Kemendikdasmen: 1.378 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Pembelajaran 116.328 Murid Terganggu
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 502 sekolah tercatat mengalami kerusakan berat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan kerusakan tersebut tersebar di tujuh kabupaten. Dampak bencana tersebut mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Baca juga: Update Korban Gempa NTT: 75 Meninggal Dunia dan 907 Luka-Luka
"Di sektor pendidikan, gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Dari 8.664 ruang kelas yang terdata, 5.521 rusak atau 63,7, 2.229 di antaranya rusak berat atau total. Kerusakan juga menimpa laboratorium, perpustakaan, sanitasi, dan rumah dinas guru," kata Atip saat Konferensi Pers, Kamis (20/8/2026).
Potret Putri Leonor dan Adiknya Bersama Trofi Piala Dunia 2026 Viral, Replikasi Foto Ikonik 2010
Atip menyampaikan duka cita atas bencana gempa yang telah menimbulkan korban jiwa, termasuk dari kalangan warga sekolah. "Kami dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana gempa bumi yang telah merenggut 72 jiwa meninggal dunia, dengan tiga di antaranya murid dan satu guru yang meninggal," ujarnya.Baca juga: Gempa-Tsunami Landa NTT, Kementerian PU: Pembukaan Akses Jalan Jadi Prioritas
Selain merusak bangunan sekolah, gempa juga mengganggu proses belajar mengajar. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 116.328 murid mengalami gangguan pembelajaran akibat bencana tersebut.
"Saat ini pembelajaran 116.328 murid terganggu dan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan dari gubernur NTT untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan yang masih terus berlangsung," kata Atip.
Pelaksanaan pembelajaran saat ini mengikuti kebijakan Gubernur NTT dengan menerapkan pembelajaran dari rumah maupun tempat pengungsian. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menghindari bangunan yang berpotensi roboh, terlebih gempa susulan masih terus berlangsung.
Baca juga: Soroti Bantuan Gempa NTT, Purbaya: Koordinasi Pusat-Daerah Masih LemahAtip mengatakan sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah, 171 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran daring, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, dan 30 sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka.
"Kemendikdasmen telah menerbitkan panduan pembelajaran di masa darurat, fleksibilitas moda dan materi, penekanan pada materi esensial literasi numerasi dasar dan dukungan psikososial," kata Atip.
Untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan, Kemendikdasmen juga menyiapkan ruang kelas darurat secara bertahap bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Saat ini, pemerintah mendistribusikan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat dan diharapkan mulai digunakan untuk kegiatan belajar pada pekan depan.
Selain itu, Kemendikdasmen menyiapkan pendampingan psikososial bagi guru dan siswa bekerja sama dengan himpunan psikologi, MDMC, dan mitra kampus.
Bantuan pendidikan juga terus disalurkan. Kemendikdasmen menyiapkan 5.000 school kit, 1.500 family kit, 6.238 mebeler, 3.956 papan tulis, serta 123.522 buku untuk mendukung keberlanjutan pembelajaran di wilayah terdampak.Atip mengatakan pihaknya juga terus melakukan pendataan dampak dan kebutuhan secara real time melalui dashboard Kemendikdasmen, sekaligus memperkuat pos pendidikan di masing-masing kabupaten terdampak.
"Selanjutnya yang sudah kami lakukan, saat ini kami terus melakukan pendataan dampak, kebutuhan, penguatan pos pendidikan di masing-masing kabupaten terdampak," ujarnya.
Kemendikdasmen juga telah menyalurkan bantuan langsung kepada warga sekolah yang terdampak, termasuk santunan bagi keluarga murid yang meninggal dunia serta bantuan bagi murid dan guru yang terdampak kerusakan bangunan.
Atip mengharapkan dukungan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak gempa.
"Kami juga mengharapkan kolaborasi dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat penyelenggaraan pendidikan dalam situasi darurat termasuk dengan mitra pembangunan, akademisi, dunia usaha, dan rekan-rekan media," paparnya.










