Houthi Serang Fasilitas Sensitif di Arab Saudi

Houthi Serang Fasilitas Sensitif di Arab Saudi

Global | sindonews | Senin, 21 September 2026 - 21:31
share

Rudal dan drone Houthi menghantam sejumlah "lokasi sensitif" di seluruh Arab Saudi, termasuk di ibu kota Riyadh. Demikian diumumkan kelompok militan Yaman tersebut, menandai eskalasi baru dalam konflik mereka yang kembali memanas dengan kerajaan tersebut.

Kobaran api dan kolom besar asap hitam terlihat membubung di dekat Bandara Internasional King Khalid pada hari Sabtu, sementara penerbangan mengalami penundaan dan pembatalan. Arab Saudi menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik yang mengarah ke Riyadh dan menggagalkan beberapa serangan lainnya.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya juga menargetkan fasilitas milik perusahaan minyak raksasa negara, Saudi Aramco, di kota Yanbu di wilayah barat. Ia menggambarkan serangan akhir pekan tersebut sebagai balasan atas serangan koalisi pimpinan Saudi baru-baru ini terhadap Yaman.

Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam melawan Houthi sejak melakukan intervensi dalam perang saudara negara itu pada tahun 2015. Pertempuran berskala besar sebagian besar telah mereda setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 2022, namun konflik kembali meletus pada musim panas ini setelah sebuah bandara di Sanaa yang dikuasai Houthi dibom untuk mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi dari Teheran mendarat. Houthi menyalahkan Riyadh, menyatakan berakhirnya gencatan senjata, dan memulai kampanye baru yang menargetkan wilayah Saudi.

Sejak saat itu, mereka telah merebut wilayah-wilayah penting di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, termasuk posisi-posisi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Secara resmi dikenal sebagai gerakan Ansarullah, Houthi saat ini menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar wilayah utara dan barat negara tersebut.

Pasukan pimpinan Saudi telah merespons dengan melancarkan kembali serangan udara di wilayah Yaman. Analis politik Saudi, Faisal Alshammeri, mengatakan kepada RT bahwa serangan-serangan terbaru ini dapat memaksa Riyadh untuk memberikan respons yang lebih keras, meskipun mereka berupaya menghindari terseret kembali ke dalam perang darat berskala besar di Yaman.

Ia juga mencatat bahwa eskalasi ini bisa menjadi ujian besar pertama bagi perjanjian pertahanan Mekkah yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan; ia memprediksi bahwa Ankara dan Islamabad akan memberikan dukungan intelijen dan pertahanan udara alih-alih ikut serta dalam serangan langsung terhadap kelompok Houthi.

Sementara itu, Houthi telah secara tegas memperingatkan negara-negara lain agar tidak bergabung dalam kampanye militer Saudi. Pejabat senior Houthi, Mohamed al-Bukhaiti, mengatakan kepada AP pada hari Minggu bahwa kelompoknya siap bertempur di berbagai front jika negara asing turut campur, sembari menegaskan bahwa operasi mereka saat ini di Laut Merah ditujukan terhadap Arab Saudi, bukan terhadap kapal-kapal AS atau kapal asing lainnya.

Konflik Yaman yang kembali memanas ini semakin terkait erat dengan konflik yang lebih luas antara AS-Israel dan Iran. Houthi secara terbuka menyatakan dukungan kepada Teheran awal tahun ini, sementara pertempuran di sekitar Selat Hormuz memaksa Arab Saudi untuk semakin bergantung pada jalur pengiriman minyak melalui Laut Merah—jalur yang kini terancam oleh pergerakan maju pasukan Houthi.

Tekanan yang terus meningkat terhadap jalur pasokan energi di Timur Tengah telah menjaga harga minyak tetap di atas USD100 per barel, dengan harga minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan di kisaran USD104 pada hari Jumat.

Topik Menarik