IEU-CEPA Dipercepat, Pengusaha: Produk Indonesia Semakin Banyak Masuk Eropa
JAKARTA – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) merespons percepatan ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan tersebut dinilai membuka peluang baru bagi perdagangan, investasi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Hipmi Ade Jona Prasetyo menilai IEU-CEPA tidak boleh dilihat sebatas penurunan tarif. Bagi Indonesia, kesepakatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperluas basis ekspor, meningkatkan daya saing industri nasional, serta mendorong lebih banyak perusahaan Indonesia masuk ke pasar global.
“Kami menyambut positif percepatan IEU-CEPA. Setelah akses pasar semakin terbuka, target kita bukan hanya menjual lebih banyak barang ke Eropa. Kita ingin semakin banyak perusahaan Indonesia yang naik kelas, memiliki standar global, dan membangun jaringan bisnis internasional,” ujar Ade Jona, Minggu (23/8/2026).
Pemerintah menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA selesai pada semester II-2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027. Kesepakatan tersebut diproyeksikan menghapus tarif pada lebih dari 98 persen pos tarif. Nilai perdagangan barang Indonesia dan Uni Eropa tercatat sekitar €27,3 miliar pada 2024.
Menurut Ade Jona, peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk unggulan Indonesia, mulai dari kopi, kakao, karet, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, produk perikanan, furnitur, hingga komponen listrik dan elektronik.
Namun, ia mengingatkan bahwa terbukanya pasar belum otomatis meningkatkan ekspor. Pasar Eropa memiliki standar tinggi terkait kualitas, sertifikasi, traceability, keamanan produk, hingga keberlanjutan.
“Tarif boleh turun, tetapi kalau produk kita belum memenuhi standar, biaya sertifikasinya tinggi atau pengusaha tidak memiliki akses kepada buyer, peluangnya tidak akan maksimal. Jadi setelah negosiasi selesai, pekerjaan berikutnya adalah mempersiapkan dunia usaha,” katanya.
Hipmi melihat sedikitnya empat hal yang perlu menjadi perhatian dalam implementasi IEU-CEPA, yakni percepatan standardisasi dan sertifikasi, pembiayaan ekspor yang kompetitif, perluasan akses kepada buyer melalui business matching dan misi dagang, serta peningkatan kapasitas produksi agar pelaku usaha mampu menjaga volume dan kualitas secara konsisten.
“Banyak pengusaha kita punya produk yang bagus. Tantangannya sering berada pada skala produksi, konsistensi kualitas, pembiayaan, sertifikasi, dan akses pasar. Kalau hambatan-hambatan ini bisa kita pecahkan, akan lebih banyak pengusaha Indonesia yang mampu menjadi eksportir,” ujar Ade Jona.
Selain ekspor, Ade Jona menilai IEU-CEPA harus dimanfaatkan untuk menarik investasi Eropa yang dapat memperkuat struktur industri Indonesia, khususnya pada sektor manufaktur, teknologi, energi hijau, kendaraan listrik, elektronik, dan farmasi.
Investasi tersebut, menurutnya, idealnya membawa transfer teknologi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, serta membangun keterkaitan dengan perusahaan dan pemasok dalam negeri.
“Kita ingin hubungan ekonomi Indonesia-Eropa berjalan dua arah. Produk Indonesia semakin banyak masuk Eropa, sementara investasi dan teknologi Eropa masuk untuk memperkuat kapasitas industri kita. Dengan begitu, manfaat IEU-CEPA tidak berhenti pada perdagangan, tetapi ikut meningkatkan produktivitas ekonomi nasional,” jelasnya.
Ade Jona mengatakan Hipmi siap mengambil peran dengan memanfaatkan jaringan pengusaha muda di seluruh Indonesia untuk mengidentifikasi produk dan perusahaan potensial yang dapat didorong memasuki pasar Eropa.
Ia juga menekankan agar manfaat IEU-CEPA tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Pengusaha daerah dan UMKM yang memiliki kapasitas perlu dipersiapkan menjadi eksportir langsung maupun masuk ke rantai pasok perusahaan berorientasi ekspor.
“Ukuran keberhasilannya nanti bukan sekadar berapa persen ekspor meningkat. Kita harus melihat apakah lahir eksportir baru, apakah UMKM naik kelas, apakah perusahaan menengah Indonesia berkembang menjadi pemain global, dan apakah investasi yang masuk memperkuat industri dalam negeri,” kata Ade Jona.
“IEU-CEPA membuka pintu yang besar. Sekarang tugas kita memastikan pengusaha Indonesia memiliki kapasitas untuk masuk, bersaing, dan tumbuh di pasar global,” tutupnya.









