Belajar ke Bali Bareng Ubaya, Desa Belik Mojokerto Bawa Pulang Bekal Kreativitas
Pengembangan desa wisata sangat ditentukan tata kelola yang baik. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan meliputi manajemen yang profesional, kelembagaan pengelola yang solid seperti Pokdarwis atau BUMDes, serta kualitas pelayanan yang ramah dan berstandar kepada wisatawan.
Kunci utama lain adalah pengembangan produk dan pemasaran, kreativitas dalam mengemas produk wisata menjadi penting agar desa memiliki daya tarik dan pengalaman unik. Hal ini harus didukung dengan strategi promosi yang tepat sasaran, baik melalui media digital maupun kolaborasi. Baca juga:Serunya Wisata Duren Sari Trenggalek: Alam Asri, Budaya Lokal, dan Kuliner Desa
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengangkat potensi lokal menjadi ciri khas, sehingga desa wisata tidak hanya menjadi destinasi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi dan memberdayakan masyarakat setempat. Pemahaman inilah yang mendorong Universitas Surabaya (Ubaya) mengajak pengelola Desa Wisata Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto belajar lapangan ke Provinsi Bali.
Kegiatan ini bagian dari Program Pemberdayaan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM), Ditjen Risbang, Kemdiktisaintek. Ketua Tim Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Ubaya di Desa Belik, Benny Lianto, menegaskan pembelajaran lapangan adalah cara paling efektif untuk menambah wawsan dan mengubah mindset.
“Pelatihan dan ceramah oleh pakar saja tidak cukup. Pengelola desa wisata Belik perlu melihat langsung bagaimana kemajuan suatu desa wisata atau distinasi ditempat lain dikelola dengan baik. Berbagai praktik pengelolaan desa wisata, penguatan kelembagaan, manajemen destinasi, pemanfaatan kearifan lokal, hingga pengembangan wisata berbasis kreativitas. Pembelajaran lapangan akan membangkitkan kreativitas dan memberi inspirasi serta dapat diadopsi semua yang baik,” kata Benny yang juga Rektor Ubaya ini, Rabu (5/8/2026).Direktur Bumdes Mulya Jaya Desa Belik, Naif Santoso, menjelaskan rombongan pembelajaran lapangan terdiri dari unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), BUMDes, Pokdarwis, Karang Taruna, dan pengurus wisata Petung Park Desa Belik. Rombongan ini memulai kunjungan di Desa Wisata Budaya Batuan, Gianyar.
Di sana mereka belajar bagaimana masyarakat menjaga warisan budaya selama seribu tahun lebih dan mengemasnya menjadi atraksi yang dapat dinikmati wisatawan. Desa ini memiliki kepatuhan dan kegigihan tinggi untuk menjaga warisan budaya. Wisatawan tak hanya dapat menemukan, tapi belajar seni budaya tradisi tertua di Bali.
Perjalanan berlanjut ke Desa Wisata Budaya Batubulan. Peserta mendapat gambaran pengelolaan potensi desa dan keterlibatan masyarakat. Daya tarik utamanya adalah pementasan Tari Barong dan Pusat Pahat Batu, di mana perajin lokal mengubah batu padas menjadi karya seni bernilai jual.
Tidak hanya desa budaya, tim juga mengunjungi Alas Harum Bali dan Nuanu Creative City. Dua destinasi ini memberi perspektif baru tentang pengemasan pengalaman wisata, konsep ruang, dan inovasi destinasi modern yang mampu menarik wisatawan milenial.
Manajer Pengabdian Masyarakat LPPM Ubaya, Utomo, berharap ilmu dari Bali ini jadi bekal memperkuat Petung Park dan Pasar Budaya Preng Sewu di Desa Belik. “Kegiatan pembelajaran lapangan ini menjadi lebih dari sekadar studi banding. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk belajar, membuka wawasan, membangun jejaring, serta mencari inspirasi pengembangan desa wisata yang profesional tanpa meninggalkan jati diri dan kearifan lokal,” ujarnya. Baca juga:Ubaya Juara I Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI VII, Rektor: Kami Komitmen Beri Solusi dengan Inovasi
Utomo juga menyampaikan terima kasih kepada DPPM Kemdiktisaintek dan seluruh unsur Desa Belik yang telah berpartisipasi aktif. Ke depan, hasil pembelajaran ini akan diintegrasikan ke dalam penguatan manajemen, pelayanan pengunjung, dan pengembangan produk suvenir khas lokal.
“Kami ingin Desa Belik punya destinasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat peran masyarakat, dan meningkatkan kemandirian desa,” terangnya.









