Kisah Julaibib, Sahabat Miskin yang Rezekinya Berubah Setelah Menikah
Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ini bukanlah sosok yang gagah atau kaya. Bernama Julaibib dan ia bukanlah sosok yang diperhitungkan di tengah masyarakat Arab kala itu. Ia miskin, berwajah kurang rupawan, tidak memiliki rumah, harta, bahkan tidak jelas berasal dari kabilah mana.
Di tengah masyarakat yang kala itu sangat menjunjung tinggi nasab, kabilah, rupa dan kekayaan, kondisi tersebut membuat Julaibib kerap dipandang sebelah mata. Namun, Rasulullah SAW justru melihat sesuatu yang berbeda. Bagi Nabi, kemuliaan seseorangtidak ditentukan oleh harta, rupa maupun kedudukan sosial.
Bahkan, Rasulullah SAW pernah berusaha mencarikan jodoh untuk sahabatnya tersebut. Dari sinilah bermula kisah penuh hikmahtentang Julaibib yang akhirnya menikahi putri salah satu pemuka masyarakat.
Rasulullah Tawarkan Julaibib untuk Menikah
Julaibib dikenal sebagai salah satu prajurit Muslim yang ikut dalam peperangan. Meski demikian, kehidupannya jauh dari kemewahan.Suatu hari, Rasulullah SAW mendatangi Julaibib dan bertanya:
“Julaibib, tidakkah kau ingin menikah?”
Julaibib tersenyum. Ia kemudian menjawab, “Siapakah orang yang ingin menikahkan putrinya denganku yang seperti ini, wahai Rasulullah?”
Baca juga:5 Janji Allah tentang Rezeki Setelah Menikah, Jangan Takut MiskinRasulullah SAW kembali menanyakan hal yang sama. Julaibib pun memberikan jawaban serupa sembari tersenyum.
Namun, Rasulullah tidak menyerah.
Pada hari berikutnya, Nabi mengajak Julaibib mendatangi rumah salah seorang pemuka masyarakat. Sesampainya di sana, Rasulullah SAW menyampaikan maksud kedatangannya.
“Aku ingin melamar putri kalian.”Mendengar perkataan Rasulullah, sang pemilik rumah tentu merasa sangat gembira. Namun, Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa lamaran tersebut bukan untuk dirinya.
“Jika bukan untukmu, wahai Rasulullah, lantas untuk siapa?” tanyanya.
“Untuk Julaibib,” jawab Rasulullah SAW.
Sang pemuka masyarakat pun terkejut.
“Julaibib?”
“Ya, untuk Julaibib,” tegas Rasulullah.
Ia kemudian meminta izin untuk membicarakan lamaran tersebut terlebih dahulu dengan istrinya.
Terkejut Mendengar Lamaran
Ketika sang ayah menyampaikan lamaran Rasulullah kepada istrinya, awalnya sang istri merasa sangat bahagia.Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi keterkejutan setelah mengetahui bahwa calon suami putrinya bukan Rasulullah, melainkan Julaibib.
“Julaibib? Bagaimana bisa putri kita yang cantik dinikahkan dengan Julaibib yang berwajah buruk, tidak jelas nasab dan kabilahnya, tidak berpangkat serta tidak berharta?” demikian penolakan sang ibu.
Perdebatan pun terjadi di antara kedua orang tua tersebut.
Tanpa mereka sadari, putri mereka ternyata mendengar pembicaraan itu.Ia kemudian keluar dan berkata kepada kedua orang tuanya:
“Siapa yang meminta?”
Kedua orang tuanya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW yang meminta agar putri mereka dinikahkan dengan Julaibib.
Sang putri kemudian berkata:
“Jika Rasulullah yang meminta, apakah pantas kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka aku akan menerimanya. Rasulullah tidak akan membawa pada kehancuran.”
Akhirnya, putri tersebut menerima lamaran Julaibib.
Malam Pertama, Julaibib Tinggalkan Istri demi Perang
Pernikahan Julaibib dengan putri pemuka masyarakat itu pun berlangsung.
Namun, belum sempat menikmati kehidupan rumah tangga sebagaimana pasangan pengantin baru pada umumnya, suara genderang perang terdengar.
Sebagai seorang prajurit Muslim, Julaibib tidak ragu meninggalkan kehidupan pribadinya. Ia berangkat bersama pasukan untuk berjihad di jalan Allah.
Perang pun berlangsung.Setelah peperangan berakhir, Rasulullah SAW mulai mengabsen para sahabat. Satu per satu nama mereka disebut.
Kemudian Rasulullah bertanya kepada para sahabat:
“Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”
Pertanyaan tersebut diulang hingga tiga kali.
Para sahabat menjawab bahwa mereka tidak kehilangan siapa pun.
Rasulullah SAW kemudian bersabda:
“Aku kehilangan Julaibib. Carilah dia!”
Para sahabat pun segera mencari Julaibib.
Mereka akhirnya menemukan jasadnya tergeletak di antara sejumlah mayat musuh. Dalam kisah tersebut disebutkan Julaibib telah membunuh tujuh atau sepuluh orang musuh sebelum akhirnya gugur sebagai syahid.
Menurut riwayat yang disebutkan dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW kemudian mengangkat jasad Julaibib dan mengantarkannya hingga ke liang kubur.“Aku Bagian dari Julaibib dan Julaibib Bagian Dariku”
Kisah Julaibib menunjukkan bagaimana seseorang yang selama hidupnya dipandang rendah justru mendapatkan tempat istimewa di sisi Rasulullah SAW.
Dalam kisah tersebut disebutkan perkataan Rasulullah SAW:
“Aku adalah bagian dari Julaibib dan Julaibib adalah bagian dariku.”
Perkataan itu membuat para sahabat iri terhadap kedudukan Julaibib.
Sahabat yang sebelumnya tidak memiliki harta, rumah, rupa yang dianggap menarik, maupun kedudukan dalam kabilah justru memperoleh kemuliaan karena keimanannya.
Hikmah Kisah
Kisah Julaibib juga menjadi gambaran bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak selalu sama dengan ukuran yang digunakan manusia dalam menilai seseorang.Harta, nasab, rupa dan kedudukan sosial dapat membuat seseorang dihormati di mata manusia. Namun, kisah Julaibib mengingatkan bahwa semua itu bukan jaminan seseorang memiliki kemuliaan di hadapan Allah.
Pada akhirnya, pernikahan Julaibib dengan putri pemuka masyarakat dan kisah syahidnya di medan perang menjadi pelajaran tentang bagaimana Allah dapat mengangkat derajat seseorang yang sebelumnya dipandang sebelah mata.
Hikmah kisah Julaibib: Jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan rupa, harta, nasab atau kedudukan. Apa yang terlihat rendah di mata manusia belum tentu rendah di sisi Allah. Begitu pula sesuatu yang sangat diagungkan manusia belum tentu menjadi ukuran kemuliaan yang sebenarnya.
Baca juga:Pernikahan Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?










