Jauh dari Medan Perang, 13 Warga Rusia Tewas Akibat Serangan Drone Ukraina

Jauh dari Medan Perang, 13 Warga Rusia Tewas Akibat Serangan Drone Ukraina

Global | sindonews | Senin, 10 Agustus 2026 - 20:08
share

Jumlah korban tewas akibat serangan pesawat nirawak Ukraina di kota Nizhnekamsk, Republik Tatarstan, Rusia, telah meningkat menjadi 13 orang.

Sekitar 48 orang dilaporkan terluka. Wali Kota Radmir Belyaev mengatakan bahwa "baik lokasi industri maupun sipil" menjadi sasaran serangan di kota yang terletak sekitar 880 km di sebelah timur Moskow tersebut.

Komite Investigasi Rusia menyatakan bahwa salah satu warga sipil yang tewas adalah anak di bawah umur. Lembaga tersebut mengategorikan serangan Ukraina ini sebagai tindakan terorisme, seraya menegaskan bahwa lokasi-lokasi yang disasar "tidak memiliki kaitan apa pun dengan aktivitas militer."

Warga negara Uzbekistan dan Tajikistan kemungkinan termasuk di antara para korban tewas, menurut pihak pemerintah Tatarstan.

Naberezhnye Chelny dan pusat kedokteran bencana Tatarstan, sebuah rumah sakit khusus trauma.Tiga orang tewas akibat rentetan serangan Ukraina yang menghantam bangunan tempat tinggal di Belgorod, Rusia – menLaporan awal menunjukkan bahwa setidaknya satu anak termasuk di antara mereka yang dirawat di rumah sakit setelah serangan tersebut.

Pemimpin Tatarstan, Rustam Minnikhanov, telah menetapkan masa berkabung bagi para korban serangan Ukraina.

Duta Besar Keliling Rusia, Rodion Miroshnik, mengecam negara-negara Barat yang mendukung serangan Ukraina. Ia menyatakan bahwa "setiap nyawa warga sipil yang terenggut atau hancur menjadi beban hati nurani mereka yang memberikan senjata kepada pembunuh Nazi dan membiarkan mereka berpikir bahwa mereka akan bebas dari hukuman atas kejahatan mereka." Diplomat tersebut memimpin misi Kementerian Luar Negeri Rusia yang memantau kekejaman Ukraina.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa pasukan pertahanan udara telah mencegat 456 pesawat nirawak Ukraina dalam semalam, termasuk di wilayah Tatarstan. Bulan lalu, Kiev meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi, kapal sipil, dan infrastruktur penting lainnya milik Rusia sebagai bagian dari apa yang disebut Vladimir Zelensky sebagai "kampanye tekanan" selama 40 hari, yang bertujuan memaksa Moskow menerima syarat gencatan senjata dari Ukraina.

Kampanye tersebut juga mencakup serangan yang menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Awal bulan ini, delapan orang—termasuk empat anak-anak—tewas dan sekitar belasan lainnya terluka ketika sebuah pesawat nirawak (drone) Ukraina menghantam pantai yang ramai pengunjung di resor Laut Hitam Rusia, Gelendzhik.Serangan terhadap Nizhnekamsk merupakan yang paling mematikan sejak Zelensky mengumumkan strategi baru tersebut, namun itu bukanlah insiden dengan jumlah korban jiwa sipil terbanyak tahun ini. Pada bulan Januari, serangan terhadap pesta Malam Tahun Baru di desa resor Khorly, wilayah Kherson, menewaskan 29 orang. Pada bulan Mei, serangan drone malam hari terhadap asrama sekolah kejuruan di Starobelsk menewaskan 21 orang, yang sebagian besar merupakan siswa remaja.

Para pejabat Rusia menuduh Kiev sengaja menargetkan warga sipil dalam beberapa serangan tersebut guna menyebarkan ketakutan di kalangan penduduk. Di sisi lain, para pejabat Ukraina berulang kali menyatakan bahwa konflik harus "dibawa" ke wilayah Rusia demi meningkatkan tekanan terhadap Moskow.

Rusia merespons dengan meningkatkan intensitas serangannya sendiri, yang secara signifikan mengganggu pelayaran Ukraina di Laut Hitam serta pasokan bahan bakar di wilayah-wilayah yang dianggap penting oleh Moskow bagi logistik militer Kiev.

Topik Menarik