Iran: Perluasan Persenjataan Nuklir AS Ancaman bagi Seluruh Umat Manusia!
Iran, melalui perwakilannya untuk organisasi internasional di Wina, mengecam keras perluasan persenjataan nuklir Amerika Serikat (AS). Menurut Teheran, tindakan itu menjadi ancaman bagi seluruh umat manusia.
"Dampak menyakitkan dari pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki menjadi pengingat yang sangat jelas akan penderitaan mendalam yang ditimbulkan oleh senjata mengerikan tersebut," tulis Misi Tetap Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Internasional lainnya di Wina, Austria, dalam sebuah unggahan di platform X.
Baca Juga: AS Susun Strategi Senjata Nuklir Baru untuk Potensi Perang Melawan Rusia dan China
"Meningkatnya korban jiwa, kehancuran yang meluas, serta radiasi mematikan yang bahkan berdampak pada generasi yang belum lahir membuktikan bahwa satu-satunya jaminan mutlak untuk mencegah tragedi kelam seperti itu terulang adalah penghapusan total seluruh senjata nuklir sebelum senjata-senjata tersebut menghancurkan kita semua," lanjut pernyataan itu, yang dikutip Mehr News Agency, Jumat (7/8/2026).
"Namun, Amerika Serikat—satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir dan merupakan salah satu negara penyimpan (Depositary) Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT)—terus memperluas dan memodernisasi arsenal senjata nuklirnya sebagai bagian dari 56 tahun ketidakpatuhannya terhadap kewajiban perlucutan senjata nuklir berdasarkan perjanjian tersebut, sehingga membuat seluruh umat manusia terus hidup di bawah ancaman yang berkelanjutan," imbuh pernyataan tersebut.Kecaman Iran sekaligus menjadi ironi bagi AS, yang berdalih perang yang diluncurkan Washington sekarang ini untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Iran sendiri berkali-kali membantah berniat membuat senjata nuklir, dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk kepentingan sipil.Saat ini, diperkirakan terdapat lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir dari berbagai jenis yang disimpan oleh negara-negara pemilik senjata nuklir di seluruh dunia. Dari jumlah itu, AS dan Rusia tetap menjadi pemilik terbesar.
Alih-alih meninggalkan senjata nuklir, Pentagon saat ini justru sedang merancang strategi senjata nuklir baru sebagai persiapan menghadapi potensi perang melawan Rusia dan China. Ini menandai perubahan signifikan dalam taktik militer AS.
Strategi yang diawasi oleh kepala kebijakan Pentagon Elbridge Colby tersebut akan lebih menitikberatkan pada penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek jika terjadi perang regional, alih-alih mengandalkan rudal strategis jarak jauh.
Mengutip laporan dari NBC, Colby dijadwalkan membahas rencana tersebut pada hari Rabu waktu AS dalam sebuah acara militer tertutup di Nebraska saat mengunjungi Komando Strategis AS, yang membawahi pasukan nuklir.
Menurut sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut, strategi ini dirancang untuk menghadapi skenario di mana sekutu AS diserang oleh Rusia atau pun China dalam konflik regional. Seorang pejabat senior Departemen Perang AS mengatakan kepada NBC: "Pandangan kami adalah bahwa kami membutuhkan opsi nuklir yang kredibel." Strategi ini tidak akan membatasi pilihan Presiden Donald Trump. "Melainkan justru memperluas ruang pilihan presiden dengan menyediakan opsi yang realistis dan kredibel, sehingga memperkuat daya tangkal," ujar pejabat tersebut.
Colby telah lama mendukung penggunaan senjata nuklir taktis—yaitu hulu ledak yang lebih kecil dan berjarak jangkau lebih pendek yang dirancang untuk digunakan di medan perang atau terhadap target militer spesifik, bukan untuk menghancurkan seluruh kota.
Dia juga berpendapat bahwa doktrin nuklir AS saat ini kurang kredibel karena terlalu bergantung pada ancaman peluncuran senjata strategis jarak jauh yang mampu memusnahkan seluruh kekuatan nuklir lawan.
Pejabat senior Departemen Perang itu menambahkan: "Jika Anda benar-benar ingin daya tangkal yang diperluas itu kredibel, Anda harus menyediakan kemampuan nuklir bagi pimpinan politik negara yang, menurut akal sehat, memang bisa benar-benar digunakan."
"Jika tidak, Anda hanya menyisakan pilihan-pilihan ekstrem bagi pimpinan kita—pilihan yang tidak akan dianggap kredibel oleh lawan—dan hal itu tidak akan berdampak baik bagi daya tangkal," imbuh dia.


