Rupiah Terkini Rp17.717 per Dolar AS, Calon Gubernur BI Destry Damayanti: Masih Undervalued

Rupiah Terkini Rp17.717 per Dolar AS, Calon Gubernur BI Destry Damayanti: Masih Undervalued

Ekonomi | sindonews | Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:16
share

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menganggap, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued). Ia menilai mata uang Garuda sejatinya masih memiliki ruang penguatan dari posisi terkini yang bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS.

"Nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang, pak," kata Destry saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Destry menjelaskan, bahwa tekanan terhadap rupiah selama ini lebih dipicu oleh akumulasi sentimen pasar, baik dari lingkup global maupun domestik, ketimbang persoalan fundamental ekonomi nasional yang sebetulnya tetap terjaga solid. Baca Juga: Rincian Asumsi Makro RAPBN 2027! Rupiah Dipatok Rp17.500/USD, Prabowo Target Ekonomi RI Tumbuh 6"Masalahnya ada sentimen, market sentimen itu yang bisa timbulnya macam-macam, termasuk global sentimen, ini ngumpul jadi satu sehingga sebabkan pergerakan rupiah menjadi seperti sekarang ini," tegas Destry.

Kondisi tersebut, kata Destry, membuat pergerakan rupiah sangat responsif terhadap perubahan dinamika pasar. Ketika sentimen positif mengemuka, nilai tukar mampu menguat dengan cepat, dan sebaliknya saat sentimen memburuk.

"Waktu positif itu rupiah bisa cepat turunnya dan kami akan selalu manfaatkan momentum. Pada saat sentimen positif tentu BI akan terus tetap ada di pasar, itu sudah jadi kewajiban kami jaga volatilitas dari rupiah, jadi jangka pendek ada pengaruh dari sentimen," paparnya.

Baca Juga: Destry Damayanti Ikuti Fit and Proper Test di DPR, Paparkan Strategi Ini

Untuk memelihara stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang, Destry menekankan krusialnya pembenahan pada struktur sektor eksternal, khususnya melalui perbaikan neraca pembayaran (balance of payment) serta akselerasi kinerja ekspor barang dan jasa.

"Jadi untuk jangka panjang kita punya tantangan sektor eksternal terkait bagaimana dari neraca pembayaran, balance of payment, menjadi pekerjaan rumah kita semua tentunya, pemerintah, BI, dan semua masyarakat agar ekspor kita bisa kita tingkatkan, kemudian jasa," tegas Destry.

Topik Menarik