Iran Pamer Trofi Perang, dari Jet Tempur F-15E AS hingga Drone Hermes Israel
Pemerintah Iran telah memamerkan sejumlah "trofi perang" kepada publik dunia. Di antaranya, bangkai jet tempur F-15E Strike Eagle Amerika Serikat (AS) serta drone Hermes 900 Israel dan MQ-9 Reaper Amerika dalam kondisi nyaris utuh.
Pamer hasil buruan persenjataan musuh ini dilakukan Teheran ketika pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah perang berikutnya.
Baca Juga: UEA: Rudal Iran Serang Kapal Tanker Minyak ADNOC di Selat Hormuz
AS, bekerja sama dengan Israel, telah melancarkan “Operation Epic Fury” terhadap Iran pada 28 Februari dengan tujuan melumpuhkan kepemimpinan rezim Iran sekaligus menghancurkan kemampuan militernya.
Namun, sekitar enam bulan kemudian, media pemerintah Iran menerbitkan gambar yang memperlihatkan bangkai sejumlah pesawat AS dan Israel yang diklaim berhasil dijatuhkan Iran selama perang selama 40 hari tersebut.Salah satunya adalah puing-puing F-15E Strike Eagle dengan call sign DUDE 44. Ini adalah jet tempur Angkatan Udara AS (USAF) yang kini diidentifikasi sebagai pesawat dengan nomor 00-3000.
Pada 3 April, sebuah F-15E Strike Eagle ditembak jatuh oleh tembakan dari darat yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ketika menjalankan misi tempur di wilayah Iran barat daya.
Peristiwa tersebut menjadi kehilangan pertama yang terkonfirmasi terhadap pesawat tempur berawak AS akibat tembakan Iran di wilayah Iran selama konflik tersebut.
Insiden itu juga memicu operasi pencarian dan penyelamatan intensif selama 36 jam terhadap Weapon Systems Officer (WSO) yang dinyatakan hilang.
USAF mengalami kerugian tambahan selama operasi tersebut, termasuk penghancuran sendiri sejumlah pesawat yang mengalami kerusakan atau tidak dapat digunakan untuk mencegah material sensitif jatuh ke tangan IRGC.
Namun, jatuhnya F-15E milik Sayap Tempur ke-48 dari RAF Lakenheath dengan cepat menjadi simbol utama dalam narasi media Iran mengenai keberhasilan pertahanan udara mereka.
Media Iran bahkan merilis foto dan video lokasi jatuhnya pesawat hampir segera setelah insiden. Rekaman tersebut memperlihatkan bagian stabilizer vertikal dengan tanda USAFE, kilatan merah pada ekor, serta sejumlah karakteristik lain yang konsisten dengan pesawat tersebut.Pameran terbaru itu mencakup kanopi pesawat dan kursi lontar ACES II. Kursi lontar tersebut merupakan salah satu komponen pesawat yang ditemukan dalam kondisi relatif paling utuh.
Selain itu, sejumlah bagian yang dikaitkan dengan pesawat C-130 yang ditinggalkan dan dihancurkan selama operasi penyelamatan juga dipamerkan, meskipun tidak terlalu menonjol secara visual.
Namun, "trofi perang" yang paling menarik perhatian adalah dua drone yang diklaim Iran berhasil ditemukan dalam kondisi sebagian besar masih utuh selama Operation Epic Fury.
Keduanya adalah MQ-9 Reaper milik AS dan Hermes 900 buatan perusahaan Israel Elbit Systems dengan nomor seri 923.
Otoritas Iran menyatakan MQ-9 Reaper berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, sementara Hermes 900 dijatuhkan melalui peperangan elektronik.
Iran mengeklaim berhasil menjatuhkan sedikitnya 24 MQ-9 Reaper hingga dimulainya gencatan senjata. Jumlah tersebut disebut setara dengan 57 dari seluruh kerugian USAF dalam perang.
Beberapa drone kelas tersebut juga dilaporkan kembali jatuh dalam pertukaran permusuhan yang berlangsung secara sporadis setelah gencatan senjata. Berdasarkan klaim pejabat AS pada awal Juli, total kehilangan MQ-9 Reaper mencapai sekitar 30 unit.
Meski mengalami kerugian tersebut, Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal Kenneth S. Wilsbach, tetap menyebut Reaper sebagai MVP atau pemain paling berharga dalam perang Iran.
“Kami telah melakukan sangat, sangat banyak serangan menggunakan Reaper," kata Wilsbach, sebagaimana dilaporkan EurAsian Times, Minggu (9/8/2026).
“Ini merupakan platform tanpa awak, sehingga kami mendapatkan banyak manfaat darinya dan tidak menempatkan personel kami dalam risiko,” ujarnya
Secara terpisah, pelacak berbasis sumber terbuka mendokumentasikan sedikitnya empat hingga lima drone Hermes 900 Israel yang hilang selama fase utama perang dengan Iran. Namun, sejumlah perkiraan bahkan menyebut jumlahnya bisa mencapai delapan unit.Mengumpulkan dan memamerkan "trofi perang" sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Rusia dan Ukraina juga melakukan hal serupa dalam perang yang masih berlangsung di antara kedua negara. Namun, tindakan tersebut memiliki risiko tersendiri.
Iran dapat memanfaatkan drone yang berhasil direbut terutama untuk memperoleh technical intelligence (TECHINT), melakukan rekayasa balik atau reverse engineering, serta mengadaptasinya untuk program militernya sendiri.
Platform tersebut merupakan UAV MALE (medium-altitude, long-endurance) yang digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, pengintaian (ISR), dan serangan.
