Iran Sita Drone Kapal Selam AS Dive-LD yang Paling Modern

Iran Sita Drone Kapal Selam AS Dive-LD yang Paling Modern

Global | sindonews | Rabu, 9 September 2026 - 18:30
share

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penyitaan "salah satu kapal selam pintar tak berawak yang paling modern" milik militer AS yang disebut dengan Dive-LD. Pentagon menanggapi insiden tersebut dengan nada meremehkan, menyatakan bahwa itu hanyalah drone lama tanpa peralatan sensitif apa pun.

Pada hari Selasa, IRGC merilis video yang diklaim sebagai drone bawah laut canggih milik AS, yang mampu melakukan berbagai tugas—mulai dari pemetaan dasar laut hingga operasi intelijen dan pengintaian, inspeksi pipa, serta dukungan peperangan anti-kapal selam.

Iran Sita Drone Kapal Selam AS Dive-LD yang Paling Modern

1. Mampu Menyelam di Kedalaman 6.000 Meter

Rekaman tersebut memperlihatkan wahana berbentuk silinder berwarna abu-abu metalik yang menyerupai torpedo, dengan panjang sekitar 5,8 meter, lebar 1,2 meter, dan berat sekitar 2,7 ton. Menurut pernyataan IRGC, wahana bawah laut ini mampu beroperasi di bawah air hingga 10 hari dan mencapai kedalaman maksimum 6.000 meter.

Militer Iran mengidentifikasinya sebagai drone Dive-LD yang dikembangkan oleh kontraktor pertahanan AS, Anduril Industries, dan mulai beroperasi pada April 2025.

Komando Pusat AS (CENTCOM) berupaya mengecilkan arti insiden tersebut, dengan mengklaim bahwa Iran memperoleh drone model lama yang mengalami malfungsi dan tidak membawa peralatan sensitif apa pun.Wahana bawah laut itu sedang memantau perairan kawasan tersebut dan "tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia," ujar Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan.

Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan lainnya antara AS dan Iran. Pada Selasa malam, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan balasan atas serangan AS sebelumnya terhadap kapal tanker minyak Iran di dekat Pulau Kharg.

IRGC juga mengeluarkan "peringatan mendesak" pada Selasa malam, yang meminta awak kapal tanker di sekitar dermaga dan area labuh jangkar Bahrain dan Kuwait untuk segera meninggalkan kapal mereka guna mengantisipasi potensi serangan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa penangkapan kendaraan bawah air nirawak (UUV) AS yang sangat canggih baru-baru ini di Selat Hormuz membuktikan efektivitas kemampuan pengawasan Iran di jalur perairan strategis tersebut.

2. Memiliki Teknologi Bawah Laut yang Canggih

Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa kendaraan tersebut dilengkapi dengan teknologi bawah air yang canggih dan telah diserahkan kepada militer AS pada tahun 2025.

Sistem tersebut, yang dikenal sebagai Dive-LD, merupakan kendaraan bawah air nirawak otonom yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi pertahanan AS, Anduril Industries.

Berbicara pada Selasa malam, juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengatakan bahwa penangkapan tersebut membuktikan bahwa teknologi canggih tidak dapat menembus lapisan pengawasan Iran di Selat Hormuz.Ia mengatakan bahwa penangkapan kapal selam nirawak paling canggih milik militer AS keluaran tahun 2025 pada saat fajar itu menunjukkan kekuatan kemampuan pengawasan Iran di jalur perairan strategis tersebut.

"Dominasi atas Teluk Persia berada di tangan para spesialis teknologi muda kami," tegas Mohebbi.

3. Iran Menguasai Selat Hormuz

Juru bicara tersebut kemudian berbicara langsung kepada Amerika Serikat, dengan mengatakan, "Kembalilah ke Teluk Babi (Bay of Pigs)," merujuk pada kegagalan invasi Teluk Babi ke Kuba pada bulan April 1961.

Iran menutup Selat Hormuz menyusul dimulainya gelombang terbaru agresi Amerika-Israel yang tidak diprovokasi terhadap negara tersebut pada tanggal 28 Februari.

Republik Islam Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati periode pembukaan kembali selama 60 hari sebagai bagian dari nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan pada bulan Juni.

Iran telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan pelayaran yang aman dan legal melalui titik sempit (chokepoint) tersebut sesuai dengan kesepahaman itu, namun pelanggaran yang dilakukan pihak Amerika memaksa negara tersebut untuk memberlakukan kembali penutupan itu.

Teheran mensyaratkan pembukaan kembali jalur perairan tersebut dengan dipenuhinya sejumlah prasyarat, termasuk pencabutan total blokade angkatan laut dan ekonomi ilegal AS terhadap Republik Islam, penghentian agresi secara permanen di semua lini—termasuk Lebanon—serta klarifikasi mengenai situasi terkait blokade Yaman.

Topik Menarik