Economic D-Day AS Hantam Ekonomi Iran, Perdagangan Anjlok 35
Tekanan terhadap ekonomi Iran berada di titik nadir setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi meluncurkan sanksi ekonomi skala penuh yang dijuluki Economic D-Day. Memasuki bulan keenam perang AS-Israel versus Iran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa aktivitas perdagangan luar negeri negaranya telah merosot tajam hingga 35 akibat sanksi dan blokade laut AS.
Di tengah lonjakan inflasi tahunan yang menembus 66, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei memberikan instruksi tertulis agar pemerintah segera bertindak mengatasi penderitaan ekonomi rakyat dan menjaga stabilitas pasar domestik.
Departemen Keuangan AS memperluas cakupan sanksi dengan mengincar lembaga keuangan internasional yang masih memfasilitasi transaksi bisnis dengan Tehran. AS mengusulkan aturan untuk memutus akses cabang Banque Misr (Mesir) di Uni Emirat Arab (UEA) dari jaringan transaksi Dolar AS.
Baca Juga: Di Tengah Perang dan Embargo, Bagaimana Ekonomi Iran Tetap Bertahan?
Selanjutnya AS menambah daftar hitam terhadap entitas yang berbasis di Hong Kong serta individu yang terhubung dengan Bank Melli milik Iran. Sementara itu Washington masih menahan sanksi langsung terhadap mitra dagang utama Iran seperti China dan India guna mencegah guncangan balik pada ekonomi global.Meski tertekan krisis finansial internal, pemerintah Iran menegaskan tidak akan mundur dan memilih menjalankan strategi dua jalur yakni diplomasi dan pertahanan militer secara sejajar.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah melawat ke Teheran untuk memediasi pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman. Namun, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut rute tersebut telah aman, dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal yang tidak mengantongi izin resmi dari Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Jumat menggambarkan pembicaraan dengan Al Thani sebagai sesuatu yang "kreatif". Dalam pernyataan Sabtu, Iran mengatakan diplomasi dan pertahanan adalah "dua sayap yang saling melengkapi, terkoordinasi, dan tak terpisahkan" untuk melindungi kepentingan nasional, keamanan, dan keutuhan wilayah negara. Iran mengatakan akan menempuh kedua jalur tersebut secara seimbang.
Baca Juga: AS Beberkan Rencana Isolasi Ekonomi Iran Pekan Depan, China Terancam Jadi SasaranQatar, sekutu AS dan tetangga Teluk Iran, serta Pakistan seperti diketahui telag membantu memediasi nota kesepahaman bulan Juni yang mengarah pada gencatan senjata singkat sebelum perselisihan tentang selat vital membuatnya runtuh. Sebelum perang, jalur air Selat Hormuz mengangkut 20 minyak dan LNG dunia.
Komandan militer AS mengatakan pasukan Amerika sudah membersihkan ranjau laut dari selat yang dipasang beberapa bulan lalu oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran. Trump berulang kali mengatakan Selat Hormuz terbuka, tetapi angkatan laut Pengawal Revolusi menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa klaim semacam itu "adalah jelas sebuah kebohongan".
Mitra Adiperkasa (MAPA) Raih Laba Bersih Rp1,5 Triliun hingga Juni 2026, Meningkat 27 Persen
Mereka menegaskan kembali bahwa jalur Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal tanpa izin Iran. Hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi selat pada hari Kamis, turun dari 17 sehari sebelumnya dan di bawah rata-rata 10-hari yaitu 15, menurut data pelayaran awal yang dirilis pada Jumat, kemarin.









