Pengembang Rumah Subsidi Dituntut Kreatif Hadapi Kenaikan Biaya Material

Pengembang Rumah Subsidi Dituntut Kreatif Hadapi Kenaikan Biaya Material

Ekonomi | sindonews | Rabu, 2 September 2026 - 20:43
share

Pengembang rumah subsidi dituntut semakin kreatif dan efisien menghadapi kenaikan biaya material agar tetap mampu menyediakan hunian berkualitas dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Infiniti Land menilai tantangan tersebut perlu dijawab melalui inovasi pembangunan, pengendalian biaya, serta komitmen terhadap standar kualitas hunian.

"Ada komitmen dan perjuangan yang harus dijalankan sungguh-sungguh untuk meraih sertifikat Bangunan Gedung Hijau, mengingat biaya produksi untuk membangun rumah bersertifikat BGH predikat utama itu lebih tinggi 8-12 dari membangun rumah biasa. Tetapi karena visi-misi kami adalah membangun dengan hati, maka sangat bersyukur semua ini bisa diraih," ujar Direktur Utama Infiniti Land sekaligus Bendahara Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Samuel S. Huang dalam diskusi bertajuk Punya Rumah, Punya Karir, Masih Mungkinkah?" di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, dikutip pada Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:Rusun Subsidi Dekat Stasiun Manggarai Resmi Dibangun, Kuota 3.784 Unit

Samuel mengatakan komitmen tersebut diwujudkan antara lain melalui Perumahan Mulia Gading Kencana (MGK) Serang yang memperoleh sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH) Predikat Utama dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). MGK Serang menjalani proses seleksi, survei, dan studi selama sekitar tiga hingga enam bulan sebelum memperoleh sertifikasi tersebut.

Menurut dia, penilaian BGH mencakup tujuh aspek, yakni pengelolaan tapak, efisiensi energi, efisiensi air, kualitas udara dalam ruang, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengelolaan limbah. Penerapan standar tersebut menjadi tantangan bagi rumah subsidi karena harga jual hunian telah ditetapkan pemerintah sehingga pengembang memiliki ruang terbatas untuk mengompensasi kenaikan biaya pembangunan.

Untuk memenuhi aspek keberlanjutan, MGK Serang menyediakan lebih dari dua hektare lahan untuk kolam retensi guna menampung air hujan dan aliran drainase sehingga membantu mengurangi risiko banjir. Dari sisi efisiensi energi, rumah tersebut menggunakan lampu LED dan dirancang dengan pencahayaan serta sirkulasi udara yang optimal.Samuel menjelaskan plafon ruang tamu dibuat setinggi 3,5 meter dan kamar 2,8 meter untuk meningkatkan sirkulasi udara sekaligus mengurangi ketergantungan penghuni terhadap pendingin udara. Sementara itu, kebutuhan air bersih menggunakan layanan PAM dan pengelolaan limbah rumah tangga didukung bio-septictank.

Di tengah kenaikan harga material yang dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya biaya logistik, Samuel mengatakan pengembang perlu memperkuat strategi efisiensi. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan membeli material langsung dari pabrik dalam jumlah besar, mengoptimalkan penggunaan bahan, dan memperketat pengawasan di lapangan guna mencegah pemborosan.

"Kreatif dan pikirkan jalan keluar. Contohnya beli langsung dari pabrik dalam jumlah besar sekaligus supaya dapat harga lebih bersaing. Efisiensi penggunaan material dan pengawasan harus ketat sekali, sehingga tidak ada material yang terbuang," kata Samuel.

Baca Juga:Proyek Apartemen LRT City Mangkrak, Danantara Suntik Rp456 Miliar ke Adhi Karya

Selain efisiensi pembangunan, Samuel menilai pengembang perlu menyesuaikan strategi pemasaran dengan perubahan perilaku konsumen. Ia menyebut sekitar 80 penjualan Infiniti Land saat ini berasal dari media sosial, seiring semakin banyak konsumen, khususnya generasi muda, yang mencari informasi dan berinteraksi terkait properti melalui kanal digital. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah melalui pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), biaya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), serta insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk memperkuat ekosistem penyediaan hunian bagi MBR.

Topik Menarik