah satu rute utama perdagangan energi global dengan sekitar 20 pasokan minyak mentah dan LNG dunia melintas melaluinya.

Tekanan terhadap pelayaran semakin terlihat setelah sebuah kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut LPG dilaporkan diserang dalam dua insiden terpisah. Kapal tanker minyak mentah LR Stephanie berbendera Isle of Man terkena proyektil tak dikenal ketika memasuki selat pada Senin dan menyebabkan dua awak mengalami luka ringan, sementara kapal tanker LPG Al Maryah berbendera Liberia diserang ketika keluar dari selat pada Minggu.Meski mengalami serangan, kedua kapal tersebut tetap dapat melanjutkan pelayaran tanpa bantuan penarik. Universal Tanker Corp., pengelola LR Stephanie, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters, sementara kantor media ADNOC Logistics and Services menyatakan tidak mengomentari persoalan operasional spesifik termasuk rencana perjalanan atau pergerakan kapal.

Baca Juga:Perang Timur Tengah Guncang Pasokan LNG, Indonesia Berpeluang Rebut Pasar Asia

Kondisi tersebut menambah ketidakpastian terhadap kelancaran arus perdagangan energi melalui kawasan Teluk, meski sebagian kapal masih berupaya melintasi jalur tersebut. Sebagai pembanding, lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah relatif stabil, dengan 26 kapal melintas pada Senin, sama seperti sehari sebelumnya.

Penurunan lalu lintas di Selat Hormuz menjadi perhatian bagi pasar energi dan perdagangan global karena gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak dan gas serta meningkatkan risiko terhadap rantai pasok internasional. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada kondisi keamanan dan kemampuan kapal komersial kembali melintasi selat secara normal.

Topik Menarik