Apakah Pakistan, Turki, dan Arab Saudi Baru Saja Luncurkan NATO Islam?

Apakah Pakistan, Turki, dan Arab Saudi Baru Saja Luncurkan NATO Islam?

Global | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:28
share

Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani pakta pertahanan pada hari Jumat (7/8/2026), memicu pembicaraan mengenai kelompok bergaya NATO yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan regional. Pembentukan blok ini terjadi di tengah situasi keamanan yang tidak stabil di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Tindakan balasan Teheran terhadap negara-negara monarki Teluk—yang selama ini merupakan sekutu tradisional AS—telah menyingkap keterbatasan payung keamanan Amerika dan memaksa negara-negara Arab Teluk memikirkan kerangka kerja keamanan alternatif.

Pakta keamanan baru tersebut ditandatangani di Mekkah oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Namun, belum jelas apakah serangan semacam itu akan memicu respons militer gabungan dari blok tersebut—seperti komitmen pertahanan kolektif dalam Pasal 5 NATO.

Mengapa Pakta Ini Penting?

Terlepas dari itu, aliansi militer antara tiga negara Muslim Sunni ini menghadirkan simbolisme yang kuat di kawasan yang dilanda konflik.

Ketua lembaga pemikir (think tank) Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, mengatakan kepada Reuters, "Kerangka kerja trilateral ini dapat memperkuat bobot diplomatik dan pertahanan kolektif ketiga negara, sekaligus berkontribusi pada munculnya arsitektur keamanan yang lebih digerakkan oleh kawasan itu sendiri."

Ketiga negara ini membawa aset yang sangat kuat ke dalam kelompok tersebut: Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim yang memiliki persenjataan nuklir; Turki memiliki industri pertahanan yang tangguh dan militer terbesar kedua di NATO; dan Arab Saudi—eksportir minyak mentah terbesar di dunia—memiliki kekuatan finansial yang besar, selain kekuatan militer yang dilengkapi dengan persenjataan Amerika.

Namun, para ahli mencatat ini bukan upaya pertama untuk membentuk kekuatan penyeimbang serupa di kawasan tersebut, dan pakta terbaru ini mungkin tidak serta-merta menjadi faktor pengubah peta kekuatan (game-changer).

"Saya tidak akan sampai menyebutnya sebagai NATO Islam, atau munculnya blok keamanan baru, aliansi baru, ataupun... penyelarasan baru," ujar Muhammad Mudassir Qamar, pakar Timur Tengah dan profesor madya di Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, kepada RT India. Ia mencatat upaya pembentukan aliansi semacam itu pernah dilakukan sebelumnya.

Apa yang Melatarbelakangi Kesepakatan Mekkah?

Kesepakatan Mekkah ini dicapai setelah perundingan selama berbulan-bulan dan merupakan pengembangan dari kesepakatan serupa antara Riyadh dan Islamabad tahun lalu, serta didorong oleh hubungan militer yang kian erat antara Islamabad dan Ankara.

Pakta pertahanan Saudi-Pakistan telah memberikan kemampuan penangkalan berbasis nuklir bagi Riyadh di tengah perubahan kalkulasi keamanan negara-negara Teluk akibat dinamika yang melibatkan Iran, Israel, dan AS. Ribuan tentara Pakistan, 16 jet tempur, pesawat nirawak (drone), dan bahkan sistem pertahanan udara buatan China telah ditempatkan di wilayah timur Arab Saudi.

Militer Pakistan telah mengoperasikan drone buatan Turki serta berbagai sistem persenjataan lainnya; beberapa di antaranya bahkan sempat dikerahkan dalam konfrontasi dengan India tahun lalu.

Konflik di Timur Tengah juga telah mengganggu keseimbangan keamanan kawasan, di mana Iran dan milisi proksinya melancarkan serangan tanpa banyak hambatan berarti—meskipun terus-menerus diserang oleh AS—sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara Arab Teluk.

Ankara merasa cemas dengan dukungan AS terhadap milisi Kurdi untuk melawan Iran, yang merupakan salah satu elemen dari rencana awal AS dan Israel untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Islamabad memiliki ambisi untuk menjadi pemain kunci di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah dengan memanfaatkan hubungan baiknya dengan negara-negara Muslim di wilayah tersebut.

Baca juga: Ghalibaf Ejek Diplomasi Sandiwara AS Terkait Perang Iran

Topik Menarik