Iran dapat membongkar drone tersebut dan memperoleh teknologi penting seperti sistem optik, detektor, sistem stabilisasi, laser, serta unit pemrosesan.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan paket elektro-optik atau inframerah (IR), radar aperture sintetis atau Synthetic Aperture Radar (SAR), serta kemampuan penggabungan berbagai sensor (multi-sensor fusion) untuk diintegrasikan dengan berbagai platform yang sudah dimiliki Iran.
Iran juga berpotensi memperoleh akses terhadap teknologi komunikasi satelit (SATCOM) untuk kendali dan komunikasi terenkripsi, line-of-sight datalinks, kendali beyond-line-of-sight, serta kemungkinan jaringan komunikasi taktis.
Untuk meningkatkan kemampuan penerbangan jarak jauh pesawat Iran dan integrasi muatan, IRGC juga dapat mempelajari desain struktur, sistem isolasi getaran sensor, serta ruang muatan modular.
Dalam skenario hipotetis, bahkan pemahaman sebagian saja dapat meningkatkan kemampuan ISR siang-malam dalam segala kondisi cuaca pada drone Iran saat ini.
Informasi tersebut juga dapat memberikan panduan untuk mengembangkan strategi peperangan elektronik, jamming, serta pertahanan udara terhadap senjata Barat yang memiliki kemampuan serupa.
Selain itu, Iran juga dapat memilih membagikan hasil yang diperolehnya kepada mitra strategis seperti Rusia, yang selama ini telah membantu Teheran dalam operasi militernya.
Iran sendiri telah menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan rekayasa balik terhadap drone Barat.Iran pernah mendapatkan keuntungan besar pada 5 Desember 2011, ketika unit peperangan sibernya berhasil mengambil alih UAV Lockheed Martin RQ-170 Sentinel milik AS dan memaksanya mendarat di dekat Kota Kashmar, Iran timur laut.
Lokasi tersebut berada sekitar 225–250 kilometer dari perbatasan Afghanistan.
Pejabat AS kemudian mengonfirmasi bahwa pesawat tanpa awak tersebut dioperasikan CIA dan menjalankan misi pengintaian.
Sejumlah laporan menyebut drone tersebut digunakan dalam upaya memantau fasilitas nuklir Iran dan instalasi militer lainnya.
Saat itu, pemerintah Iran menyatakan unit perang sibernya telah mendeteksi pesawat tersebut memasuki wilayah udara Iran, mengambil alih kendalinya, lalu mendaratkannya dengan kerusakan minimal, bukan menembaknya jatuh.
Para pejabat Iran, termasuk komandan Angkatan Dirgantara IRGC, mengklaim telah mengganggu (jamming) komunikasi satelit dan sistem kendali drone tersebut.
Menurut mereka, gangguan itu membuat drone masuk ke mode autopilot atau lost-link, kemudian Iran menggunakan GPS spoofing untuk membuat pesawat tersebut mendarat.
Sejumlah analis dan pejabat AS ketika itu meragukan klaim Iran mengenai peperangan elektronik tersebut.
Mereka mencatat bahwa RQ-170 terutama mengandalkan sistem navigasi inersial, yang lebih sulit untuk diganggu atau dipalsukan dibandingkan sistem yang sepenuhnya mengandalkan GPS.
Namun, kondisi badan pesawat yang relatif utuh memunculkan berbagai teori yang saling bertentangan.
Ada yang menilai pesawat berhasil direbut melalui kendali terkontrol, sementara teori lainnya menyebut RQ-170 mengalami pendaratan keras setelah kehilangan kendali.Mantan Presiden AS Barack Obama secara terbuka mengakui insiden tersebut. Pada 12 Desember 2011, Obama mengatakan AS secara resmi telah meminta Iran mengembalikan drone tersebut.
Namun, Iran menolak tuntutan Washington. Pada 8 Desember, televisi pemerintah Iran menayangkan rekaman pejabat militer Iran sedang memeriksa benda yang mereka identifikasi sebagai drone RQ-170 Sentinel.
Teheran bahkan mengklaim negara seperti China dan Rusia telah mendekati Iran untuk mendapatkan informasi mengenai drone tersebut. Peristiwa tersebut membuka informasi mengenai sebuah operasi pengintaian yang sebelumnya sangat dirahasiakan di wilayah Iran.
Insiden itu juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan transfer teknologi dan menjadi kekalahan besar bagi Amerika Serikat dalam aspek intelijen dan teknologi.
Pada 2012, IRGC mengeklaim berhasil memperoleh data dari drone AS tersebut dan mulai membangun proses untuk membuat tiruannya.
RQ-170 kemudian direkayasa ulang dan menjadi dasar pengembangan drone yang kini dikenal sebagai Saeghe/Simorgh.
Pada tahun yang sama, televisi pemerintah Iran juga menayangkan gambar yang disebut sebagai drone ScanEagle AS yang berada di wilayah udara Iran.
Iran tidak pernah menyangkal keberadaan drone tersebut. Sebaliknya, Teheran justru memilih memamerkan keberhasilan melakukan rekayasa balik drone AS sebagai sebuah kemenangan besar.
Pada akhirnya, hampir selalu ada kemungkinan bahwa sebuah negara lawan dapat memperoleh sejumlah informasi intelijen dari bangkai pesawat, terlepas dari berbagai langkah yang dilakukan untuk mencegahnya.
Dalam kasus Iran, bangkai F-15E dan drone MQ-9 Reaper serta Hermes 900 dapat memberikan kesempatan untuk mempelajari teknologi militer Barat.
Hal tersebut tentu menimbulkan risiko terhadap teknologi militer AS dan Israel. Namun, kemungkinan semacam itu sebenarnya merupakan risiko yang hampir tidak dapat dihindari dan kemungkinan besar telah disadari oleh kedua negara ketika memutuskan untuk memulai perang dengan Teheran.






