Tangsel Siap Jadi Tuan Rumah Pesta Olahraga se-Banten Pertengahan November

Tangsel Siap Jadi Tuan Rumah Pesta Olahraga se-Banten Pertengahan November

Nasional | sindonews | Sabtu, 12 September 2026 - 12:32
share

Arab Saudi menutup Pipa Timur-Barat miliknya setelah diserang pada hari Kamis (10/9/2026). Penutupan ini menghentikan jalur penting bagi minyak Timur Tengah yang selama ini membantu menjaga stabilitas harga energi di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

"Sumber resmi di Kementerian Energi menyatakan Pipa Timur-Barat di wilayah Riyadh dan Madinah mengalami sejumlah serangan pada Kamis pagi, 10 September 2026," ungkap pernyataan kantor berita resmi Saudi Press Agency pada hari Kamis.

"Pipa tersebut ditutup sebagai langkah pencegahan," bunyi pernyataan itu, tanpa menyebutkan kapan pipa akan beroperasi kembali.

Unggahan di media sosial pada hari Kamis memperlihatkan kepulan asap hitam pekat, dengan klaim pipa tersebut diserang di beberapa lokasi.

Serangan ini terjadi saat kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan kilat di sepanjang Laut Merah, mengerahkan kekuatan militer mereka hingga ke titik strategis (chokepoint) Bab el-Mandeb. Keberhasilan mereka merebut wilayah secara luas menempatkan Houthi pada posisi untuk mengendalikan lalu lintas pelayaran.

Sebelumnya, Houthi menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal untuk menyerang kapal, namun kini mereka mampu menggunakan artileri standar.

Arab Saudi tidak menyebutkan pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Pipa Timur-Barat tersebut. CNN sebelumnya melaporkan pada hari Kamis bahwa pipa itu dihantam oleh drone yang berasal dari Irak.

Milisi Syiah Irak dan kelompok Houthi Yaman memiliki hubungan erat dengan Iran. Mereka pernah melakukan koordinasi di masa lalu. Houthi diyakini mengirimkan penasihat ke Irak, sementara milisi Irak mengirimkan teknisi untuk membantu Houthi.

Pipa Timur-Barat dibangun oleh Arab Saudi pada tahun 1980-an sebagai jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz selama perang Iran-Irak. Pipa ini membentang dari ladang minyak kerajaan di pesisir Teluk hingga ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.Pipa ini memungkinkan Arab Saudi mengekspor sekitar sepertiga dari volume minyaknya (seperti sebelum perang), bahkan ketika produsen Teluk lainnya—seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain—terhalang untuk mengekspor minyak mentah.

Uni Emirat Arab (UEA) tetap melanjutkan ekspor menggunakan kapal-kapal yang mematikan alat pelacaknya serta melalui pipa kecil yang berujung di luar Selat Hormuz.

Penutupan Pipa Timur-Barat ini menyoroti kerentanan jalur-jalur alternatif Selat Hormuz, terutama di tengah upaya perundingan damai untuk mengakhiri perang yang kini hampir sepenuhnya gagal.

Financial Times melaporkan negara-negara Teluk diperkirakan akan bertemu dengan Iran pekan depan untuk membahas cara melanjutkan kembali pelayaran di Selat Hormuz, dalam pembicaraan yang dimediasi Oman.

Harga minyak melonjak hingga di atas USD100 per barel pekan ini sebagai respons atas penguasaan Selat Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi.

Kelompok tersebut menyatakan sedang memberlakukan embargo terhadap pengiriman minyak Arab Saudi, sementara para diplomat menyebut mereka juga mengincar penerapan pungutan di jalur perairan tersebut, serupa dengan upaya yang pernah dilakukan Iran di Selat Hormuz.

Baca juga: Presiden Iran Tegaskan Tidak Dukung Kelanjutan Perang, Serukan Penguatan Ketahanan Negara

Topik Menarik