Ribuan Awak Kapal Induk AS Mulai Tumbang setelah 8 Bulan Perang Iran: Makanan Cuma Nasi dan Tortilla
Kapal induk USS Abraham Lincoln telah menghadapi kondisi yang memprihatinkan selama berbulan-bulan dalam perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, di tengah laporan yang terus bertambah mengenai kelelahan parah, kekurangan pasokan, dan masalah kesehatan mental di antara ribuan awak kapal. Persoalan tersebut memicu kemarahan keluarga para awak dan mendorong anggota Kongres AS menuntut penjelasan.
Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz dengan awak sekitar 5.000 orang itu mampu membawa hingga 90 pesawat dan, dalam kapasitas puncaknya, melaksanakan lebih dari 100 sortie tempur per hari. Kapal tersebut meninggalkan San Diego pada akhir November. Kini, kapal itu telah dikerahkan selama lebih dari 260 hari, termasuk lebih dari 200 hari berturut-turut berada di laut—sebuah periode yang luar biasa panjang menurut standar Angkatan Laut AS.
Baca Juga: AS Kerahkan Kapal Induk USS George Washington ke Timur Tengah, Kekuatan Baru untuk Lawan Iran
Selain itu, kapal induk tersebut menghabiskan sebagian besar masa pengerahannya dalam lingkungan tempur, dengan Iran mengeklaim telah menargetkannya berkali-kali. Meskipun para pejabat AS bersikeras bahwa kapal induk tersebut masih beroperasi, beratnya kampanye militer yang berkepanjangan tampaknya mulai berdampak pada kondisi kapal dan awaknya.
Detail Krisis yang Dihadapi USS Abraham Lincoln dan Ribuan Awaknya
1. Bagaimana Kondisi di Atas USS Abraham Lincoln?
Keluhan dari para awak dan keluarga mereka jauh melampaui ketidaknyamanan yang biasanya terjadi selama pengerahan dalam waktu lama.Keluhan tersebut mencakup kekurangan pasta gigi, deodoran, dan sabun; masalah air panas dan air minum; toilet yang rusak; fasilitas laundry yang tidak dapat diandalkan; gangguan pasokan makanan; serta keterlambatan surat yang begitu parah sehingga beberapa paket kiriman dari keluarga dilaporkan menghilang dalam sistem selama berbulan-bulan.
Laporan lainnya menyebut adanya jamur, sistem perpipaan yang rusak, serta bagian-bagian dek penerbangan yang berlubang akibat penggunaan intensif tanpa perbaikan yang memadai.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Mike Levin, mengeklaim kondisi makanan sangat buruk sehingga makanan para awak “hanya berupa setengah cangkir nasi dan dua tortilla (roti pipih).” Makanan minim tersebut pertama kali dilaporkan USA Today pada pertengahan April, meskipun Pentagon saat itu membantah adanya kekurangan makanan.
Menurut Maritime Executive, masalah pasokan sebagian disebabkan oleh persoalan logistik. Pangkalan utama Armada ke-5 AS berada di Bahrain, jauh di dalam Teluk Persia, sehingga banyak pengiriman harus melewati Selat Hormuz dan berisiko terkena serangan Iran.
2. Apakah Ribuan Awak Mulai Kelelahan Berat?
Ada indikasi kuat bahwa hal tersebut memang terjadi. Salah satu insiden paling mencolok yang dikonfirmasi Komando Pusat AS (CENTCOM) terjadi pada 3 Agustus, ketika seorang pelaut jatuh ke laut dari USS Abraham Lincoln dan berhasil diselamatkan sekitar satu jam kemudian.Mengutip pejabat AS, CNN melaporkan bahwa Angkatan Laut AS memperlakukan insiden tersebut sebagai episode terkait kesehatan mental. Pelaut itu menjalani evaluasi medis dan kemudian dikeluarkan dari kapal untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Annabelle Loma, istri pelaut tersebut, mengatakan kepada Navy Times bahwa suaminya mengalami kelelahan emosional dan mengonfirmasi bahwa dia mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut. Dia menambahkan bahwa suaminya tampak “ketakutan” dan khawatir akan mendapat “pemberhentian tidak terhormat, hanya karena dia sudah kelelahan.”
Dalam sebuah pertemuan dengan pimpinan Angkatan Laut, pasangan awak lainnya mengatakan suaminya mengirim pesan bahwa dia berharap “tidak bangun besok,” menurut laporan Stars and Stripes.
Keluarga awak lainnya juga memperingatkan mengenai kelelahan fisik dan mental setelah berbulan-bulan menjalani jam kerja panjang. Mereka memperingatkan bahwa tingkat kelelahan seperti itu dapat menyebabkan kesalahan fatal.
“Moral para awak tidak baik,” kata salah seorang anggota keluarga, seperti dikutip MS Now. “Kabarnya, dokter atau terapis kapal mengatakan mereka harus segera masuk pelabuhan, atau orang-orang akan mulai, ya, kehilangan akal sehat.”
Namun, Angkatan Laut AS membantah kekhawatiran tersebut. Kepada CNN, mereka mengatakan, “Kami tidak melihat adanya peningkatan pikiran untuk bunuh diri atau upaya bunuh diri di atas kapal.”
