Trump Bentak Wartawan AS, Tak Terima Kapal Induk USS Abraham Lincoln Diberitakan Buruk

Trump Bentak Wartawan AS, Tak Terima Kapal Induk USS Abraham Lincoln Diberitakan Buruk

Global | sindonews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:59
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak terima dengan pemberitaan tentang memburuknya kondisi di kapal induk USS Abraham Lincoln yang ditugaskan untuk perang melawan Iran. Dia menyebutnya sebagai "berita palsu", sembari membentak wartawan CNN dalam perselisihan yang menegangkan di Oval Office Gedung Putih pada hari Senin.

Ketika wartawan Kristen Holmes bertanya apakah persediaan makanan di kapal induk Lincoln mencukupi, Trump menjawab: “Ada. Itu laporan CNN palsu. Selama bertahun-tahun, kami menempatkan mereka di sana jauh lebih lama. Seorang laksamana mengatakan kepada saya; ‘Saya pernah berada di kapal jauh lebih lama dari itu, Pak'. Dan orang-orang di Lincoln mengatakan kapal itu dirawat dengan sangat baik.”

Baca Juga: AS Sangkal 7 Tentaranya Tewas Baku Hantam di Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Perselisihan tersebut terjadi ketika Trump sedang memberikan penghormatan kepada seorang penjaga pantai remaja, Ryder Williams, yang menyelamatkan seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun di lepas pantai California bulan lalu.

Sesaat sebelumnya, ketika Holmes berusaha mengajukan pertanyaan, Trump menyela dan membentak, “Diam! Anda sangat tidak sopan di depan anak muda ini.”

Trump kemudian bertanya kepada Nathanial Rai, bocah 10 tahun yang diselamatkan Williams dan duduk di sampingnya, “Menurutmu, apakah dia tidak sopan?”

“Dia mengerti. Diam!” lanjut Trump.

Ketika wartawan tersebut menyebutkan media tempatnya bekerja, Trump berseru, “Anda berita palsu. Diam! Anda wartawan palsu.”Seorang juru bicara CNN mengatakan kepada Newsweek bahwa pihaknya tetap berpegang pada laporan tentang kondisi kapal induk USS Abraham Lincoln.

Akun resmi Gedung Putih di X, Rapid Response 47, membagikan video interaksi tersebut dan menuliskan komentar yang secara langsung ditujukan kepada Holmes.

“Suatu hari nanti, anak-anak Anda akan menemukan pertanyaan Anda yang menjijikkan dan tidak manusiawi. Mereka akan merasa muak dan malu memiliki orang tua yang begitu tidak berperasaan dan penuh dendam. Ini sangat mengkhawatirkan," tulis akun Gedung Putih tersebut.

CNN kemudian mengunggah pernyataan di X yang berbunyi, “Kristen Holmes adalah salah satu jurnalis yang paling dihormati dan berpengalaman dalam meliput Gedung Putih."

“Sore ini, dia menjalankan tugasnya dan mengajukan pertanyaan sulit, relevan, dan layak diberitakan kepada Presiden Amerika Serikat atas nama rakyat Amerika. Pejabat publik bebas mempertanyakan pemberitaan yang tidak mereka setujui, tetapi serangan pribadi terhadap jurnalis karena mengajukan pertanyaan berada di bawah martabat jabatan tersebut dan bertentangan dengan prinsip-prinsip pers bebas. Kami berdiri teguh bersama Kristen dan menolak serangan ini dengan sekuat tenaga,” demikian pernyataan media tersebut.

Pernyataan Trump soal Kondisi Kapal Induk Lincoln

Pekan lalu, Trump mengatakan keluarga para pelaut yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln agar tidak mengkhawatirkan kondisi kapal, meskipun terdapat sejumlah laporan yang mengkawatirkan dari anggota keluarga dan orang-orang yang berada di kapal tersebut.

Berbicara kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, presiden ditanya mengenai kekhawatiran terkait makanan dan kebersihan setelah kapal tersebut telah menghabiskan lebih dari 265 hari di laut di kawasan Timur Tengah.“Tidak, mereka tidak khawatir,” kata Trump mengenai keluarga yang menyampaikan kekhawatiran. Dia menambahkan bahwa kapal tersebut sedang bergerak dan akan digantikan oleh kapal induk USS George Washington.

Pentagon dan Angkatan Laut AS membantah sejumlah klaim tersebut.

Sejalan dengan pernyataan Trump, Menteri Perang Pete Hegseth pada Kamis lalu mengatakan laporan mengenai kondisi di kapal induk USS Abraham Lincoln telah “sepenuhnya disalahartikan”. Sementara itu, pejabat Angkatan Laut mengatakan mereka tidak menemukan peningkatan laporan mengenai keinginan bunuh diri maupun upaya bunuh diri para awak di atas kapal tersebut.

