Kisah Pengusiran Bani Nadhir, Diabadikan dalam Surat Al-Hasyr Surat yang Turun di Bulan Rabiul Akhir

Kisah Pengusiran Bani Nadhir, Diabadikan dalam Surat Al-Hasyr Surat yang Turun di Bulan Rabiul Akhir

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 14 September 2026 - 10:53
share

Rabiul Akhir dikenal juga sebagai bulan turunnya Surat Al-Hasyr. Surat ini mengabadikan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni pengusiran kaum Yahudi Bani Nadhir dari Madinah. Peristiwa tersebut terjadi setelah mereka melanggar perjanjian dengan Rasulullah dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad.

Surat Al-Hasyr merupakan surah ke-59 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 24 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah. Nama Al-Hasyr berarti pengusiran atau pengumpulan, merujuk pada peristiwa terusirnya Bani Nadhir dari Madinah.

Kisah tersebut tidak hanya menggambarkan konflik antara Rasulullah dengan Bani Nadhir, tetapi juga memuat sejumlah pelajaran mengenai pentingnya menepati perjanjian, bahaya pengkhianatanserta pertolongan Allah kepada orang-orang beriman.

Piagam Madinah dan Kehidupan Bani Nadhir

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau membangun tatanan kehidupan masyarakat melalui kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

Kesepakatan tersebut melibatkan berbagai kelompok yang tinggal di Madinah, termasuk kaum Muslimin, kaum musyrikin dan komunitas Yahudi. Mereka memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan kota dan tidak saling mengkhianati. Saat itu terdapat tiga kelompok Yahudi utama di Madinah, yakni Bani Qainuqa', Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.

Baca juga:Keutamaan dan Amalan Bulan Rabiul Akhir yang Perlu Diketahui MuslimRasulullah tetap memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan ajaran agama masing-masing. Hubungan sosial dan perdagangan antara kaum Muslimin dan Yahudi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hubungan tersebut kemudian mengalami keretakan akibat sejumlah pelanggaran perjanjian.

Bani Qainuqa' tercatat sebagai salah satu kelompok yang terlebih dahulu berkonflik dengan kaum Muslimin hingga akhirnya mereka meninggalkan Madinah.

Keraguan terhadap Rasulullah

Setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar pada tahun 2 Hijriah, posisi Rasulullah di Madinah semakin kuat. Kemenangan tersebut disebut membuat sebagian orang Yahudi semakin menyadari bahwa Muhammad adalah sosok yang memiliki kedudukan penting sebagaimana ciri-ciri yang mereka kenal dari kitab mereka.

Namun, mereka tetap menolak beriman kepada Rasulullah. Salah satu sebab yang disebut dalam sejumlah penjelasan sejarah adalah fanatisme kesukuan dan penolakan terhadap kenyataan bahwa Nabi Muhammad berasal dari bangsa Arab, bukan dari Bani Israil.

Ketika kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam Perang Uhud, kondisi tersebut semakin memperbesar keberanian sebagian pihak untuk menentang Rasulullah. Dalam situasi inilah ketegangan dengan Bani Nadhir semakin meningkat.

Rencana Pembunuhan terhadap Rasulullah

Salah satu rangkaian peristiwa yang kemudian mengantarkan pada konflik dengan Bani Nadhir adalah kasus Bi'r Ma'unah. Dalam peristiwa tersebut, sekitar 70 sahabat yang diutus untuk mengajarkan Al-Qur'an terbunuh akibat pengkhianatan.

Salah seorang sahabat yang selamat, Amr bin Umayyah, kemudian kembali menuju Madinah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan dua orang dari Bani Amir dan membunuh keduanya karena menyangka mereka termasuk pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan para sahabat.

Setelah tiba di Madinah, Amr melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah. Nabi kemudian menjelaskan bahwa kedua orang itu memiliki perjanjian perlindungan dengan kaum Muslimin. Rasulullah pun memutuskan membayar diyat atas kematian keduanya.Karena Bani Nadhir memiliki kekayaan, Rasulullah mendatangi mereka untuk meminta bantuan dalam pembayaran diyat tersebut.Pada awalnya, Bani Nadhir menyatakan kesediaannya membantu. Namun, ketika Rasulullah berada di tempat mereka bersama sejumlah sahabat, sebagian orang Bani Nadhir justru merencanakan pembunuhan terhadap Nabi.

Salah seorang dari mereka, Amr bin Jihasy, disebut bersiap menjatuhkan batu penggilingan dari tempat yang lebih tinggi ke arah Rasulullah. Rencana tersebut gagal. Rasulullah kemudian meninggalkan tempat itu setelah mendapat pemberitahuan mengenai rencana tersebut. Peristiwa itu menjadi pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat.