3. Apakah Tekanan di Kapal Induk Memicu Kekerasan?
Mengutip seorang “sumber militer yang mengetahui situasi”, kantor berita Iran; Tasnim, awal bulan ini melaporkan bahwa tujuh personel Angkatan Laut AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam bentrokan kekerasan di atas USS Abraham Lincoln.Menurut laporan tersebut, seorang penasihat CENTCOM, di bawah komandan Laksamana Brad Cooper, naik ke kapal untuk menangani keluhan mengenai pengerahan yang berkepanjangan. Namun, dia disebut mendapat sorakan dan dilempari botol air sebelum situasi berubah menjadi perkelahian menggunakan pisau.CENTCOM membantah tuduhan tersebut dan mengatakan tidak ada awak kapal yang tewas selama perang Iran.
Sejumlah analisis menyebut Iran, yang secara militer lebih lemah dibandingkan AS, mengandalkan perang atrisi untuk mempertahankan posisinya dan memperoleh konsesi dari Washington.
Kamal Kharrazi, kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, mengatakan Iran siap menghadapi “perang panjang” dan berpendapat bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan ekonomi yang akan dirasakan negara-negara lain.
Mayor Jenderal Mohammad Jafar Asadi, mantan komandan senior Iran, pada Juli menggambarkan konflik tersebut sebagai “perang atrisi yang tak pernah berakhir.”
Seiring konflik berlarut-larut, Teheran mengeklaim telah melancarkan banyak serangan terhadap USS Abraham Lincoln.
Pada 1 Maret, Iran mengumumkan telah menembakkan empat rudal balistik ke arah kapal induk tersebut. CENTCOM mengatakan rudal-rudal itu “bahkan tidak mendekati” kapal.
Kemudian pada bulan yang sama, Teheran mengeklaim rudal dan drone telah menghantam kapal tersebut, membuatnya tidak dapat beroperasi dan memaksanya mundur. Klaim itu juga dibantah Washington.Pada awal April, Iran mengatakan telah meluncurkan beberapa gelombang drone serang ke arah kelompok tempur USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia bagian utara, sehingga memaksanya mundur.
Pada Juli, Iran mengeklaim telah menyerang pusat-pusat dukungan logistik untuk kapal induk AS di Oman. Teheran kemudian menambahkan bahwa target lainnya mencakup satu fasilitas pengisian bahan bakar kapal induk, selain depot bahan bakar, gudang logistik Angkatan Laut, fasilitas pesawat, dan infrastruktur militer AS lainnya.
Pada Selasa lalu, militer Iran mengeklaim AS tidak lagi memiliki kapal perang di kawasan Teluk Persia.
Meski belum jelas apakah USS Abraham Lincoln mengalami kerusakan dalam serangan-serangan tersebut, kapal itu jelas tidak beroperasi dalam lingkungan yang aman. CENTCOM melaporkan sekitar 10.000 penerbangan pesawat dan penggunaan sekitar 1,5 juta pon persenjataan selama misi tersebut.
Mengapa Anggota Kongres AS Berselisih dengan Pentagon?
Pada Rabu, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Senator Demokrat Richard Blumenthal, menerbitkan surat terbuka untuk Menteri Perang Pete Hegseth. Dia menyampaikan “kekhawatiran serius” mengenai situasi di atas kapal USS Abraham Lincoln dan mempertanyakan apakah kapal tersebut mampu terus menjalankan operasi.“Lincoln bukan kasus yang terisolasi. Pengerahan kapal induk baru-baru ini berulang kali berlangsung lebih lama dari durasi yang awalnya diperkirakan, menunjukkan bahwa pengerahan berkepanjangan mungkin mulai menjadi ciri, bukan pengecualian, dalam model pembentukan kekuatan Angkatan Laut,” paparnya.
Senator Ruben Gallego juga menyerukan kunjungan pengawasan bipartisan dari Kongres ke USS Abraham Lincoln, sembari mempertanyakan jaminan Pentagon.
Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, bahkan melangkah lebih jauh dengan secara pribadi menyalahkan Hegseth dan mengatakan para pelaut “menanggung akibat” dari kegagalan Pentagon.“Ketika Pete Hegseth dicalonkan, semua orang tahu dia benar-benar tidak kompeten... Pete Hegseth harus segera dipecat,” tegasnya.
Hegseth menepis laporan mengenai buruknya kondisi tempat tinggal dan kekurangan makanan di USS Abraham Lincoln sebagai sesuatu yang “sepenuhnya disalahgambarkan”, meskipun dia mengakui bahwa beberapa pengerahan bisa berlangsung lebih lama dan lebih berat dibandingkan yang lainnya.
“Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, setiap kapten, mendapatkan segala sesuatu yang dapat kami berikan kepada mereka setiap saat,” katanya.
Sementara itu, AP melaporkan bahwa kapal induk USS George Washington kini bergerak menuju Timur Tengah dari Vietnam untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.
Namun, pengerahan kembali tersebut diperkirakan akan mengurangi kehadiran militer AS di kawasan Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan dengan China.
Meskipun Pentagon bersikeras bahwa USS Abraham Lincoln “tetap sepenuhnya mampu menjalankan seluruh tugas misi”, dan tidak ada bukti kredibel bahwa Iran berhasil melumpuhkan kapal tersebut, para awaknya tampaknya telah berada sangat dekat dengan titik kritis.
Setelah lebih dari delapan bulan menjalani pengerahan, kapal tersebut tampaknya menghadapi masalah logistik dan pasokan kebutuhan dasar, sementara kekhawatiran mengenai kesehatan mental para awak semakin meningkat.
USS Abraham Lincoln diperkirakan segera digantikan oleh USS George Washington. Namun, kondisi dan kinerja kapal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan AS secara keseluruhan untuk mempertahankan operasi jangka panjang yang efektif melawan lawan yang bahkan secara militer lebih lemah.








