Bagaimana Pendukung Taliban Rayakan 5 Tahun Berkuasa?

Bagaimana Pendukung Taliban Rayakan 5 Tahun Berkuasa?

Global | sindonews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:20
share

Sambil menari mengikuti alunan musik patriotik yang keras dan berswafoto, para pendukungTaliban berkumpul di pusat kota Kabul pada hari Sabtu untuk merayakan lima tahun kekuasaan pemerintah tersebut.

Ratusan warga Afghanistan berkumpul hanya beberapa meter dari bekas kedutaan besar Amerika Serikat—tempat penarikan pasukan yang berujung pada kepergian kacau pasukan asing pada tahun 2021.

Massa memadati mobil, bahkan ada yang menjulurkan tubuh dari jendela, atap terbuka, atau bak belakang truk pikap, sambil mengibarkan bendera putih cerah milik pemerintah Taliban.

Pihak berwenang telah menghadapi kritik karena menerapkan penafsiran ketat hukum Islam terhadap warga Afghanistan—dengan aturan yang sangat ketat bagi perempuan dan anak perempuan—namun sebagian orang merasa gembira dengan peringatan hari jadi ini.

"Kami sangat berharap dan bahagia menyambut masa depan Afghanistan," ujar Mohammad Daud Rahmani (28 tahun), pemilik usaha konstruksi di Kandahar selatan, dilansir CNA.

"Kebahagiaan ini dirayakan di Kandahar dan provinsi-provinsi lain juga, namun ada nuansa kegembiraan yang berbeda di Kabul," ujarnya, sembari menyerukan agar lebih banyak negara menjalin hubungan dengan pemerintah Taliban.

Suasana perayaan terasa kental saat orang-orang yang menyandang senapan AK-47 di bahu mereka berjalan di tengah kerumunan, yang hampir seluruhnya terdiri dari laki-laki dan anak-anak.

Beberapa anggota Taliban tampak menari sambil membawa peluncur granat berpeluru roket (RPG). Seorang wanita yang mengenakan *chador* hijau yang menutupi seluruh tubuh serta kerudung hitam dilarang berfoto dengan bendera tersebut, lalu ia meninggalkan lokasi itu.

Warga lainnya tampil istimewa untuk acara ini; anak-anak laki-laki mengenakan seragam militer sambil memegang pistol mainan, sementara anak-anak maupun pria dewasa mengenakan ikat kepala berwarna merah atau putih.Beberapa orang memasang replika jeriken bahan bakar berwarna kuning pada mobil mereka, sebagai simbol wadah yang kerap digunakan sebagai bom rakitan selama dua dekade pemberontakan Taliban sebelum mereka kembali berkuasa.

Asif Khan Barakzai, warga Kabul berusia 21 tahun, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemimpin tertinggi Taliban dan aparat keamanan atas "suasana yang sangat damai".

"Kami datang untuk menyampaikan pesan kepada dunia bahwa hari ini, dengan hadirnya Imarah Islam, saya merasakan kedamaian, kenyamanan, dan ketenangan di Afghanistan," ujarnya kepada AFP, merujuk pada pemerintahan Taliban.

Musik bernuansa keagamaan dan patriotik berkumandang keras sementara helikopter militer terbang di atas kepala, dan suara letusan petasan terdengar bersahut-sahutan di jalanan.

Namun, di luar pos pemeriksaan menuju kawasan yang dulunya disebut Zona Hijau, jalan-jalan yang dulu ramai oleh personel AS dan pejabat asing lainnya kini tampak lengang.Seorang penjual es krim tampak mendorong gerobaknya sendirian; gerobak itu dihiasi dengan bendera putih pemerintah.

Perayaan ini sebagian besar hanya berlangsung di beberapa titik saja, termasuk sebuah alun-alun tempat anggota Taliban menarikan attan—tarian tradisional suku Pashtun.

Pemerintah telah menetapkan hari Sabtu sebagai hari libur nasional dan sejumlah toko di Kabul tutup, sementara arus lalu lintas di ibu kota yang biasanya padat kini menjadi lebih lengang.

Topik Menarik