Dilema AI: Inefisiensi Anggaran dan Ancaman Cognitive Offloading dalam Industri Kreatif

Dilema AI: Inefisiensi Anggaran dan Ancaman Cognitive Offloading dalam Industri Kreatif

Nasional | sindonews | Sabtu, 5 September 2026 - 09:30
share

Imamul MasyhudiDosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Multimedia Nusantara

BELAKANGAN ini saya menemukan beberapa utas di media sosial yang membahas bagaimana sejumlah perusahaan besar mulai menghitung kembali biaya penggunaan Artificial Intelligance (AI) dalam pekerjaan mereka. Beberapa perusahaan yang disebut menghabiskan token dalam jumlah sangat besar setiap bulannya. Hal ini kemudian menarik jika dibandingkan dengan penggunaan tenaga manusia.

Selama ini kita sering mendapatkan kesan bahwa AI akan membuat pekerjaan menjadi jauh lebih efisien dan murah. Namun dalam praktiknya, ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Ada biaya komputasi, infrastruktur, energi, penyimpanan, hingga kebutuhan data center yang semuanya harus diperhitungkan.

Washington Post baru saja menganalisis lima perusahaan besar, yaitu Amazon, Google, Microsoft, Meta, dan Oracle. Analisis tersebut menunjukkan bahwa besarnya investasi mereka pada AI mulai memberikan tekanan besar terhadap arus kas bebas (free cash flow) kelima perusahaan tersebut. Gabungan arus kas bebas kelima perusahaan tersebut diproyeksikan hampir habis pada 2026 dan menjadi negatif sekitar USD125 miliar pada tahun berikutnya, berdasarkan data S&P Global Market Intelligence.

Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa tenaga manusia selalu lebih murah daripada AI. Tetapi dari sini setidaknya muncul pertanyaan yang menurut saya penting: apakah penggunaan AI memang selalu lebih efisien daripada manusia? Sejumlah perusahaan bahkan mulai menghitung ulang penggunaan AI dan, dalam beberapa kasus, kembali memperbesar peran manusia.Baca Juga: Dilema AI dan Regulasi Berbasis Risiko

Perhitungan ulang biaya oleh perusahaan-perusahaan tersebut ternyata sejalan dengan apa yang dirasakan oleh para praktisi di lapangan. Bukan hanya persoalan finansial, efektivitas AI juga mulai dipertanyakan dari segi kualitas hasil kerjanya, hal yang terlihat sangat jelas di bidang yang saya geluti, yaitu desain grafis. Di ranah ini, AI mampu membuat gambar ilustrasi dan objek (hampir) apa pun dengan berbagai macam gaya visual hanya berdasarkan perintah teks. Sesuatu yang sebelumnya membutuhkan kemampuan teknis dan waktu yang cukup panjang, kini dihasilkan dalam hitungan detik.

Namun, sesuatu yang awalnya menakjubkan akan mengalami perubahan ketika kita melihatnya terus-menerus. “Keajaiban” itu perlahan menjadi kebisingan. Kita bisa melihatnya ketika scrolling media sosial. Gambar-gambar yang dibuat dengan AI muncul begitu banyak dengan karakter visual yang semakin mudah dikenali. Bahkan dalam berbagai materi publik seperti poster, banner, sampai infografis, penggunaan AI mulai terasa di mana-mana.

Ketika semua orang dapat membuat sesuatu yang terlihat bagus dengan cara yang relatif sama, sesuatu yang awalnya luar biasa lama-lama menjadi biasa. Di sinilah saya melihat mulai muncul semacam kejenuhan. AI yang pada awalnya dianggap sebagai sesuatu yang menakjubkan justru dapat berubah menjadi semacam polusi visual. Terlalu banyak dan sering hingga akhirnya tidak lagi memberikan kejutan.

Ketika gambar, tulisan, dan berbagai bentuk konten dapat dibuat secara instan dan dalam jumlah yang hampir tidak terbatas, maka sesuatu yang dibuat oleh manusia dengan proses yang panjang justru menjadi lebih sulit ditemukan. Gagasan yang lahir dari pengalaman, proses berpikir, riset, dan sentuhan personal yang tidak dapat begitu saja direplikasi, perlahan kembali memiliki nilai yang berbeda.Mungkin ini adalah salah satu paradoks AI. Ketika mesin membuat produksi menjadi semakin mudah, sesuatu yang tidak mudah dibuat oleh mesin justru menjadi semakin berharga. AI memang sangat luar biasa ketika membuat sebuah desain. Saya mengilustrasikannya seperti sebuah bangunan yang cukup megah, namun bangunan tersebut tidak memiliki fondasi yang kokoh. Desain yang terlihat luar biasa tersebut rapuh karena tidak memiliki ide atau konsep yang cukup kuat.

