Gertak Balik AS, Iran Minta Trump Berhenti Berkhayal Kuasai Selat Hormuz

Gertak Balik AS, Iran Minta Trump Berhenti Berkhayal Kuasai Selat Hormuz

Ekonomi | sindonews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:53
share

Iran secara tegas menolak klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan dapat menjadikan Selat Hormuz sebagai "wilayah Amerika Serikat". Kendali atas pembukaan dan penutupan jalur pelayaran strategis tersebut tetap berada di tangan Iran.

"Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, merupakan milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dalam unggahan di platform X yang dikutip dari The Hill, Minggu (16/6/2026).

Baca Juga:Pertikaian Memanas, PM Israel Netanyahu Sebut Republik Islam Inggris

Penolakan itu kembali memperuncing ketegangan antara Teheran dan Washington di tengah gangguan lalu lintas kapal serta pasokan energi global. Gharibabadi mengatakan AS tidak memiliki kewenangan untuk mengklaim Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan menjadi salah satu titik utama konflik.

Ia juga menyatakan Iran akan mempertahankan blokade terhadap jalur pelayaran tersebut selama AS belum menerima apa yang disebutnya sebagai kenyataan kekalahan dan masih terjebak dalam "khayalan". Pernyataan tersebut merespons pidato Trump di sebuah akademi kepolisian di New York pada Jumat.

Trump dalam pidatonya mengemukakan rencana untuk menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS, meskipun jalur strategis tersebut secara geografis berada di antara Iran dan Oman serta memiliki status pelayaran internasional. "Dalam waktu dekat, saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump dalam pidatonya tersebut.Trump sebelumnya juga berulang kali mengklaim AS telah mengendalikan Selat Hormuz. Ia mengatakan tidak ada pihak lain yang menguasai jalur tersebut dan menilai operasi Angkatan Laut AS di kawasan berjalan dengan baik.

Namun, klaim tersebut mendapat bantahan dari sejumlah kalangan. Mantan diplomat AS Richard Haass menegaskan tidak ada satu negara pun yang secara sepihak menguasai Selat Hormuz, sementara pembawa acara Fox News Bret Baier menyebut lalu lintas kapal di jalur tersebut telah menyusut drastis.

Baca Juga:Iran Gabung Bank BRICS, Makin Yakin Tinggalkan Dolar Bersama Negara Berkembang

Sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 20 pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu rute energi paling penting karena menghubungkan negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk Persia dengan pasar global.

Lalu lintas pelayaran kemudian anjlok setelah Iran bergerak menutup jalur tersebut menyusul serangan AS dan Israel. Gangguan itu turut mendorong kenaikan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan minyak dunia.

Perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal sebelum perang, ketika sekitar 130-140 kapal melintas setiap hari, menunjukkan besarnya dampak konflik terhadap perdagangan energi dan pelayaran internasional.

Topik Menarik