Sudah Hijrah, Tapi Mengapa Harus Terus Minta Hidayah? Ini Jawabannya

Sudah Hijrah, Tapi Mengapa Harus Terus Minta Hidayah? Ini Jawabannya

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 21 September 2026 - 05:15
share

Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau lingkungan pergaulan. Lebih dari itu, hijrah merupakan perjalanan meninggalkan sesuatu yang tidak diridhai Allah menuju kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.

Karena itu, ketika seseorang diberi kemampuan untuk meninggalkan maksiat, menjaga salat, rajin menuntut ilmu, hingga istiqamah dalam kebaikan, semua itu patut dipandang sebagai nikmat besar. Hidayahuntuk berhijrah merupakan anugerah yang tidak ternilai bagi seorang hamba.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta'ala berfirman:

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ

"Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Kuberi petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Kuberi petunjuk." (HR Muslim)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa hidayah merupakan karunia Allah yang sangat besar. Seseorang dapat melakukan berbagai bentuk ketaatan bukan semata karena kemampuan dirinya, melainkan karena Allah membukakan jalan dan meneguhkan hatinya.

Baca juga:5 Janji Allah tentang Rezeki Setelah Menikah, Jangan Takut Miskin

Hidayah Merupakan Nikmat Terbesar

Bila ditanya mengenai anugerah Allah yang paling besar bagi seorang hamba, hidayah merupakan salah satu nikmat yang tidak ternilai. Kemampuan melaksanakan salat tepat waktu, menjalankan puasa, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu agama, menjauhi maksiat hingga merasakan manisnya iman, semuanya tidak terlepas dari hidayah Allah.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak merasa bahwa perubahan menuju kebaikan sepenuhnya merupakan hasil kekuatan dirinya sendiri.

Allah bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa meminta petunjuk. Sebab, hanya Allah yang mampu membuka hati, menundukkannya kepada kebenaran dan memberikan keteguhan untuk terus berada di jalan-Nya.

Hal tersebut juga tercermin dalam doa yang terus dibaca umat Islam dalam setiap rakaat salat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS Al-Fatihah: 6)

Doa tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan seorang Muslim terhadap hidayah tidak berhenti setelah seseorang memutuskan untuk berhijrah. Hidayah juga diperlukan agar seseorang mampu mempertahankan keistiqamahan.

Rasulullah Juga Memohon Keteguhan Hati

Besarnya kebutuhan terhadap hidayah juga dapat dilihat dari kisah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya menukil riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu mengenai sebab turunnya QS Al-Isra' ayat 73-74.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl dan sejumlah orang Quraisy datang menemui Rasulullah. Mereka mengajak Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengikuti kepercayaan mereka dengan iming-iming mereka akan mengikuti agama yang dibawanya.

Rasulullah merasa berat untuk berpisah dengan kaumnya. Beliau juga sangat menginginkan agar mereka memperoleh hidayah dan masuk Islam. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

"Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, (di atas hidayah), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS Al-Isra': 73-74).

Imam As-Suyuthi menyebut riwayat tersebut sebagai riwayat yang paling sahih mengenai sebab turunnya ayat tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa sanadnya jayyid dan memiliki penguat dari jalur lain dalam kitab Lubab At-Taqul fi Asbabi An-Nuzul.Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa keteguhan hati di atas kebenaran merupakan karunia Allah. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan penguatan dari Allah agar tetap teguh menghadapi berbagai godaan dan tekanan.

Jangan Merasa Hijrah Hanya karena Diri Sendiri

Jika Rasulullah saja mendapatkan penguatan dari Allah, maka manusia biasa semestinya semakin menyadari betapa pentingnya memohon hidayah dan keteguhan hati.

Seseorang yang hari ini mampu meninggalkan kebiasaan buruk tidak seharusnya merasa bahwa perubahan itu semata-mata karena kehebatan dirinya. Begitu pula orang yang telah berhijrah hendaknya tidak merasa aman dari kemungkinan berubah kembali.

Hidayah adalah nikmat yang harus disyukuri sekaligus dijaga.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nahl: 18).

Maka, bagi seseorang yang telah memutuskan berhijrah, menjaga hidayah merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut. Bukan hanya berani meninggalkan masa lalu, tetapi juga terus memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan.

Pada akhirnya, hijrah bukanlah garis akhir. Hijrah adalah perjalanan yang membutuhkan hidayah, taufik dan pertolongan Allah hingga akhir kehidupan.

Semoga setiap Muslim yang telah berhijrah senantiasa diberi keteguhan hati untuk menjaga hidayah tersebut dan istiqamah di jalan kebenaran. Wallahu A'lam

Baca juga:Pernikahan Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?

Topik Menarik