Cegah Resistensi Antibiotik, Dosen Unusa Edukasi dan Skrining Urin Warga

Cegah Resistensi Antibiotik, Dosen Unusa Edukasi dan Skrining Urin Warga

Nasional | sindonews | Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:27
share

Kesadaran masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang tepat masih menjadi tantangan di Indonesia. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, menghentikan konsumsi obat sebelum waktunya, hingga menggunakan antibiotik untuk penyakit akibat virus menjadi penyebab utama meningkatnya resistensi antibiotik.

Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, dosen bersama mahasiswa Program Studi D-IV Analis Kesehatan, Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kegiatan ini bertajuk Edukasi Resistensi Antibiotik dan Skrining Urin untuk Meningkatkan Penggunaan Antibiotik Rasional pada Masyarakat Medokan Ayu Surabaya. Baca juga:Penggunaan Antibiotik Tidak Bijak Picu Resistensi, Kemenkes Beri Peringatan Keras

Kegiatan di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya ini diikuti puluhan warga. Mereka antusias memperoleh edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar sekaligus mengikuti pemeriksaan urin sebagai upaya deteksi dini gangguan kesehatan saluran kemih.

Tim pengabdian, Muhammad Taufiq Hidayat dan Ersalina Nidianti menjelaskan resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang perlu dicegah melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat.Masih banyak masyarakat yang menganggap antibiotik dapat digunakan untuk semua jenis penyakit, termasuk influenza atau batuk pilek.

Padahal, antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri dan harus digunakan sesuai resep tenaga kesehatan. ”Edukasi seperti ini penting agar masyarakat memahami penggunaan antibiotik secara rasional sehingga mampu menekan risiko resistensi antibiotik," jelas Ersa, Kamis (6/8/2026).Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan penyuluhan mengenai pengertian antibiotik, penyebab resistensi antibiotik, bahaya penggunaan antibiotik tanpa indikasi medis, pentingnya menghabiskan antibiotik sesuai aturan, serta larangan membeli antibiotik secara bebas tanpa resep dokter. Materi disampaikan secara interaktif melalui media poster, leaflet edukasi, diskusi, dan sesi tanya jawab sehingga peserta lebih mudah memahami informasi yang diberikan.

Selain mendapatkan edukasi, peserta juga mengikuti skrining urin melalui pemeriksaan urin rutin sebagai bagian dari kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG). Kegiatan ini bertujuan membantu masyarakat mendeteksi secara dini kemungkinan adanya gangguan kesehatan, khususnya pada sistem saluran kemih. Apabila ditemukan hasil yang memerlukan tindak lanjut, peserta dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan agar memperoleh penanganan yang tepat.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari penggunaan antibiotik pada anak, waktu yang tepat mengonsumsi antibiotik, hingga kebiasaan menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan kembali ketika sakit. Baca juga:Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit

Menurut Ersa, perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari peningkatan pengetahuan. Edukasi yang sederhana namun berkelanjutan akan membantu masyarakat lebih bijak dalam menggunakan antibiotik sehingga efektivitas antibiotik tetap terjaga di masa mendatang.

"Kami berharap masyarakat tidak lagi melakukan swamedikasi, yaitu menggunakan atau mengonsumsi antibiotik secara mandiri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan. Penggunaan antibiotik yang tepat tidak hanya melindungi kesehatan individu, tetapi juga membantu mencegah resistensi antibiotik sehingga obat tersebut tetap efektif untuk mengobati infeksi di masa mendatang," tambahnya.

Topik Menarik