Bani Nadhir Diperintahkan Meninggalkan Madinah

Setelah mengetahui rencana pembunuhan tersebut, Rasulullah mengutus Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan keputusan kepada Bani Nadhir agar mereka meninggalkan Madinah.

Mereka diberi waktu selama sepuluh hari. Jika tetap bertahan setelah batas waktu tersebut, mereka akan menghadapi tindakan tegas dari kaum Muslimin.

Dalam kondisi tersebut, Bani Nadhir sempat bersiap meninggalkan Madinah. Namun, situasi berubah setelah datang kelompok munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka memberikan dorongan kepada Bani Nadhir agar tidak meninggalkan Madinah. Mereka bahkan menjanjikan bantuan pasukan untuk menghadapi kaum Muslimin serta dukungan dari Bani Quraizhah dan Bani Ghathafan.

Merasa mendapatkan dukungan, Bani Nadhir akhirnya memilih bertahan dan mempersiapkan diri menghadapi pasukan Rasulullah.Namun, janji bantuan tersebut tidak terealisasi. Bani Nadhir akhirnya menghadapi kaum Muslimin tanpa dukungan yang mereka harapkan.

Pengepungan dan Pengusiran Bani Nadhir

Rasulullah kemudian melakukan pengepungan terhadap Bani Nadhir. Dalam sejumlah riwayat tafsir, pengepungan tersebut berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya mereka menyerah. Al-Qur'an menggambarkan bagaimana orang-orang beriman menyaksikan pertolongan Allah dalam peristiwa tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 2:هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang Mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Ayat tersebut menggambarkan kondisi Bani Nadhir yang sebelumnya merasa benteng mereka akan mampu melindungi dari serangan. Namun, Allah justru menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka hingga akhirnya mereka meninggalkan Madinah.Karena itulah surah tersebut dinamakan Al-Hasyr, yang berkaitan dengan peristiwa pengusiran atau pengumpulan.

Membawa Harta Selain Senjata

Ketika meninggalkan Madinah, Bani Nadhir diperbolehkan membawa sejumlah harta milik mereka, kecuali senjata. Dalam sejumlah riwayat tafsir disebutkan bahwa mereka membawa harta dan bagian dari bangunan rumah mereka. Sebagian bahkan membongkar rumahnya sendiri agar bagian-bagian bangunan tersebut dapat dibawa.

Setelah meninggalkan Madinah, sebagian Bani Nadhir menuju Syam. Namun, sebagian besar mereka, termasuk para pemuka kelompok tersebut, memilih menetap di Khaibar. Kisah ini antara lain dijelaskan dalam Tafsir ath-Thabari (23/259), Tafsir Ibnu Katsir (8/57-58), dan Tafsir Ibnu Asyur (28/66-68).

Pelajaran dari Kisah Bani Nadhir

Peristiwa Bani Nadhir memberikan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam.

Pertama, kekuatan manusia tidak akan mampu menandingi kekuasaan Allah. Bani Nadhir memiliki benteng yang kokoh dan pada awalnya kaum Muslimin tidak menyangka mereka akan meninggalkan Madinah. Namun, Allah menunjukkan bahwa kekuatan dan perlindungan manusia memiliki batas.

Kedua, peristiwa tersebut mengajarkan pentingnya menjaga perjanjian. Kesepakatan yang telah dibuat tidak boleh dilanggar dengan pengkhianatan, terlebih jika disertai rencana mencelakai pihak lain.Ketiga, peristiwa Bani Nadhir juga memperlihatkan bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui cara yang tidak disangka-sangka. Rasa takut yang ditanamkan Allah dalam hati mereka menjadi salah satu sebab berakhirnya pengepungan tanpa pertempuran besar.

Ibnu Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengusiran Bani Nadhir juga memiliki sisi kemaslahatan bagi kaum Muslimin. Pada masa itu, umat Islam masih menghadapi kondisi yang berat sehingga harta fa'i dari Bani Nadhir dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Muslim.

Di sisi lain, peristiwa tersebut juga menjadi kesempatan bagi Bani Nadhir untuk mengambil pelajaran dan memperbaiki diri.

Kisah Bani Nadhir yang diabadikan dalam Surat Al-Hasyr pada akhirnya bukan sekadar catatan sejarah tentang sebuah konflik. Al-Qur'an menutup kisah tersebut dengan seruan agar manusia mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi.

Pesan inilah yang tetap relevan bagi umat Islam: kekuatan, harta dan benteng yang dimiliki manusia tidak akan berarti ketika berhadapan dengan ketetapan Allah SWT.

Baca juga:Ternyata, Nama Rabiul Akhir Diberikan oleh Leluhur Nabi Muhammad SAW

Topik Menarik