Pernyataan tersebut memicu kemarahan Ashley Rogers, istri seorang perwira yang masih bertugas di kapal induk Lincoln. Kepada Newsweek pada Jumat lalu, Rogers mengatakan Trump dan Hegseth “terputus dari kenyataan”.

“Saya pikir jika salah satu dari mereka meluangkan waktu untuk mendengarkan anggota keluarga atau para pelaut di kapal itu, atau para Marinir yang ditempatkan di kapal tersebut, mereka pasti akan mendengar cerita yang berbeda,” kata Rogers kepada Newsweek.

“Saya rasa kita tidak bisa berbohong untuk menutupi sesuatu yang begitu jelas terlihat dari kapal ini. Ketika Anda menempatkan seseorang di laut selama lebih dari 260 hari tanpa satu hari pun libur, kemudian memperpanjang masa penugasan itu tanpa memberikan tanggal berakhir, kesehatan mental mereka pasti akan terdampak," paparnya.

Para pejabat mengakui masa penugasan tersebut sangat panjang, tetapi mengatakan para pelaut tetap mendapatkan dukungan saat menjalankan operasi di kawasan tersebut.Sean Parnell, juru bicara utama Pentagon, menulis di X: “Saya pernah ditugaskan selama 485 hari di Afghanistan dengan tingkat korban lebih dari 80 persen. Kami hampir setiap hari berada di bawah tembakan. Penugasan tempur membawa kesulitan nyata. Itu adalah kenyataan. Kami menjalaninya. Kami tetap bertahan. Kami menyelesaikan misi.”

“Pemberitaan media mengenai USS Abraham Lincoln adalah sesuatu yang berbeda,” kata Parnell. “Tantangan nyata dari penugasan tempur yang panjang dipelintir menjadi narasi palsu, sementara kesulitan nyata yang dihadapi keluarga militer digunakan sebagai bahan pemberitaan. Itu memalukan.”

Berapa Lama USS Abraham Lincoln Bertugas?

USS Abraham Lincoln telah ditugaskan sejak November 2025 dan telah menghabiskan lebih dari sembilan bulan jauh dari pangkalannya di San Diego.

Menurut anggota parlemen dan laporan Angkatan Laut, kapal induk tersebut telah berada di laut selama lebih dari 250 hari berturut-turut, termasuk lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan. Tempo operasional seperti ini tergolong sangat berat bahkan menurut standar Angkatan Laut AS modern.

Selama beberapa dekade, penugasan kapal induk Angkatan Laut AS biasanya berlangsung sekitar enam bulan. Berdasarkan Optimized Fleet Response Plan milik Angkatan Laut, targetnya kemudian bergeser menjadi sekitar tujuh bulan, meskipun perpanjangan masa penugasan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir akibat ketegangan global dan penumpukan pekerjaan pemeliharaan.

Artinya, masa penugasan kapal induk Lincoln berpotensi sudah dua hingga tiga bulan lebih lama dibandingkan masa penugasan standar.

Anggota keluarga para awak kapal telah menyampaikan kekhawatiran mengenai kekurangan makanan, masalah saluran air, gangguan pengiriman surat, kelelahan, serta memburuknya kesehatan mental.Rogers mengatakan kepada Newsweek pada Jumat bahwa para awak kapal kekurangan kebutuhan dasar seperti produk sanitasi, pisau cukur, dan sabun karena persediaan menipis akibat perpanjangan masa penugasan yang tidak terduga. Upaya Angkatan Laut untuk memasok kembali kebutuhan tersebut juga disebut berjalan lambat.

Di Mana USS Lincoln Sekarang?

Kapal induk USS Abraham Lincoln diyakini masih berada di lepas pantai Iran atau di Laut Arab, tetapi seperti halnya operasi militer lainnya, lokasi pastinya tidak diketahui secara luas.

Kapal tersebut diperkirakan akan digantikan oleh USS George Washington, yang dikerahkan dari kawasan Asia, tepatnya Vietnam, pada pekan lalu.

Ketika Trump mengecam berbagai laporan mengenai masalah di atas kapal induk Lincoln sebagai berita palsu, pekan lalu juga beredar laporan lain mengenai dugaan perkelahian di atas kapal tersebut.

Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan pada 11 Agustus bahwa tujuh tentara AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam “bentrokan berdarah” di atas kapal induk Lincoln.

Namun, beberapa hari kemudian Komando Pusat AS atau CENTCOM menepis berita tersebut. “Laporan ini tidak benar,” kata CENTCOM, komando yang mengawasi seluruh pasukan AS di Timur Tengah, dalam pernyataan kepada Newsweek pada Kamis.

“Seperti yang terus kita lihat, Iran terus menyebarkan kebohongan dan informasi palsu," lanjut CENTCOM.

Topik Menarik