Di sinilah muncul ilusi kompetensi. AI memungkinkan seorang awam yang tidak memahami desain dapat menghasilkan gambar yang secara visual terlihat bagus. Layoutnya rapi, warnanya menarik, komposisinya matang, dan tampak seperti dibuat oleh profesional. Namun, desainer sungguhan harus mampu menjawab mengapa sebuah desain dibuat. Masalah apa yang ingin diselesaikan? Siapa yang akan melihatnya? Apa yang ingin dikomunikasikan? Mengapa pendekatan visual tertentu dipilih dan bukan yang lain?

Di situlah fondasi sebuah desain sebenarnya berada. AI tidak otomatis menghasilkan desain tanpa konsep, masalah muncul ketika manusia menyerahkan proses konseptual kepada AI. Sebuah karya yang hanya kuat pada permukaan akan menghadapi persoalan ketika harus “dikuliti” lebih jauh. Ketika brief dan kebutuhan klien berubah, ketika desain harus diterapkan pada media yang berbeda, atau ketika muncul masalah komunikasi yang sebelumnya tidak diperkirakan, kita membutuhkan kemampuan berpikir untuk meresponsnya. Jika sejak awal proses berpikir tersebut tidak pernah dilakukan, maka bangunan yang terlihat megah itu akan goyah.

Persoalannya kemudian menjadi lebih jauh lagi. Jika AI terus digunakan untuk menggantikan proses berpikir tersebut, bukan hanya kualitas karya yang berpotensi berubah. Kemampuan manusia yang mengerjakannya juga dapat ikut berubah. Dalam desain, kita tahu bahwa kemampuan menggunakan software tidak muncul dalam satu malam. Ada berbagai tools yang harus dipahami, berbagai fungsi yang harus dilatih, dan berbagai kebiasaan teknis yang terbentuk karena penggunaan berulang.

Ketika semua itu semakin jarang dilakukan karena pekerjaan diserahkan ke AI, kemampuan tersebut tentu berpotensi ikut menurun. Seorang desainer terbiasa memulai pekerjaan dari sebuah masalah dalam sebuah brief. Dari sana masalah tersebut di-breakdown, diambil substansinya, kemudian dicari berbagai kemungkinan untuk solusinya melalui proses berpikir kreatif.

Alur dan jaringan pemikiran dalam proses desain tersebut berpotensi terputus atau melemah jika banyak dari proses tersebut diserahkan ke AI. Lama-kelamaan, meski mampu menghasilkan gambar yang bagus, tetapi desainer mulai kehilangan kemampuan untuk menjelaskan mengapa gambar tersebut harus dibuat seperti itu.

Bainbridge (1983) membahas paradoks otomatisasi, ketika kita semakin banyak mengotomatisasi pekerjaan manusia, kita tidak selalu menghilangkan persoalan manusia. Dalam kondisi tertentu, otomatisasi justru dapat membuat peran manusia menjadi lebih problematis, termasuk karena manusia semakin sedikit terlibat langsung dan berisiko kehilangan keterampilan.

Di sinilah menurut saya persoalan AI menjadi lebih kompleks. AI dapat membuat seseorang terlihat memiliki kemampuan, tetapi belum tentu membuat orang tersebut benar-benar memiliki keahlian. Dan mungkin di sinilah kita perlu mulai mengubah cara kita memandang AI. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagian mana dari kemampuan manusia yang sebaiknya kita serahkan kepada mesin, dan bagian mana yang justru harus tetap kita latih sendiri.

Sebab jika semua hal yang sulit kita serahkan kepada AI, mungkin pekerjaan kita memang menjadi lebih mudah. Tetapi kita juga harus bertanya, setelah bertahun-tahun melakukan itu, apa yang masih tersisa dari kemampuan kita sendiri? Fenomena ini juga dikenal sebagai cognitive offloading, ketika sebagian beban berpikir kita mulai dialihkan kepada alat. Dalam konteks AI, pengalihan itu menjadi lebih jauh karena yang kita serahkan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga sebagian proses berpikir untuk menemukan jawabannya.

Barangkali inilah paradoks terbesar dari perkembangan AI hari ini. Ketika kita sedang membuat mesin semakin pintar, kita juga harus memastikan bahwa kita tidak sedang membuat manusia semakin tumpul.

Investasi dan biaya tinggi yang dikeluarkan industri untuk AI menjadi terasa ironis ketika hasil akhirnya tidak hanya memicu polusi visual yang dangkal dan membosankan, tetapi juga perlahan mengikis kemampuan manusia yang menggunakannya. Pada akhirnya, ketika mesin terus diandalkan untuk menghasilkan sesuatu dengan cepat, yang menjadi langka dan mahal bukan lagi hasil akhirnya, melainkan kemampuan manusia untuk tetap memiliki gagasan dan daya pikirnya sendiri.

Topik Menarik