Pertikaian Memanas, PM Israel Netanyahu Sebut Republik Islam Inggris

Pertikaian Memanas, PM Israel Netanyahu Sebut Republik Islam Inggris

Global | sindonews | Jum'at, 14 Agustus 2026 - 20:33
share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Inggris sebagai "Republik Islam Inggris" (Islamic Republic of Britain). Ini merupakan sindiran keras terhadap salah satu sekutu Eropa yang secara historis paling dekat dengan Israel.

Netanyahu melontarkan komentar tersebut dalam podcast Israel Melech Blitzer Haim yang tayang pada hari Kamis (13/8/2026), saat ia menyatakan keberatannya terhadap pemberitaan media Inggris mengenai Israel.

Sebagai contoh, Netanyahu merujuk pada penulis Inggris Randolph Churchill, yang ia puji karena pemberitaannya yang "positif" mengenai Israel selama Perang Enam Hari tahun 1967.

Netanyahu kemudian menambahkan dengan nada sarkastis, "Cobalah cari hal seperti itu di Inggris saat ini—yang bisa Anda sebut sebagai Republik Islam Inggris," menurut terjemahan komentar yang dipublikasikan media Israel.

Di bagian lain wawancara tersebut, Netanyahu tampaknya merujuk pada komentar JD Vance tahun 2022 yang menyatakan Inggris mungkin akan menjadi "negara Islamis" pertama yang memiliki senjata nuklir."Ada yang bilang republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris," ujar Netanyahu.

"Kami memastikan tidak akan ada lagi negara seperti itu di sini, di Iran," tambahnya.

Netanyahu Tidak Mewakili Suara Yahudi Inggris

Kelompok Yahudi Inggris dan Irlandia mengkritik komentar perdana menteri Israel tersebut karena dianggap penuh kebencian dan memecah belah.

"Di saat antisemitisme, kebencian terhadap Muslim, dan perpecahan sosial menimbulkan ketakutan nyata di seluruh negeri kita, bahasa semacam ini berbahaya dan tidak bertanggung jawab," kata Rabi Charley Baginsky dan Rabi Josh Lev, pemimpin bersama Movement for Progressive Judaism."Perdana Menteri Netanyahu tidak berbicara mewakili orang Yahudi Inggris. Kata-katanya tidak mewakili kami," ujar mereka.

Gavin Barwell, mantan kepala staf Downing Street untuk Perdana Menteri Theresa May, mengatakan komentar Netanyahu merupakan bentuk "Islamofobia yang terang-terangan".

"Mari berharap semua orang kini akan menanggalkan anggapan yang masih dipegang sebagian pihak bahwa orang ini adalah sahabat Inggris," tulis Barwell dalam unggahan di X.

Terlepas dari hubungan yang secara tradisional kuat, ketegangan antara pemerintah Israel dan Inggris telah meningkat sejak Partai Buruh yang progresif berkuasa di Inggris pada tahun 2024.

Di bawah pemerintahan Perdana Menteri dari Partai Buruh, Keir Starmer, Inggris menunda pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel dan menangguhkan sejumlah izin ekspor senjata. Seperti halnya Prancis, Inggris juga telah menjatuhkan sanksi terhadap anggota kabinet Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Tahun lalu, Inggris bergabung dengan negara-negara sekutu, termasuk Prancis dan Kanada, dalam mengakui negara Palestina.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham baru-baru ini meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap tindakan Israel di Gaza, dengan mengakui partai tersebut terlambat menyerukan gencatan senjata.

"Itulah sebabnya kita perlu berbuat lebih banyak, termasuk mempertimbangkan sanksi tambahan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kekerasan di Gaza serta langkah-langkah untuk melarang perdagangan barang dengan permukiman ilegal," ujar Burnham. "Kita harus melakukan lebih banyak upaya untuk menekan pemerintah Israel."

Rodwan Abouharb, profesor madya bidang hubungan internasional di University College London, mengatakan sindiran Netanyahu menandai titik terendah baru dalam hubungan Inggris-Israel, namun juga "menunjukkan adanya banyak kesamaan tujuan kebijakan" antara kedua negara terkait Iran.

"Komentar Netanyahu mungkin lebih ditujukan untuk kepentingan domestik, yakni guna memperkuat koalisi pemerintahannya yang sedang retak," ungkap Abouharb kepada Al Jazeera.

Baca juga: Iran Setujui Rencana Aksi Strategis untuk Selat Hormuz, Larang Semua Kapal Musuh Melintas

Topik Menarik