Benarkah Nabi Muhammad SAW Makhluk Allah yang Pertama dan Diciptakan dari Cahaya?

Benarkah Nabi Muhammad SAW Makhluk Allah yang Pertama dan Diciptakan dari Cahaya?

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:11
share

Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam (SAW)merupakan makhluk Allah SWT yang pertama dan diciptakan dari cahaya? Pertanyaan ini kerap muncul di tengah umat Islam, terutama ketika membahas keistimewaan dan kemuliaan Rasulullah SAW.

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa tidak ada hadis sahih yang secara tegas menyatakan Nabi Muhammad SAW sebagai makhluk pertamayang diciptakan Allah SWT atau bahwa beliau diciptakan dari cahaya.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam pembahasannya mengenai persoalan ini, menjelaskan bahwa riwayat-riwayat yang menyebut makhluk pertama diciptakan adalah sesuatu yang berbeda-beda dan tidak memiliki dasar yang kuat.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT adalah pena. Ada pula riwayat yang menyebutkan akal. Sementara di kalangan masyarakat juga berkembang kisah bahwa Allah SWT menggenggam cahaya-Nya kemudian berfirman, "Jadilah engkau Muhammad."

Baca juga:Seperti Apa Wajah dan Fisik Nabi Muhammad SAW? Ini Kesaksian Ali bin ABi Thalib dan Anas bin Malik

Dari kisah tersebut kemudian muncul anggapan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT, lalu dari cahaya tersebut diciptakan langit, bumi, dan seluruh makhluk lainnya.

Bahkan, ungkapan seperti "shalawat dan salam bagimu wahai makhluk Allah yang pertama" pernah populer di tengah masyarakat. Namun, menurut Al-Qardhawi, klaim tersebut tidak memiliki riwayat yang sahih.

Keutamaan Tidak Bergantung pada Status Makhluk Pertama

Menurut Al-Qardhawi, keutamaan Nabi Muhammad SAW tidak perlu dibangun berdasarkan klaim bahwa beliau adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT.

Jika pun klaim tersebut terbukti, hal itu tidak menjadi dasar utama kemuliaan Rasulullah SAW. Al-Qur'an justru menjelaskan kemuliaan beliau melalui sifat dan akhlak yang nyata.Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS Al-Qalam: 4).

Ayat tersebut menjadi salah satu penegasan mengenai kemuliaan akhlak Rasulullah SAW yang diakui dan menjadi teladan bagi umat Islam.

Manusia yang Mendapat Wahyu

Secara historis, Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi. Beliau lahir di Makkah dari pasangan Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahb.

Rasulullah SAW lahir dan tumbuh sebagai manusia. Beliau kemudian menerima wahyu dan diutus Allah SWT sebagai nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah Islam.

Al-Qur'an secara tegas menyebutkan sisi kemanusiaan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

Artinya: "Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." (QS Al-Kahfi: 110).Dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

Artinya: "Katakanlah, Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS Al-Isra': 93).

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia sekaligus utusan Allah SWT. Keistimewaan beliau terletak pada wahyu dan risalah yang diberikan Allah SWT.

Rasulullah SAW Mengingatkan Agar Tidak Berlebihan Memujinya

Rasulullah SAW sendiri mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memberikan pujian kepada beliau sebagaimana sebagian umat terdahulu berlebihan dalam memuji nabi mereka.

Dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

"Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah, maka sebutlah aku sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya."

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menempatkan Rasulullah SAW secara tepat. Umat Islam wajib mencintai, memuliakan, dan mengikuti beliau, tetapi tetap meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah SWT.

Benarkah Nabi Muhammad SAW Diciptakan dari Cahaya?

Mengenai anggapan bahwa Rasulullah SAW diciptakan dari cahaya, perlu dibedakan antara hakikat penciptaan beliau sebagai manusia dan makna beliau sebagai pembawa cahaya petunjuk.

Al-Qur'an menyebut Rasulullah SAW sebagai pembawa cahaya dan penerang dalam konteks risalahnya. Allah SWT berfirman:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ۝ وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

Artinya: "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya serta sebagai cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab: 45-46).

Makna cahaya dalam konteks ini berkaitan dengan petunjuk, dakwah, dan risalah yang dibawa Rasulullah SAW untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan Allah SWT.

Allah SWT juga berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

Artinya: "... Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan." (QS Al-Maidah: 15).

Para ulama memiliki pembahasan mengenai makna "cahaya" dalam ayat tersebut. Namun, penyebutan Rasulullah SAW sebagai cahaya dalam konteks petunjuk tidak otomatis berarti beliau secara fisik diciptakan dari unsur cahaya.

Rasulullah SAW Membawa Manusia dari Kegelapan Menuju Cahaya

Tugas utama Rasulullah SAW adalah menyampaikan wahyu dan membimbing manusia menuju jalan yang diridai Allah SWT.

Allah SWT berfirman:الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ

Artinya: "Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka..." (QS Ibrahim: 1).

Karena itu, Rasulullah SAW dapat dipahami sebagai pembawa cahaya petunjuk melalui wahyu dan risalah yang disampaikannya kepada umat manusia.

Dalam doa yang diajarkan Rasulullah SAW, beliau juga memohon kepada Allah SWT agar diberikan cahaya dalam hati, pendengaran, penglihatan, serta dari berbagai arah. Doa tersebut diriwayatkan dalam hadis muttafaq alaih.

Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak harus diwujudkan melalui keyakinan yang tidak memiliki dasar kuat. Justru, cara terbaik memuliakan beliau adalah dengan meyakini risalahnya, mencintainya, mempelajari sunnahnya, serta mengikuti petunjuk yang beliau sampaikan.

Rasulullah SAW adalah manusia pilihan Allah SWT sekaligus nabi dan rasul terakhir. Kemuliaan beliau tercermin dalam akhlak, risalah, perjuangan, dan keteladanan yang menjadi pedoman umat Islam sepanjang zaman.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti cahaya petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Amin. Wallahu a'lam.

Baca juga:Mengapa Umat Islam Perlu Mempelajari Sirah Nabawiyah? Ini 8 Keutamaannya

Topik Menarik