Houthi Rilis Video Jet Tempur F-15 Arab Saudi Ditembak Jatuh, Sangkal Serang Makkah
Kelompok Houthi di Yaman pada Rabu mengeklaim telah berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Kerajaan Arab Saudi saat pesawat tersebut menjalankan apa yang mereka sebut sebagai "operasi permusuhan". Kelompok itu kemudian merilis video jet tempur F-15 Saudi yang terbakar untuk menguatkan klaim tersebut.
Menurut Houthi, jet tempur buaatan Amerika Serikat tersebut ditembak jatuh menggunakan rudal udara-ke-udara buatan lokal.
Baca Juga: Media Zionis: Pangeran Mohammed bin Salman Minta Bantuan Israel untuk Melawan Houthi Yaman
Presiden Iran: Perang dengan AS Harus Diakhiri saat Teheran dalam Posisi Kuat dan Bermartabat
"Angkatan Bersenjata Yaman, dengan pertolongan dan karunia Allah, berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur Saudi F-15 ketika menjalankan operasi permusuhan untuk mendukung mobilisasi militernya di wilayah udara Provinsi Marib," kata juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, melalui media sosial.
Houthi kerap menggunakan nama Angkatan Bersenjata Yaman sebagai nama militernya karena kelompok itu merasa sebagai pihak berkuasa yang sah atas Yaman. Kendati demikian, dunia internasional hanya mengakui pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.Menurut Saree, jet tempur itu F-15 Arab Saudi ditembak jatuh di wilayah Provinsi Marib. Video yang dirilis menunjukkan reruntuhan jet tempur tersebut terbakar di atas gurun.Video berdurasi sekitar empat menit itu merupakan kompilasi sejumlah rekaman. Tayangan diawali dengan momen ketika jet menjadi sasaran serangan, kemudian beralih ke suasana malam hari yang memperlihatkan kobaran api besar dan kepulan asap membubung dari daratan, yang diduga merupakan kondisi sesaat setelah pesawat jatuh.
Rekaman pada siang hari kemudian memperlihatkan serpihan logam yang berserakan, bengkok, dan menghitam akibat terbakar di medan gurun berbatu. Sejumlah bagian struktur pesawat ditampilkan dari jarak dekat, termasuk sebuah stabilizer vertikal besar yang berdiri tegak dengan tanda-tanda yang disebut konsisten dengan pesawat milik Arab Saudi.
Sejumlah pria bersenjata yang mengenakan kombinasi perlengkapan militer dan pakaian tradisional Yaman terlihat berada di sekitar puing-puing. Beberapa di antaranya membawa senapan, sementara seorang lainnya terlihat menunjuk ke arah reruntuhan pesawat.
Para milisi Houthi juga terlihat melaju melintasi gurun menggunakan kendaraan pikap. Dalam salah satu adegan, mereka menembaki sebuah kendaraan yang bergerak mendekat.
"Kami sekarang, insya Allah, sedang melakukan operasi untuk...memutus musuh," kata salah seorang milisi Houthi dalam video tersebut.Saree juga menuduh Arab Saudi telah melancarkan 450 serangan.
Arab SaudiKlaim Makkah Diserang, Houthi Menyangkal
Pada hari yang sama, koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang melawan Houthi menuduh kelompok tersebut menargetkan kota suci umat Islam, Makkah. Tuduhan itu memicu kemarahan di sejumlah negara Muslim dan semakin memperuncing konflik yang mengguncang kawasan."Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone musuh yang diluncurkan oleh Teroris Milisi Houthi sebelum memasuki wilayah udara terlarang di kawasan Kota Suci Makkah Al-Mukarramah," demikian pernyataan koalisi yang diunggah juru bicaranya, Turki al-Maliki, di X.
Al-Maliki menyebut insiden tersebut sebagai "tindakan terorisme". Dia menegaskan bahwa keamanan Dua Masjid Suci dan para jemaah merupakan "garis merah".
Menurut dia, ini merupakan upaya kedua untuk menargetkan Makkah. Al-Maliki merujuk pada peluncuran rudal balistik pada Juli 2017, yang menurut Arab Saudi, juga diarahkan ke wilayah Makkah.
Namun, Houthi membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "rekayasa dan kebohongan".
"Rekayasa dan kebohongan yang disebarkan rezim Al-Saud yang kriminal mengenai penargetan Makkah yang mulia tidak dapat menipu siapa pun. Merekalah yang menodainya dengan pesta pora dan kemaksiatan serta dengan mengimpor para pelacur, dan tidak ada ancaman dari Yaman terhadap tempat-tempat suci," demikian pernyataan Houthi, yang dilansir NDTV, Kamis (17/9/2026).
Konfrontasi terbaru ini berlangsung di tengah konflik yang lebih luas di Asia Barat. Serangkaian serangan Houthi dan serangan udara Arab Saudi kembali membuka front baru yang semakin memperumit krisis keamanan di kawasan tersebut.






