Puncak Bogor Terasa Lebih Dingin Saat Kemarau, Pakar IPB University Ungkap Penyebabnya
Di tengah musim kemarau panjang saat ini, suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, justru terasa semakin dingin menjelang sore hingga malam hari.
Peneliti dan dosen IPB University di Departemen Geofisika dan Meteorologi, Dr Givo Alsepan menjelaskan, kondisi tersebut sangat mungkin berkaitan dengan aktivitas monsun Australia.
Baca juga: Tingkatkan Kualitas Satuan Pendidikan, UIN Jakarta: dari Triguna hingga TKIP-SDIP Pamulang
“Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia,” ujarnya, melalui siaran pers, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Meski begitu, ia menjelaskan, kondisi tersebut bukan berarti udara dingin dari Australia secara langsung masuk dan mendinginkan Bogor. Ada sejumlah proses atmosfer yang berlangsung secara bersamaan.“Monsun Australia berperan dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia,” tambahnya.
Baca juga: MNC University Jajaki Kerja Sama Internship dan Peluang Karier di Jepang bersama KCC Co., Ltd. dan Dore by LeTAO
Secara sederhana, Australia → angin tenggara/timur → Indonesia → Jawa → Bogor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung hingga September 2026, dengan puncaknya terjadi pada Agustus. Untuk 2026, monsun Australia tetap aktif hingga akhir tahun dengan intensitas sekitar normal.
Namun demikian,ia menuturkan bahwa massa udara dari Australia bukan satu-satunya faktor yang membuat suhu Puncak Bogor terasa dingin. Kondisi udara yang relatif kering dan langit yang cenderung cerah juga berperan, terutama pada sore hingga malam hari.“Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa,” paparnya.
Ketika langit relatif cerah, sedikit awan, dan kandungan uap air rendah, pelepasan panas berlangsung lebih efektif karena lebih sedikit faktor yang menghambat radiasi tersebut.
“Akibatnya, permukaan Bumi kehilangan panas dengan cepat. Proses ini disebut pendinginan radiatif,” jelas Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University ini.
Kondisi langit cerah dan kelembapan yang lebih rendah selama musim kemarau turut memperkuat proses tersebut sehingga suhu udara turun lebih cepat setelah matahari terbenam.
“Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam,” pungkasnya.








