Politisi Murtad yang Didukung Trump Kalah Pemilihan Pendahuluan, Justru karena Namanya Khas Muslim
Amir Hassan, kandidat anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik untuk Daerah Pemilihan (Distrik) ke-8 Michigan, kalah dalam pemilihan pendahuluan pekan ini. Kekalahan politisi yang didukung Presiden Donald Trump ini diduga karena namanya yang khas Muslim meski dia sudah keluar dari Islam.
Hassan, seorang mantan veteran militer AS, selama kampanyenya menyatakan bahwa dia telah berpindah agama dari Islam ke Kristen. Namun, hal itu tampaknya tidak cukup meyakinkan sebagian pemilih Partai Republik.
Baca Juga: AIPAC akan Kucurkan Lebih Banyak Uang untuk Kandidat Senat Republik dan Kalahkan El-Sayed
Di situs resmi kampanyenya, Hassan, yang merupakan warga Amerika keturunan Afrika, menyatakan: "Saya baru-baru ini meneguhkan kembali komitmennya kepada Kristus, dan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamatnya."
Meski demikian, pencalonannya tetap menuai penolakan dari sebagian kalangan sayap kanan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) pro-Trump.Pada akhir bulan lalu, setelah Trump mengumumkan dukungannya untuk Hassan melalui platform media sosial Truth Social, sejumlah pengguna membalas unggahan tersebut dengan komentar yang menyatakan mereka tidak menginginkan "Muslim" menduduki jabatan publik.Seorang pengguna mempertanyakan loyalitas Hassan kepada Amerika Serikat, sementara pengguna lain mengkritik keputusan Trump dengan mengatakan bahwa presiden "telah kehilangan akal sehatnya" karena memberikan dukungan kepada Hassan. Mereka juga menyebut bahwa sudah "terlalu banyak Muslim" berada di pemerintahan.
Salah satu pengguna Truth Social menulis: "Kalau harus memilih antara pajak dan Islam, saya memilih pajak. Begitu kaum Muslim berkuasa, jika Anda bukan Muslim dan mereka tidak membunuh Anda terlebih dahulu, Anda juga harus membayar pajak khusus untuk bisa tinggal di negara mereka."
Istilah "pajak khusus" tersebut jelas merupakan tuduhan atau stereotip yang merujuk pada "jizyah", yaitu pajak yang secara historis dikenakan dalam beberapa pemerintahan Islam kepada warga non-Muslim.
Dalam unggahannya, Trump menulis: "Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mendukung Amir Hassan, yang mencalonkan diri untuk mewakili masyarakat luar biasa di Distrik Kongres ke-8 Michigan! Amir akan bekerja keras untuk menumbuhkan ekonomi, memangkas pajak dan regulasi, mempromosikan produk BUATAN AMERIKA, memperjuangkan dominasi energi Amerika, menjaga keamanan perbatasan, menghentikan kejahatan migran, memperkuat militer dan para veteran kita, serta membela Amandemen Kedua yang selalu diserang. Amir Hassan mendapat dukungan penuh dan total dari saya untuk menjadi anggota Kongres berikutnya dari Distrik ke-8 Michigan—DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN ANDA!"
Namun Hassan, yang juga merupakan mantan petugas penegak hukum federal dan pernah bertugas di Angkatan Laut AS, kalah dari Thomas J. Smith, seorang pemilik usaha kecil yang justru telah mengundurkan diri dari pencalonan sebulan sebelumnya dan tidak mengeluarkan dana kampanye.Smith memperoleh sekitar 50 suara, sedangkan Hassan hanya meraih 33.
Kekalahan Hassan terjadi meskipun Trump menghadiri kampanye akbar di Michigan yang juga dihadiri Ketua DPR AS Mike Johnson dan Senator Tim Scott dari South Carolina, yang sama-sama menyatakan dukungan kepadanya.
Smith kini akan mengaktifkan kembali kampanyenya untuk menghadapi anggota Kongres dari Partai Demokrat, Kristen McDonald Rivet, yang belakangan menjadi sasaran berbagai serangan Trump di media sosial.
Islamofobia Juga Menimpa Abdul El-Sayed
Retorika bernada Islamofobia juga muncul dalam kampanye Abdul El-Sayed, yang berhasil memenangkan pencalonan Partai Demokrat untuk kursi Senat dari Michigan.El-Sayed, seorang ahli epidemiologi yang lahir dan besar di Michigan dari orang tua keturunan Mesir-Amerika, menang dengan selisih kurang dari 1 atas Haley Stevens, yang sebelumnya pernah bekerja dalam kampanye kepresidenan Hillary Clinton dan Barack Obama.Stevens mendapat dukungan besar dari kelompok lobi pro-Israel; AIPAC, yang menghabiskan sedikitnya USD30 juta untuk iklan kampanyenya.
Selama kampanye, El-Sayed memosisikan diri sebagai pengkritik keras Israel atas operasi militernya di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina. Dia juga menentang bantuan militer AS kepada negara-negara lain, mengkritik badan imigrasi ICE (Immigration and Customs Enforcement), serta mendukung program Medicare for All.
Namun, karena latar belakangnya sebagai Muslim keturunan Mesir, El-Sayed menjadi sasaran gelombang komentar Islamofobia.
Dia dicap sebagai "teroris", "jihadis", dan "radikal", dengan bahasa yang dinilai jelas didorong oleh permusuhan terhadap agama yang dianutnya.
Selain itu, rivalnya dari Partai Republik, Mike Rogers, pada Rabu mengatakan bahwa Michigan "harus diselamatkan" dan menyatakan dirinya telah menghabiskan hidupnya untuk "memburu teroris", yang dipandang sebagai sindiran terhadap El-Sayed.El-Sayed juga menjadi sasaran gambar-gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya bersama anggota DPR AS Ilhan Omar mengenakan rompi berisi bahan peledak dan ikat kepala hijau yang diasosiasikan dengan Hamas.
Partai Republik Michigan menyebut El-Sayed sebagai "simpatisan teroris" setelah kemenangannya dalam pemilihan pendahuluan pekan ini.
Menanggapi serangan tersebut, El-Sayed mengatakan bahwa menyerangnya karena agama dan namanya adalah "satu-satunya cara yang mereka miliki."
"Nama saya bukan penyebab harga bensin naik. Nama saya bukan yang membawa kita ke perang. Nama saya juga bukan alasan mengapa Anda tidak mampu membeli bahan makanan," katanya, seperti dikutip The New Arab, Jumat (7/8/2026).


