NU Jakarta dan Amanah Nahdliyyin Betawi
Husny Mubarok AmirWakil Ketua PWNU DKI Jakarta
NAHDLATUL Ulama (NU) sebagai Organisasi Keagamaan terbesar di Indonesia tentunya memiliki pengaruh signifikan di Kota-kota besar termasuk Jakarta sebagai Ibu Kota negara.
Corak dan karakter keislaman masyarakat Jakarta memang sepenuhnya bukan hanya mirip tapi identik sama persis dengan karakter yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama. Terbukti, jauh sejak pendirian NU, masyarakat Jakarta sudah akrab dengan tradisi tahlilan, manaqiban, mawlidan bahkan nyekar dan ziarah kubur.
Masyarakat Jakarta, terutama masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta, hampir keseluruhannya adalah warga Nahdlatul Ulama, atau Nahdliyyin biasa kita sebut. Sebagian kecil saja yang berafiliasi dengan Muhamadiyah, FPI atau mungkin ormas keagamaan lainnya.
Nama-nama besar tokoh dan ulama Betawi, hampir mengisi sejarah panjang perjalanan Nahdlatul Ulama. Sejak awal pendiriannya, di Zaman Guru Marzuki Bin Mirshod, ketika Muktamar ke 8 Tahun 1933 di Jakarta, yang diikuti oleh Guru Manshur Jembatan Lima, hingga saat ini, tidak pernah sekalipun periode kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang tidak diisi oleh ulama dan bahkan aktifis Betawi.Saya mungkin tidak akan menceritakan panjang lebar terkait keterikatan Nahdliyyin Betawi dengan Struktural NU dari masa ke masa. Titik berat saya justeru pada corak ke NU-an warga Betawi di Jakarta, yang meskipun telah terjadi pergeseran budaya, pengaruh arus informasi dan digital namun tetap kental terasa. Di lain hal, tentu karena alasan bahwa warga Betawi di Jakarta, lebih memiliki amanah yang besar dibanding warga lainnya di Jakarta.
Nasionalisme Kaum Sarungan
Di Jakarta, mungkin bisa kita bilang bahwa Tradisi yang identik sama, namun bisa saja berbeda pada praktek pendekatan keumatannya. Jika di Jawa Timur tradisi kepesantrenan lebih melekat pada warga Nahdlatul Ulama, maka di Jakarta kekuatan warga Nahdlatul Ulama ada di majelis-majelis taklim, di madrasah bahkan di masjid-masjid dan musholla.
Orang Betawi identik dengan Kaum Sarungan, tidak berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa, perbedaannya justeru pada praktek pelaksanaan dari ajaran agama, minimal ikromu dluyuf memuliakan para pendatang, dilakukan oleh Nahdliyyin Betawi dari masa ke masa. Bagaimana tidak? Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak Tahun 1950 berada di pusat jantung Kota Jakarta. Paragraf ini bukan penjelasan yang mengandung "ashobiyah" berlebihan, tapi penekanan bahwa Nahdliyyin Betawi memang masih dan selalu menjaga praktek egaliterian yang tinggi. Seolah Nahdliyyin Betawi mendapat bisikan amanah dari para muassis NU, ; "Tolong jaga, NU di Jakarta.!!".Labbaika Ya Muassis..!!Kami terima perintahmu wahai para muassis..!!
NU Jakarta dan Etalase NU di IndonesiaNU di Jakarta, secara struktural terwakili oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta. Terdapat 6 Cabang setingkat Kabupaten/Kota, 44 Kecamatan dengan sebutan Majelis Wakil Cabang, bahkan 267 Ranting NU setingkat kelurahan se-Jakarta. Semuanya memiliki kepengurusan, aktif menjalankan program-program keumatan.
Tentang Program dan kegiatan keumatan, hingga saat ini PWNU DKI Jakarta memang masih mengandalkan dana hibah dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan, dana hibah ini pernah menembus angka yang sangat signifikan, sejumlah 10 Milyar lebih yang digunakan untuk berbagai kegiatan. Orang boleh saja melihat ini sebagai hal yang minus, bukti ketergantungan NU terhadap pemerintahan, namun bagi saya, ini bukti kerjasama yang baik dan komunikasi yang efektif antara organisasi ulama dan Umaro yang diwakili oleh Gubernur, Wakil Gubernur dan Para Wakil Rakyat di Jakarta atau para stekholder lainnya. Pertanyaannya, PWNU mana yang punya dana kas organisasi segitu besarnya?
Kedepan, banyak orang berharap sinergitas antara PWNU DKI Jakarta dengan PBNU harus lebih optimal. PBNU yang berkantor di Jakarta, memang harus memberi ruang lebih kepada PWNU Jakarta, bahkan bukan hanya itu, tapi iuga diharapkan mampu berkomunikasi aktif kepada pengurus di Jakarta dan menjadikannya etalase bahkan laboratorium percobaan bagi program-program keumatan ya g nantinya akan di copy paste oleh PWNU-PWNU lainnya di Indonesia. Jumlah warga NU di Jakarta mungkin memang sedikit di banding jumlah warga NU di Provinsi lainnya di Pulau Jawa, namun, pusat pertarungan ide, gagasan, sosial, politik dan bahkan ekonomi memang selalu berawal dari Jakarta.
Wallahul Musta'an










